SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 39 - PERKELAHIAN


__ADS_3

"Ay..."


"Stop." Ayna menaikkan tangannya. "Tolong lupakan semuanya. Kita sudah berakhir. Aku sudah menikah dan bahagia dengan pernikahanku ini. Aku sangat mencintai suamiku." Jelas Ayna.


"Tidak, Ay. Itu tidak mungkin." Arga menggeleng kepala tak terima.


"Bagaimana kamu bisa semudah itu mencintai pria lain? kamu selalu bilang akan mencintaiku sampai mati." Arga masih mengingat janji mereka kala itu.


"Ay, kita menjalin hubungan bukan sebulan 2 bulanan. 5 tahun, Ay. 5 tahun itu waktu yang lama." Arga menumpahkan kekesalannya, tak terima Ayna melupakannya begitu saja.


"Lalu bagaimana denganmu?" Mata Ayna pun menatap tajam Arga. "Jika kau menghargai hubungan 5 tahun itu, seharusnya tidak ada pengkhiatan ini. Seharusnya tidak ada sakit hati."


"Ay, aku..." Arga mulai bingung berkata, bagaimana ia harus meyakinkan Ayna lagi.


"Jadi... kuharap jangan pernah muncul di hadapanku lagi, dengan begitu aku bisa memaafkanmu." Ayna menghembuskan nafasnya pelan. Dadanya kembali terasa sesak.


"Ay, aku khilaf seperti itu juga gara-gara kamu."


Ayna menatap bingung, gara-gara dia? Kenapa Arga malah menyalahkannya.


"Kau yang berselingkuh, Arga. Bukan aku." Tunjuk Ayna pada pria di hadapannya itu.


"Tapi itu juga semua karenamu. Jika kamu bersedia, aku juga tak akan seperti itu ..."


Malam itu Arga menepikan mobil di depan rumah Ayna. Setelah tadi mengajak Ayna makan malam diluar.


"Mas Arga, ayo turun." Ajak Ayna setelah membuka sabuk pengamannya. Ia melihat Arga yang melamun.


"Ay... itu."


"Kenapa, Mas?" Tanya Ayna bingung. Arga seperti ingin mengatakan sesuatu.


"I-itu... bagaimana kalau kita menginap?" Arga pun mengatakan hal yang dari tadi sulit dikatakannya.


"Mas, mau menginap di rumahku?"


"Bukan... kita bisa ke hotel atau tempat lain. Yang hanya ada kita berdua."


Ayna menatap Arga sejenak. "Apaan sih, Mas Arga?" Ayna mencubit gemas pipi Arga. Ia mengerti arah omongan tersebut.


"Ay, kita sudah dewasa. Kita juga sudah bertunangan." Arga menunjukkan cincin tunangan mereka yang terpasang di jari masing-masing.


"Mas Arga, 3 bulan lagi kita akan menikah, lho. Kita akan sah menjadi suami dan istri."


"Ay, apa bedanya sekarang atau nanti? kita juga sudah bertunangan, apa yang kamu takutkan?"


"Mas Arga-"

__ADS_1


"Kalau kamu hamil, aku juga akan tetap menikah denganmu." Sela Arga meyakinkan tunangannya tersebut.


"Mas, 3 bulan lagi kita akan menikah. 5 tahun saja kita sanggup jalani, masa 3 bulan Mas Arga nggak sabaran, sih." Ayna menunjukkan sisi manjanya. Ayna tak mau melakukan se-k sebelum menikah.


"Tapi Ay, aku pasti akan bertanggung jawab sama kamu."


Ayna menggeleng pelan. "Saat aku sudah sah menjadi istrimu, aku akan menyerahkan semuanya."


Wajah Arga cemberut. Hanya masalah waktu saja dan Ayna tetap pada prinsipnya.


"Mas Arga Mas Arga..." Ayna menekan-nekan dagu Arga gemas.


"Iya, Iya. Aku akan menunggu sampai kamu sah menjadi istriku. Saat hari itu tiba, lihat saja aku tak akan mengampunimu."


Ayna mencubit perut Arga, lalu mereka pun tertawa bersama.


"Dan saat itu pula aku tergoda pada teman kamu, Aca." Ucap Arga mengatakan awal mulanya ia jadi melakulan hal seperti itu.


Ayna berdecih, Arga tak dapat menahan nafsunya dan malah menyalahkan dirinya.


"Aku sudah menikah sekarang dan kau juga sudah menikah dengan Aca. Jadi, mari kita jalani kehidupan kita masing-masing." Ayna segera bangkit. Lebih baik ia segera pergi. Bicara lama-lama dengan Arga, hanya akan membuat emosi saja.


"Ay..." Arga ikut bangkit dan meraih tangan Ayna.


"Jauhkan tanganmu dari istriku." Alex datang dan memintir tangan pria itu. Ia tak terima pria lain menyentuh miliknya.


"Oh... jadi kau suaminya?" Decih Arga menghempas tangan Alex. Arga tak mengira jika pria yang pernah diikutinya saat itu benar-benar adalah suami Ayna.


"Jangan pernah muncul di hadapan Ayna lagi." Alex menarik kerah baju Arga. Alex memasang wajah tak senang.


"Apa hakmu? kau itu cuma pelampiasannya. Ayna masih sangat mencintaiku."


Bugh


Alex yang sudah emosi memukul wajah Arga.


"Mas Alex..." Ayna ketakutan melihat Alex dan Arga mulai berkelahi.


Arga tak terima dengan pukulan Alex, ia pun membalasnya. Mereka pun terlibat perkelahian.


Bugh Bagh Bugh Bagh Bugh bugh bugh...


"Ayna itu milikku."


"Dia milikku."


Security yang sedang bertugas melihat perkelahian, mereka pun segera merelai kedua pria dewasa tersebut.

__ADS_1


"Ay, apa karena dia lebih kaya dariku, kau lebih memilihnya? aku tak menyangka ternyata kau perempuan matre." Arga masih mengoceh meski security sudah memegangi tubuhnya.


"Beraninya kau menghina istriku!!" Alex melepaskan pegangan security dan kembali menghajar Arga. Ia kesal mendengar ocehan pria pengecut itu, yang tidak bermoral.


"Mas Alex, sudah Mas." Ayna menarik tubuh Alex dari belakang. Ia takut melihat perkelahian.


Security pun segera membawa Arga pergi dari tempat itu. Meninggalkan Ayna dan Alex.


"Mas Alex, wajahmu itu." Ayna sangat khawatir melihat wajah lebam Alex.


"Sayang... kamu nggak apa, kan?" Alex melihat wajah istrinya yang sudah pucat.


Ayna menggeleng pelan.


###


Sampai rumah Ayna mengobati wajah lebam Alex.


"Mas, kenapa bisa ada di sana?" Tanya Ayna dengan tangan masih mengoleskan krim di luka lebam itu.


"Kamu kenapa bisa di sana?" Tanya Alex kembali. Tadi ia pulang dari kantor dan tak mendapati Ayna di rumah. Ia juga menelepon dan tak di angkat. Karena sangat khawatir Alex mencari Ayna, ia pun bertanya pada security di lobi. Dan mereka melihat Ayna tadi berjalan ke arah super market.


"Aku tadi mau membeli keperluan dapur di super market, Mas. Dan tiba-tiba Arga muncul di sana." Ayna memberitahu.


"Apa yang kalian bicarakan?" Alex tampak penasaran. Ia berusaha bersikap tenang. Padahal hatinya sudah panas.


"Dia meminta maaf. Dia juga ingin kembali padaku, Mas." Jujur Ayna.


"Terus?" Alex masih penasaran, apa tanggapan Ayna.


"Aku menolaknya, Mas. Aku sudah menikah dan bahagia dengan pernikahanku. Tapi dia tak terima, Mas. Mengira jika aku masih punya perasaan padanya." Ucap Ayna dengan wajah sangat kesal.


"Sini-sini sayang." Alex menarik Ayna mendekat padanya. Ia pun memeluk tubuh Ayna erat. Tangannya perlahan mengelus kepala Ayna.


"Sementara ini, kamu mau kita tinggal bersama Mama ya?" Alex tak bisa membiarkan Ayna sendirian di tempat ini. Selama ini Arga pasti sudah memantau mereka.


"Kenapa, Mas?" Tanya Ayna dengan wajah bingung.


"Aku khawatir, saat aku ke kantor orang itu akan datang kemari. Ia bisa saja melakukan hal buruk padamu." Tangan Alex menepuk-nepuk pundak Ayna.


"Di rumah Mama, kamu akan aman. Ada security yang berjaga 24 jam."


Ayna mengangguk menyetujui rencana Alex. Ayna sudah tak mau bertemu dengan Arga lagi. Ia juga takut jika tiba-tiba Arga muncul.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2