
Alex mengedarkan pandangannya ke semua tempat di ruangan itu. Ia duduk di sofa dengan Arga yang duduk di depannya.
"Apa Pak Arga, betah bekerja di sini?" Tanya Alex dengan tatapan matanya yang setajam silet.
Arga menatap Alex dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa anda akan mencampakkan saya, sama seperti yang anda lakukan pada Aca dan Mona?"
Mendengar itu Alex tersenyum samar. "Tak ada yang mencampakkan mereka. Kontrak kerja telah ditandatangani, itu keinginan mereka sendiri."
Alex membela diri, semua sesuai prosedur perekrutan karyawan.
"Apa kabar Ayna?" Tanya Arga mengalihkan topik. Ia ingin tahu bagaimana kabar sang mantan.
"Istriku sangat baik dan bahagia." Jawab Alex segera.
"Apa anda yakin?" Tanya Arga menelisik.
Mata Alex menatap tak senang pada pria yang duduk di hadapannya itu.
"Jika dia tidak bahagia, mungkin dia sudah kabur dariku."
Arga mengalihkan pandangannya. Mendengar jawaban Alex malah membuatnya kesal.
"Ayna hanya terpaksa, ia tidak pernah bahagia dengan anda."
Alex meremas tangannya, ucapan Arga sungguh menyebalkan.
"Apa anda melihat wajah terpaksa istriku saat bersamaku?" Tanya Alex dingin.
"Jangan berasumsi menurut pikiran anda sendiri. Ayna sekarang istriku. Bukankah tidak baik jika anda masih mengharapkan istri orang." Alex menggeleng kepala melihat Arga.
"Dia masih mencintaiku dan aku akan mengambil milikku kembali."
"Aku akan melindungi milikku." Jawab alex cepat.
"Apa anda melupakan satu hal? Aku dan Ayna menjalin hubungan selama 5 tahun. Itu bukanlah waktu sebentar."
"Aku peringatkan. Jangan pernah menghampiri istriku lagi, atau aku benar-benar akan menghabisimu." Ancam Alex, lalu bangkit setelah mengatakan itu.
"Hah... Satu yang ingin ku katakan. Ayna sedang mengandung anakku."
Alex menatap raut wajah Arga yang tampak kaget. Lalu Alex segera keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh senyuman.
'Ayna hamil? tidak mungkin?' Arga kaget mendengar kabar itu. Ayna sudah mengandung anak pria itu. Seharusnya Ayna mengandung anaknya.
###
"Mas Alex, mana sih?" Ayna menghubungi ponselnya. Tapi ponsel Alex sedang tidak aktif.
Ayna menatap tempat makan yang berada di atas meja. Tadi ia sengaja memasak dan membawa masakannya ke kantor Alex. Ingin makan siang bersama sang suami. Tapi sampai kantor, Alex tidak ada di ruangannya. Kata sektetarisnya, Alex ada rapat di luar kantor.
Cekrek...
Pintu terbuka, Ayna mendongak untuk melihat siapa yang datang.
"Pak Jo, mana Mas Alex?" Tanya Ayna serius. Jo asisten Alex, pasti tahu pria itu ada di mana.
"Apa pak Alex belum kembali?" Jo malah balik bertanya. Tadi pagi ia memang bersama Alex. Tapi, setelah rapat selesai, pria itu segera pergi begitu saja.
__ADS_1
"Apa kalian tidak bersama?" Wajah Ayna jadi khawatir.
Jo merogoh ponselnya, ia akan menghubungi Alex. Tapi ternyata nomor ponsel pria itu sedang tidak aktif.
"Mungkin ponselnya habis baterai." Ucap Jo mengatakan kemungkinan yang terjadi.
Ayna mengangguk pelan, lalu tak lama ia menatap Jo dengan wajah takut.
"Pak Jo."
"Ke-kenapa?" Tanya Jo gugup.
"Bagaimana kalau Mas Alex diculik? Kita harus lapor polisi."
"Hah?" Jo melihat Ayna bengong. Siapa yang mau menculik pria itu.
"Pak Jo, telepon polisi." Paksa Ayna yang bangkit dan menghampiri Jo.
"Ay, tenanglah. Mas Alexmu bukan anak kecil. Lagian siapa juga orang yang mau menculik pria itu?!" Jo menenangkan Ayna. Ia berusaha menahan senyumannya, melihat wajah cemas Ayna yang sangat menggemaskan.
'Pantas Alex luluh.'
"Hmm..."
Suara deheman itu membuat keduanya menoleh. Di depan pintu berdiri seorang pria memasang wajah dingin.
Glek
Jo menelan salivanya melihat tatapan Alex yang begitu sangat tajam.
"Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya permisi." Jo segera kabur dari ruangan itu. Tatapan mata Alex tak baik buat kelangsungan keuangannya.
"Itu si Jo, ngapain dia di sini?" Tanya Alex ingin tahu. Ayna dan Jo berdua dalam ruangannya, tanpa ada dirinya.
"Tadi aku tanya sama pak Jo, di mana Mas Alex. Dan pak Jo tidak tahu. Memangnya Mas Alex tadi kemana?" Tanya Ayna dengan manja.
"Ta-tadi aku ada urusan sebentar." Jawab Alex gugup. Mana mungkin ia mengatakan menemui mantannya Ayna.
"Kamu... Kenapa tumben kemari?" Alex mengalihkan topik.
"Aku mau makan siang sama Mas. Mas, belum makan, kan?" Tanya Ayna membawa Alex duduk di sofa.
Alex tersenyum bahagia, melihat Ayna menghidangkan masakan yang dibawanya dari rumah.
Masakannya simpel. Ayam goreng, tumis kangkung dengan sambal terasi. Masakan rumahan yang dibuat penuh cinta.
"Ini..." Ayna menyodorkan tempat makan pada Alex.
"Terima kasih, sayang." Alex menkecup kening Ayna cukup lama. Kecupan itu mengisyaratkan begitu Alex sangat menyayangi istrinya itu.
Ayna meletakkan tempat makan di atas meja.
"Terima kasih juga, Mas Alex sayang." Ayna merangkup wajah tampan itu. Ia gantian menkecup kening Alex.
Perasaan Alex jadi berdebar-debar. Selama ini ia yang selalu menkecup kening Ayna, kini ia saat sang istri melakukannya. Membuat Alex tak bisa berkata-kata.
Alex menampik ucapan Arga tentang Ayna yang menikah dengan dirinya, hanya karena terpaksa. Dan dengan pedenya Arga bilang, jika Ayna masih memendam cinta padanya.
Jelas-jelas Ayna sangat mencintai dirinya. Bagi Alex... tak pedulilah, jika awalnya mereka dimulai dengan keterpaksaan. Yang terpenting adalah saat ini.
__ADS_1
"Mas Alex, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Ungkap Ayna bergetar mengucapkan isi hatinya. Mata Ayna menatap lembut pria yang berada di hadapannya.
"Aku mencintaimu, Ayna." Jawab Alex segera, Ia menatap wajah Ayna lalu turun ke bibir kemerahan itu.
"Sayang, cium aku." Pinta Alex memajukan bibirnya.
"Mas, ini di kantor." Ayna menolak permintaan Alex.
"Sebentar saja. Hanya sebuah ciuman singkat."
Ayna menatap Alex aneh. Singkat? Sejak kapan pria itu jika berciuman singkat. Yang ada berkali-kali dengan tangan yang ikut aktif merayap.
"Sayang... Cium." Alex memajukan bibirnya kembali.
"Pejamkan mata, Mas."
"Kenapa pakai pejam-pejam?" Tanya Alex bingung.
"Mau nggak?!"
Alex mengangguk lalu memejamkan matanya.
Dengan senyum Ayna mengambil sendok, lalu mengaduk sambal terasi.
"Mas Alex, ini akan terasa hot."
"Wow... lakukan segera. Aku sudah tidak sabar."
Ayna pun menempelkan sendok itu ke bibir pria yang masih memejamkan mata.
"Sayang, kamu baru makan terasi ya?" Tanya Alex perlahan membuka matanya.
Ayna tertawa puas, melihat ekspresi Alex yang memasang wajah kesal padanya.
Pantas rasa terasi, ternyata ia mencium sendok sambal terasi.
"Mas Alexku sayang, makan dulu ya." Ayna masih tersenyum menyodorkan tempat makan.
Alex menerima, ia terpaksa memakan sambil melirik Ayna kesal.
"Mas Alex..." Ayna memeluk pria yang sedang makan itu.
"Hmm..." Jawab Alex masih kesal.
"Maaf, ya." Ayna tahu tak baik mengerjai suaminya.
"Akan aku maafkan kamu dengan syarat... nanti malam kamu layani aku sampai pagi."
Ayna mendongak dengan wajah kesal. Kini, gantian ia yang kesal. Alex tersenyum sambil mengkedipkan sebelah matanya.
"Mas Alex itu mesum."
"Biarin... harus mesum dulu, baru kamu mende-sah."
"Astaga... Mas Alex!!!" Ayna mencubiti perut suaminya. Ucapan Alex kurang difilter sekarang.
.
.
__ADS_1
.