SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 91- KONDISI AYNA


__ADS_3

'Ay, cepatlah sadar.' Alex menggenggam tangan sang istri yang masih terbaring lemah. Tangan yang makin kurus.


Sudah satu malam berlalu. Ayna masih belum sadarkan diri. Tah sudah berapa banyak cairan botol infus yang masuk ke tubuhnya.


Alex benar-benar sangat sedih dan tidak tega melihat istri tercinta seperti ini.


"Alex, makanlah dulu." Ucap Bunda pada menantunya. Semalaman Alex hanya duduk di samping ranjang Ayna. Menunggu Ayna sadarkan diri.


"Nanti saja, Bun. Tunggu Ayna bangun, baru Alex makan. Kami akan makan sama-sama." Alex tak berselera makan, karena melihat kondisi Ayna saat ini.


"Ganti sana pakaianmu. Mama sudah bawakan itu." Mama memaksa menarik Alex. Putranya itu masih memakai pakaian kantor yang semalam.


"Nanti saja, Ma." Alex terlalu berat menjauh dari Ayna. Saat ini ia hanya ingin berada di sisinya saja.


"Alex, pakaian kamu itu jorok tahu. Banyak kumannya. Ayna sedang sakit, nanti dia bisa-"


"Baiklah, Ma." Walau dengan malas, Alex pun bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ayna sedang sakit, jadi ia tak boleh membawa virus.


Setelah Alex membersihkan diri, pria itu kembali duduk di samping ranjang. Menunggu Ayna sadarkan diri.


"Alex... Kamu makan dulu. Kenapa malah duduk di sana?" Mama menggeleng melihat Alex kembali menemani sang istri.


"Nanti saja, Ma. Mana bisa aku makan, melihat istriku seperti ini."


Ayna saja belum makan, bagaimana ia bisa makan.


Mama menghembuskan nafas kasar. "Alex... Kamu harus segera makan, biar kamu bisa jagai Ayna. Nanti saat Ayna sadar, terus kamunya yang sakit. Apa kamu tega, membiarkan Ayna yang masih sakit merawat kamu?" Mama mengomel panjang. Putranya itu meski diingatkan.


Alex melihat kesal ke arah Mamanya. Tapi... Walau bagaimana pun apa yang Mama katakan benar. Ia harus tetap sehat, agar bisa menjaga Ayna. Jika ia sakit, akan menyulitkan istrinya.


"Nih, makanlah dulu." Bunda menyodorkan piring berisi makanan.


"Terima kasih, Bun." Alex menerima makanan lalu bangkit dan duduk di sofa. Ia makan sambil matanya mengawasi Ayna.


Mama dan Bunda mengelap tubuh Ayna dengan handuk basah. Mereka juga mengganti pakaian Ayna.


Tak lama Mama dan Bunda pamit pulang.


"Mama pulang, mau ambil pakaian kalian di rumah." Ucap Mama.


Alex mengangguk pelan.


"Sudah jangan sedih. Sudah mau jadi ayah-ayah pun. Malu sama anakmu, punya bapak hatinya hello kitty." Mama meledek putranya yang berwajah sedih itu.


"Mama..." Alex jadi kesal. Wajarkan jika sedih karena istri yang sakit.

__ADS_1


Mama pun memeluk sang putra erat. "Ayna... Pasti sembuh."


"Bunda juga pulang. Nanti jika Ayna sudah sadar, beritahu Bunda ya."


"Baik, Bun." Alex mengangguk dan menyalami mertuanya.


Mama dan Bunda pun keluar dari kamar VVIP itu. Bunda terkejut melihat beberapa pria berpakaian hitam menjaga di depan pintu kamar itu.


Alex makin mengetatkan pengawasannya. Kejadian ini memberinya pelajaran. Ia tak mau hal seperti ini terjadi lagi.


"Bu, biar saya antar pulang saja." Tawar Mama.


"Nggak usah, Bu. Saya naik taksi saja." Tolak Bunda segan.


"Sudah nggak apa. Saya juga sekalian jalan." Mama pun menarik lengan Bunda, untuk mengikutinya ke parkiran.


Bunda merasa masih segan. Besannya itu terlalu baik. Mereka juga memperlakukan putrinya seperti putri mereka sendiri.


###


"Sayang, kamu nggak capek apa tidur terus?" Alex mengumam membenarkan selimut Ayna. Istrinya itu masih saja terpejam. Tah sampai kapan Ayna akan sadar. Apa ia begitu sangat kecapekan?


"Ay, bangun dong. Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanmu?"


Alex lalu melihat ke arah perut Ayna yang masih rata. Dokter bilang di dalam perut istrinya sudah ada kehidupan.


"Halo... Anak Papa. Apa kabar kamu?" Alex menyapa anaknya.


"Apa anak Papa lapar? Sabar ya, sayang. Nanti kalau Mamamu sudah sadar, Papa pasti akan memberikanmu makanan yang sehat dan bergizi." Alex berbicara dengan perut Ayna. Berharap anak yang masih sebesar kecambah itu bisa mendengarkannya.


"Mamamu sekarang masih sakit, jadi kamu jangan nakal ya sayang di dalam sana. Kita berdoa sama-sama, biar Mama cepat sadar dan sembuh."


Alex mengusap air mata yang menetes. Melihat kondisi Ayna, ingin rasanya ia saja yang menggantikan Ayna terbaring di sana.


###


Plak... Plak...


Arga terdiam mendapat tamparan yang melayang di wajahnya. Tamparan dari Mamanya.


Mama datang menjenguk dirinya yang sudah dua hari berada di dalam sel.


"Arga... Mama nggak pernah menyangka kamu bisa seperti ini." Wanita yang sempat menjadi calon mertua Ayna, kecewa dengan sikap anaknya.


"Sudah Mama katakan. Jangan ganggu Ayna lagi, jangan mengganggu kehidupan dia lagi Arga."

__ADS_1


"Aku tak mengganggunya, aku menyelamatkan Ayna, Ma. Aku menyelamatkan Ayna dari pria penikung itu." Arga masih yakin dengan pemikirannya. Yang mengatakan pernikahan Ayna terpaksa dan Ayna tidak bahagia menikah terpaksa.


Mama tak habis pikir. Arga berpikiran seperti itu.


"Ayna sudah menikah, Arga..." Pekik sang Mama. Anaknya tak ada mengerti-mengertinya.


"Dia terpaksa, Ma. Begitu keluar dari sel. Aku akan merebut Ayna kembali. Aku akan mengambil milikku lagi." Arga tersenyum mengatakan itu.


Melihat itu, Mama bergidik ngeri. Putranya terlalu terobsesi.


"Jangan cari masalah lagi Arga."


Sebenarnya Mama sedih, melihat Arga yang mendekam di jeruji besi.


Suami Ayna melaporkan Arga dengan kasus berlapis. Yang membuat hukuman anaknya semakin berat. Arga akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat panjang.


"Seharusnya kamu intropeksi diri. Apa kamu tidak merasa bersalah? Ayna belum sadarkan diri sampai sekarang."


Sudah 2 hari Ayna masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri sampai saat ini.


"Apa Ayna sudah mati?"


"Arga..." Bentak Mama. Pertanyaan apa itu.


"Jika Ayna mati, bukankah lebih baik, Ma. Aku atau penikung itu, tak ada yang mendapatkan cintanya." Jawab Arga santai. Sifatnya yang tak mau kalah dari Alex, membuatnya jadi berpikir sempit seperti itu.


"Sadarlah Arga, sadarlah. Sudahlah, mungkin berada di sini, akan membuat kamu sadar atas kesalahanmu."


Mama pun memilih pergi meninggalkan putranya.


Tadinya Mama begitu sedih melihat Arga berada di dalam penjara. Wanita paruh baya itu juga berencana akan memohon pada suaminya Ayna, untuk memaafkan dan membebaskan putranya.


Tapi melihat sang putra yang masih terobsesi sekali, Mama jadi mengurungkan niatnya. Jika bebas, Arga akan terus mencari Ayna dan bisa saja melakukan hal yang membahayakan. Ini saja, Mama sudah merasa sedih saat mendengar Ayna, yang sampai sekarang belum sadarkan diri.


'Arga... Mama harap kamu bisa sadar atas perbuatan kamu.'


Mamanya Arga mengikhlaskan putranya di hukum sesuai kesalahannya. Agar bisa menjadi pembelajaran dalam memperbaiki diri.


.


.


.


Gonikan Arga!!! 😤

__ADS_1


__ADS_2