SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 76 - SEORANG LAGI


__ADS_3

"Apa? keluar negeri?" Tanya Aca kaget dan bingung. Ia sekarang sedang melakukan interview dan ditawarkan bekerja di cabang luar negeri.


"Benar... untuk sekarang penerimaan karyawan, hanya untuk cabang yang berada di luar negeri. Untuk masalah gaji mengikuti aturan negera tersebut.." HRD menjelaskan semua pada Aca secara detil. Gaji, tunjangan, lembur, bonus dan lainnya.


Aca sampai terbengong, menambahkan angka-angka itu dalam kepalanya.


'Kenapa harus keluar negeri sih? gajinya lumayan besar juga, ada tunjangannya. Terima nggak ya? Aku juga lagi nganggur. Tapi... walau di luar negeri, aku tetap karyawan dibawah naungan perusahaan ini, kan.' Aca berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia bingung dengan tawaran kerja yang menggiurkan tersebut.


"Jika anda bersedia menerima tawaran kerja ini, silahkan tanda tangani kontrak kerjanya." HRD menyodorkan kontrak kerja pada Aca.


'Terima nggak ya? Tapi ini kesempatan langka.' Ia meronta kebingungan.


Aca menarik nafas panjang. Ia lalu mengangguk pelan, meyakini pilihan ini adalah pilihan yang terbaik.


Dengan membaca sejenak. Aca pun perlahan menandatangani kontrak tersebut.


Tak lama Aca keluar ruangan setelah penandatanganan kontrak, dengan wajah full senyum. Ia akan di tempatkan di perusahaan cabang di luar negeri dengan gaji yang tinggi, Lalu... Sejenak Aca sudah memikirkan pria-pria bule yang berada di sana.


"Hei... Mon." Aca melihat Mona berada di sana. Ia pun segera menghampiri.


"Kau dipanggil juga?" Tanya Aca.


"Apa kau ditawarkan bekerja, untuk penempatan di cabang luar negeri?" Tanya Mona serius. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil setelah melihat Mona.


"Iya, kenapa?" Tanya Aca, wajahnya masih senang.


Mona menghembuskan nafas panjang. Ia jadi mengerti sekarang. Ini semua sudah direncanakan. Ia dan Aca sengaja di tempatkan di luar negeri, agar menjauh dari kehidupan Alex dan Ayna.


'Alex!!!' Aca menyesali keputusannya tadi. Diiming-imingi gaji, tunjangan yang besar dan segala perintilannya. Membuat ia jadi menerima kontrak tersebut. Dan menandatangani tanpa memikirkan ada maksud lain dibalik semua ini.


"Ini sudah direncanakan." Ucap Mona meremas tangannya.


"Maksudmu? Rencana apa?" Tanya Aca yang belum mengerti. Tah apa yang dimaksud Mona.

__ADS_1


"Hei... Coba kau pikir, hari ini cuma kita berdua yang mendapat panggilan interview. Dan kita akan di tempatkan di cabang luar negeri. Apa kau tak merasa, jika mereka sengaja mencampakkan kita ke sana?" Mona menatap Aca serius. Alex sudah merencanakan semuanya.


"Apa maksudmu pak Alex sengaja menerima kita, lalu mencampakkan kita agar jauh dari kehidupannya?" Tanya Aca mulai menyadari ucapan Mona.


"Benar. Bagaimana ini kontrak sudah ditandatangani, jika dibatalkan kita harus membayar denda." Ucap Mona pelan. Alex benar-benar ingin dia pergi dari kehidupannya. Tak ada lagi perasaan pria itu padanya.


"Hei... Jangan lemas gitu dong. Hanya 2 tahun. Setelah 2 tahun kita akan kembali lagi kemari. Lihat saja nanti, perasaan mereka pasti mulai pudar. Di saat itu kau masuk di antara mereka." Aca menepuk pundak Mona. Ia sangat meyakini, waktu bisa merubah segalanya. Termasuk perasaan Alex pada Ayna, begitupun sebaliknya. Perasaan Ayna pada Alex.


###


"Bagaimana?" Tanya Alex begitu melihat Jo masuk ke ruangannya. Ia sangat tidak sabar mendengar keputusan 2 wanita itu. Mereka menolak atau menerimanya?


Jo menatap Alex sejenak, lalu menyerahkan sebuah map.


"Ini kontrak kerja yang telah mereka berdua tandatangi." Ucap Jo.


Alex melihat kontrak kerja tersebut, lalu tersenyum pada tandatangan di atas materai tersebut.


Kontrak kerja itu sudah sah secara hukum yang berlaku. Jika dibatalkan mereka berdua harus membayar denda yang cukup besar.


"Baiklah. Tapi..." Jo merasa Alex sedikit keterlaluan. Kenapa meski di cabang luar negeri, masih banyak cabang dalam negeri.


"Kenapa? Kau takut mereka kenapa-kenapa di luar negeri? Mereka itu sudah besar ,Jo. Sudah dapat menjaga dirinya sendiri. Lagian mereka juga bisa pulang setahun sekali." Jelas Alex sambil melebarkan senyumannya.


2 wanita penganggu, telah ia campakkan jauh dari kehidupannya dan Ayna. Tinggal 1 orang lagi. Masa lalu Ayna yang harus segera dibasmi.


Saat ini memang orang itu tak bisa bertemu dengan Ayna. Tapi Alex takut, jika di suatu hari mereka kembali bertemu. Bukan karena takut Ayna akan berpaling darinya dan lebih memilih Arga. Tetapi Alex tak mau, Ayna kembali mengingat kesedihan dan sakit hatinya lagi.


Belum lagi, jika Arga mempunyai niat yang buruk pada Ayna. Alex ingat dengan jelas, bagaimana Arga yang mengawasi keberadaan mereka. Pria itu kadang muncul seperti hantu.


Alex sangat tahu, Arga akan melakukan semua cara untuk kembali pada istrinya itu.


Bagi Alex, menjauhkan masa lalu adalah hal yang terbaik. Pria itu berencana akan mencampakkan Arga ke tempat yang lebih jauh dari Mona dan Aca.

__ADS_1


Alex akan menjauhkan semua hal yang menganggu pernikahannya.


###


Arga tersenyum samar saat memasuki pintu apartemen. Setelah menjual rumah yang pernah ditinggali olehnya dan Aca. Kini Arga menyewa sebuah unit apartemen. Ya, Ia menyewa di apartemen yang sama dengan Ayna dan suami dadakannya itu berada.


'Aku pasti akan merebutmu kembali, Ay.' Arga membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit atap.


Arga yakin, dengan ia menyewa di apartemen yang sama dengan Ayna. Ia bisa lebih leluasa mencari keberadaan Ayna.


Sebelumnya ia pernah mengikuti gerak-gerik Alex. Arga dapat menyamakan jadwal dengan pria itu. Kapan suami Ayna pergi dan pulang dari kantor. Lalu ia bisa mengikuti diam-diam.


Dan saat ia sudah tahu di mana Unit Ayna tinggal. Ia akan menemui Ayna di saat suaminya itu berangkat ke kantor. Jadi tak ada yang bisa mengganggu rencana dirinya.


Arga tersenyum sinis, pada apa yang sudah direncanakannya.


'Ayna... Kau akan menjadi milikku seutuhnya.' Suara tawa pun memenuhi ruangan itu.


Pagi itu, Arga memulai pengintaiannya. Ia keluar lebih cepat dan segera menuju parkiran.


Arga melihat sekitar, ia mencari-cari di mana mobil Alex terparkir. Tapi sepanjang mata memandang, ia tak melihat mobil tersebut.


Arga pun memilih menunggu di dalam mobil saja. Ia melihat dengan fokus, para penghuni apartemen yang berkeluaran untuk berangkat ke kantor.


'Di mana dia?'


Arga melihat jam tangan. Ini sudah waktunya jam bekerja. Tapi ia tak melihat pria itu. Padahal biasanya pria itu berangkat setengah jam sebelum jam kantor.


Arga segera melajukan mobilnya menuju kantor. Ia sudah terlambat bekerja, lantaran menunggu suami dadakan mantannya itu, yang tak nampak batang hidungnya.


'Hari ini aku harus cepat pulang. Aku harus sudah kembali sebelum jam 4.' Arga sudah merencanakan akan membuat alasan agar bisa pulang lebih cepat dari kantornya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2