SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 38 - KACA YANG PECAH


__ADS_3

"Kenapa anda berada di sini Pak?" Aca kaget saat masuk ke ruangan Arga. Dan bukan suaminya yang berada di dalam.


"Pak Arga mengambil cuti. Jadi saya yang sementara akan menghandle pekerjaan beliau." Jawab pria yang menjabat sebagai wakil Arga tersebut.


"Cu-cuti?" Tanya Aca kaget. Ia tidak tahu jika Arga mengambil cuti.


Pria itu bingung melihat Aca. Mereka pasangan suami istri, tapi istrinya bisa tidak tahu jika suaminya mengambil cuti.


"Berapa lama pak Arga mengambil cuti?" Tanya Aca kemudian.


"2 minggu Bu."


'Apa yang dilakukannya?'


Tanpa mengatakan apapun lagi, Aca segera keluar dari ruangan itu.


Arga pergi dari rumah dan bahkan tidak kembali ke rumah orang tua kandungnya. Sekarang ia mengambil cuti sampai 2 minggu. Apa yang akan dilakukan pria itu?


Apa Arga pergi berlibur?


Aca menghentak-hentakkan highhellsnya ke lantai. Kesal rasanya semakin lama tak bisa menjangkau pria itu.


'Ini pasti gara-gara Ayna lagi!!!'


Apa Arga pergi berlibur?


Jawabannya tidak. Yang dilakukan Arga hanya mengintai target. Ia sengaja mengambil cuti agar bisa 24 jam full mengawasi Ayna. Menunggu saat Ayna keluar dari tempat itu.


Jika ia tidak mengambil cuti, maka pekerjaannya akan terganggu. Dan mungkin bisa-bisa saja ia dipecat. Ayna pasti tak akan mau kembali padanya, jika ia adalah seorang pengangguran.


'Apa dia sudah mengganti nomor ponselnya?' Arga memijat pelipisnya, nomor Ayna sudah tidak aktif lagi.


Arga ingin menerobos masuk ke tempat itu, tapi keamanan di sana begitu ketat. Ingin menyewa satu unit, itu lumayan menguras kantongnya. Jadi Arga memilih untuk menunggu saja.


###


Pagi berganti siang, siang berganti malam. Hari pun berlalu.


Mona yang terus mencari perhatian Alex dan diacuhkan bahkan nomor ponselnya telah diblokir. Ia juga datang ke ruangan Alex untuk memberi makanan dan dicegah security yang menjaga di sana.


Aca yang sehari-hari menunggu kepulangan sang suami yang sudah menghilang. Semenjak pergi dari rumah malam itu, Arga seperti hilang ditelan bumi.

__ADS_1


Dan Arga, pria itu masih setia menunggu Ayna. Ini sudah seminggu dia memantau dan tak pernah melihat Ayna keluar. Pasti suaminya itu mengurung Ayna. Ayna seperti berada di penjara.


Dan bagaimana pasangan itu?


"Mas... sudah cepat pergi ke kantor." Ayna memaksa Alex untuk datang lebih cepat dari biasanya ke kantor.


"Seben-"


"Nanti telat lho. Katanya Mas Alex itu mau cari uang yang banyak untuk keluarga kecil kita nanti." Ucap Ayna manja sambil melirik Alex.


Pria itu pun mengalah, ia menuruti Ayna berangkat lebih cepat. Anggap saja time is money.


Setelah Alex pergi, Ayna bernyanyi kecil menuju dapur. Lalu tak lama membawa nampan berisi minuman dan cemilan ke ruang nonton.


"Oppa..." Ayna menutup mulutnya kagum, saat pria utama dalam drakor memenuhi layar tvnya.


"Ya ampun... dia melihatku, kan?" Ayna mulai geer saat Oppa dalam layar kaca yang tersenyum manis. Membuat meleleh hati adek, bang. Ia merasa pria itu tersenyum padanya.


Setiap hari yang dilakukan Ayna setelah sang suami ke kantor adalah menonton drakor. Wanita itu menonton secara marathon.


Begitu jam Alex akan pulang ke rumah, disitulah Ayna baru mandi dan bersiap menyambut Alex.


'So sweet banget sih endingnya!' Batin Ayna setelah menamatkan satu drakor.


"Aku harus belanja." Ayna melihat tak ada bahan makanan di lemari pendingin itu. Ia harus keluar untuk berbelanja.


Ayna berjalan menuju supermarket yang tak berada jauh dari apartemen. Supermarket itu serba ada. Menjual semua kebutuhan dapur.


"Ay..."


Langkah kaki Ayna terhenti tatkala tangannya ditahan seseorang. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang berani menyentuh tangannya.


"Ay... aku ingin bicara denganmu."


Ayna menatap Arga. Penampilan pria itu sangat semraut. Bahkan kumis dan bulu-bulu di dagu seperti tumbuh subur.


"Aku tidak punya waktu." Ayna menepis kasar tangan Arga yang menyentuhnya.


"Ay... tolong." Arga kembali meraih tangan Ayna. Ia tak akan menyiakan saat ini untuk menjelaskan semuanya.


Tak berapa lama Ayna dan Arga berada di sebuah kafe yang tak jauh dari super market itu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Ayna dengan nada dingin sedingin wajahnya sekarang.


"Aku-aku minta maaf untuk apa yang telah terjadi selama ini."


Arga melihat Ayna yang seperti tak mendengar ucapannya. Wanita itu mengaduk-ngaduk minumannya, bahkan mata Ayna tak mau melihatnya.


"Asal kamu tahu... selama 5 tahun ini aku selalu menjaga perasaanku. Tapi 3 bulan belakangan ini aku khilaf, Ay." Arga menatap Ayna yang masih dengan posisinya.


'Khilaf? menjijikkan!' Ayna meronta kesal dalam hati.


"Tolong maafkan aku, Ay. Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Tolong beri aku kesempatan. Hidup tanpamu, bisa membuatku tidak waras." Arga sangat menyesal dengan perbuatannya.


"Maaf, aku sudah menikah." Ayna tak ingin kembali pada Arga lagi. Apapun ceritanya. Meski saat itu ia tidak menikah dengan Alex, ia juga tak akan sudi kembali pada pria yang telah menorehkan luka di hatinya.


"Ay, jangan begini. Aku bisa melihat kamu tak pernah bahagia dalam pernikahanmu."


Mendengar ucapan Arga, Ayna jadi terpaksa menatap mantannya itu. Yang merasa sok tahu tentang pernikahannya.


"Jangan egois, Ay. Lepaskan pria itu dan mari kita buka lembaran baru. Jangan memaksa hidup dengan pria yang tidak kamu cintai, itu hanya akan menyakitimu."


Ayna terpelongo, Arga bisa mengatakan hal yang begitu menjijikkan.


"Aku berjanji akan membahagiakanmu, Ay. Aku tak akan mengulangi kesalahanku. Tolong beri aku satu kesempatan lagi." Arga memelas dan memohon, agar Ayna tersentuh dan memaafkannya. Ayna masih mencintainya, tapi ego wanita itu saja yang tak mau mengakuinya.


"Hentikan!!!" Ayna meninggikan suaranya. "Apa kau menganggap kesalahan yang telah kau buat, semudah itu bisa termaafkan?"


"Maka dari itu aku minta maaf, Ay. Aku tulus meminta maaf. Bahkan aku mencari tahu dimana kamu tinggal dan menunggu untuk bisa bertemu denganmu. Apa kamu tidak bisa melihatnya, ay? bahwa aku benar-benar menyesal dan ingin kita kembali bersama!" Jelas Arga yang tak mau kalah. Ayna harus tahu, bagaimana perjuangannya selama ini.


Ayna membuang wajahnya, seraya mengusap air mata yang jatuh menetes. Selama ini ia merasa nyaman dan damai tanpa mengingat Arga. Tapi bertemu pria ini, membuatnya kembali mengingat sakit hati dan pengkhianatan.


"Ay... aku tahu hati kamu ibaratkan kaca yang sudah aku pecahkan. Aku akan berusaha kembali menyatukan pecahan kaca-kaca itu, walaupun tak bisa sesempurna awalnya. Aku akan berusaha memperbaikinya." Arga masih meyakinkan Ayna.


Mendengar ocehan Arga, Ayna jadi tertawa kesal. Tawa Ayna membuat Arga bingung.


"Apa kau melupakan sesuatu?" Tanya Ayna dengan tatapan sinis.


"Untuk apa aku masih menyimpan kaca yang pecah???"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2