SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 88 - AYNA JOROK


__ADS_3

"Jo... Kenapa lama? Di mana posisi mereka sekarang?" Alex memijat pelipisnya. Ia sangat tidak tenang saat ini. Arga bisa melakukan apapun pada istrinya. Pria itu sangat menginginkan Ayna kembali dalam pelukannya.


'Ay... Seharusnya aku tak menurutimu.' Alex jadi menyesal menuruti rengekan sang istri. Dan membiarkan Ayna tanpa pengawal. Padahal Arga masih memata-matai mereka.


"Mereka menemukan posisinya sekarang, Pak." Ucap Jo memberitahu Alex, orang suruhannya sudah mendapatkan jejak keberadaan Arga.


"Di mana?" Tanya Alex.


"Pantai."


"Arga... Aku akan menghabisimu." Alex meremas tangan sambil berjalan cepat keluar kantor. Ia akan segera ke pantai.


Saat dalam perjalanan, Alex melihat supir yang mengemudi terasa begitu lambat. Padahal ini dalam keadaan genting.


"Berhenti." Pinta Alex tak sabaran.


Jo menyuruh supir untuk berhenti. Ia bingung melihat Alex turun dan berjalan ke pintu pengemudi.


"Turun. Biar aku yang mengemudi.." Alex pun mengambil alih mengemudi.


Jo melafalkan banyak doa meminta keselamatan, melihat Alex mengemudikan mobil di ambang batas. Seperti menaiki kereta cepat.


"Lex, tenanglah." Jo membujuk, agar Alex menurunkan kecepatan laju mobil tersebut.


"Bagaimana aku bisa tenang? istriku diculik. Ayna dalam bahaya." Alex makin menambah kecepatannya. Ia sangat takut terjadi hal yang tak diinginkan pada istrinya.


"A-aku yakin pria itu tidak akan melukai Ayna. Bukankah ia mantan pengantinnya?"


Jo menenangkan emosi sang teman. Ia tahu Alex sangat khawatir. Tapi jika Alex begini, bisa membahayakan nyawa mereka juga.


"Aku nggak mau kehilangan Ayna." Tegas Alex. Menyalip-nyalip melewati kenderaan lain.


Jo memegangi dadanya, ia berusaha tenang. Meski sepertinya jantungnya kini terasa sudah copot.


Tak lama mereka sampai di pantai. Alex segera turun diikuti Jo yang sudah berwajah pucat.


"Di mana istriku?" Tanya Alex pada orang-orang suruhannya.


"Maaf, Pak. Kami sudah menyisir seluruh area di tempat ini. Tapi tak menemukan keberadaan istri anda." Jelas salah seorang memberi laporan.


"Apa?" Alex tak terima. "Untuk apa aku membayar kalian, jika mencari istriku saja tidak bisa." Pria itu pun melampiaskan kemarahannya.


"Lex, tenanglah."


Jo mengisyaratkan orang-orang itu untuk kembali melakukan pencarian.


"Ayna... Kamu di mana sayang?" Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya sangat tidak tenang sekarang.

__ADS_1


###


Arga menatap wajah Ayna dalam. Wanita itu masih memejamkan mata.


Arga membawa Ayna ke sebuah hotel di luar kota. Rencananya ia akan menginap semalam. Dan besok pagi-pagi sekali, ia akan kembali membawa Ayna pergi jauh.


Ya... Pergi sejauh mungkin. Jauh dari keluarganya dan keluarga Ayna. Dan yang lebih penting jauh dari pria yang bernama Alex.


Arga menatap makan malam yang telah diantar pihak hotel. Ia ingin membangunkan Ayna, wanitanya pasti lapar. Mengingat Ayna pasti dari tadi siang belum makan.


"Ay... Bangun. Makan dulu, kamu belum makan dari siang, kan." Arga menepuk pelan pipi Ayna.


"Mas Alex..." Ayna tersentak dan memanggil nama Alex.


"Jangan bahas pria itu lagi. Cepat kamu makan." Arga muak, Alex lagi Alex lagi yang selalu dikatakan Ayna. Seperti tak ada nama lain saja.


"Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku bisa berada di sini?" Ayna menatap ruangan itu. Ia berada di kamar dengan Arga.


Ayna melihat pakaiannya. Takut jika Arga telah melakukan sesuatu padanya. Ia bersyukur masih memakai pakaiannya, Arga tak melakukan sesuatu yang buruk padanya.


"Ay, makanlah." Arga menyodorkan piring makan.


Ayna mencampakkannya. "Aku tidak mau. Mas Alex Mas Alex... Tolong aku..."


Piring itu berpecahan di lantai. Arga jadi kesal, niat baiknya di tolak wanita itu mentah-mentah.


Ayna bangkit dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu. Arga yang melihat itu langsung menangkap sang mantan.


"Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu harus menjadi milikku, apapun ceritanya." Arga mengangkat Ayna kembali ke tempat tidur.


"Lepaskan aku. Aku sudah menikah."


"Aku tak peduli, Ay."


Arga mengambil tali dan mengikat tangan dan kaki Ayna.


"Lepaskan aku..." Ucap Ayna sambil menangis.


Arga tak mempedulikan suara tangisannya. Meski Ayna terus memberontak, Arga tetap dapat mengikatnya.


"Arga apa yang kau mau? Aku mohon lepaskan aku." Lirih Ayna berkata.


"Aku cuma mau kamu. Tenanglah, Ay. Jika kamu nurut sedikit. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu." Jelas Arga sejenak. Ayna harus tahu, hanya wanita itu yang dicintainya.


"Aku sudah menikah. Aku sudah tidak mencintaimu. Mas Alex tolong aku... Mas Alex..." Ayna terus memanggil suaminya, membuat Arga makin murka.


"Ay, sebaiknya kamu diam." Arga jadi melakban mulut Ayna. Membuat wanita itu tak bisa berucap lagi.

__ADS_1


Ayna berusaha melepaskan ikatan tangan dan kaki. Serta mulutnya yang terlakban. Arga benar-benar kejam padanya.


"Ay, jika saat itu kita menikah. Mungkin kamu sedang mengandung anakku sekarang." Arga mengisap rokoknya. Lalu menghembuskan asap ke arah Ayna.


"Apa kamu ingat saat-saat kita bersama. Aku bahagia bersamamu. Kamu seperti penyemangatku."


Ayna masih mencoba melepaskan ikatannya. Ia tak peduli nostalgia pria itu.


"Sudah jangan membuat dirimu lelah. Jika kamu bisa melepaskan tali itu, ingat aku ada di sini. Aku akan mengikatmu kembali." Tawa Arga, merasa perbuatan Ayna sia-sia.


Ayna menatap Arga tajam.


"Ayna Ayna... Kenapa kamu bersikeras dengan pria itu? Apa karena fisiknya, harta, atau kedudukannya. Yang aku tahu Aynaku tidak seperti itu. Kembalilah menjadi Ayna yang dulu."


Arga tertawa, Ayna menjawabnya tapi terdengar seperti dumelan. Mulut wanita itu kan masih dilakban.


"Ay, kamu makin cantik." Arga menunjukkan seringai, membuat Ayna bergidik ngeri.


Ayna mengarahkan tangan yang diikat ke kepala Arga. Memukul kepala pria itu biar sadar.


"Ayna..." Arga jadi kesal, Ayna masih bisa membalasnya, padahal ia sudah menyuruh untuk tenang. Ia pun mematikan rokok dan naik ke tempat tidur.


Ayna mencoba mundur. Ia sangat ketakutan sekarang.


"Ay..." Arga mengusap lembut wajah Ayna. Wanita itu menggelengkan kepala. Tak sudi wajahnya di sentuh tangan itu.


"Aku tidak boleh membuang waktu. Mari kita selesaikan sekarang. Aku harus membuatmu menjadi milikku. Hanya milikku." Arga membuka pakaiannya. Ia kini bertelanjang dada.


Ayna kembali berusaha melepas ikatannya. Melihat Arga sekarang, Ayna sangat takut. Mantannya itu seperti akan melakukan pelecehan terhadapnya.


Arga kesulitan menyentuh tubuh Ayna. Saat akan mendekat, wanita itu masih bisa menendang bahkan memukulnya. Padahal kaki dan tangannya masih terikat.


Dan melihat tatapan mata tajam, mungkin Ayna sedang memakinya di balik lakban itu.


Ayna mencoba membuka lakban di mulutnya, dengan bahunya.


"Kamu mau bicara?" Arga merasa kasihan melihat Ayna yang kesusahan seperti itu.


"Kamu mau bicara apa, Ay?" Arga melepas lakban di mulut Ayna. Begitu lakban dilepas,


Byur...


Arga disemprot muntahan Ayna yang menyembur wajahnya.


"Ayna... Jorok!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2