SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 94 - CUCU LAKI-LAKI


__ADS_3

Mata Alex sangat berbinar memegang foto USG. Wajah tampan itu tampak begitu senang, melihat calon anaknya yang ternyata adalah laki-laki.


Tadi Ayna baru saja mengecek kandungan. Sebagai suami siaga, Alex pun menemani ke dokter kandungan. Pria itu ingin tahu perkembangan janin dalam perut Ayna. Dan pastinya Alex juga sangat penasaran dengan jenis kelaminnya.


"Anak lanang anak lanang..." Alex bersenandung mengusap-usap foto USG itu. "Kesayangan Papa, sehat-sehat ya, Nak. Nanti kalau kamu sudah lahir, kita main bola, bersepeda, main layangan, terus kamu mau kita nonton balapan?"


Alex sudah membayangkan akan melakukan semua itu, dengan putra kecilnya nanti.


"Atau kamu mau menonton konser kpop, Nak?" Tanya Alex sambil melirik Ayna yang bibirnya itu sudah maju beberapa senti.


Selama ini ia tahu, sang istri sering menghabiskan waktu untuk menonton drakor. Bukan hanya drama bahkan istrinya itu juga ngefans dengan idol kpop. Tiap pagi selalu memutar lagu kpop tersebut.


"Mas, ayo pulang." Ajak Ayna segera. Ia ingin beristirahat, dari pada meladeni tingkah absurd Alex.


Tah sudah berapa lama ia di dalam mobil ini, mendengarkan Alex.


"Baiklah, ayo kita pulang." Alex segera menyimpan foto Usgnya.


"Nak, kita pulang ya." Alex mengelus perut yang mulai membesar itu. Lalu mengkecupnya sesaat.


Setelah itu Alex menatap wajah istrinya yang penuh senyuman itu. Ia pun menyosor bibir manis di hadapannya.


Ayna ikut membalas pagutan sang suami. Walaupun sering kesal pada Alex, tapi suaminya ini sangat pandai membuat dirinya kembali tersenyum.


"Mas Alex..." Pekik wanita itu menahan dada suaminya.


"Kenapa?" Tanya Alex bingung.


"Itu, tangannya!!!" Ayna kembali kesal, ia pun menunjuk dengan bibirnya.


"Maaf, sayang. Habis kenyal-kenyal." Pria itu perlahan menjauhkan tangannya dari dada sang istri.


"Makin besar dan bulat sekarang..." Alex pun menggoda Ayna.


"Mas Alex!!!" Ayna memukul pria itu dengan tasnya. "Aku pulang naik taksi saja."


"Baiklah-baiklah, sayang. Ayo kita meluncur." Alex segera memasang sabuknya dan menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil pun melaju keluar dari area rumah sakit.


Alex tersenyum-senyum selama perjalanan. Dalam beberapa bulan ke depan, ia akan menjadi orang tua dengan segala tanggung jawabnya.


Alex membawa mobil dengan kecepatan yang begitu sangat lambat.


"Mas, kok lambat sih mengemudinya?" Ayna merasa Alex melajukan mobil seperti jalan siput.


"Aku nggak mau kita ngebut-ngebut, sayang. Aku takut anak kita akan pusing, terus mabuk kenderaan. Nanti kamu juga yang susah."


Ayna terbengong mendengar alasan sang suami. Ia lalu memilih memejamkan mata. Terserah suaminya saja. Kan dia supirnya.


###


"Papa... Mama... Lagi ngapain, nih?" Tanya Alex berbasa-basi, ia pun ikut mendudukkan diri bersama kedua orang tuanya, yang sedang menonton tv.

__ADS_1


"Nggak kamu lihat, Tuh!!!" Mama menunjuk ke arah tv dengan bibirnya.


"Kami lagi nonton, bukan lagi makan."


Alex menghembuskan nafas pelan. Salah lagi, padahal dia hanya berbasa-basi.


"Aku mau menunjukkan sesuatu pada kalian." Alex menyodorkan sesuatu. Ia akan menyampaikan kabar bahagia.


"I-ini cucu kami?" Mama jadi terharu melihat foto USG yang diberikan Alex.


"Iya. Putraku sangat tampan, seperti papanya." Ucap Alex bangga.


Mama mencibir.


"Halo... Cucu Opa dan Oma..." Mama menyapa.


"Halo... Cucu Opa." Papa juga ikut menyapa.


"Kita harus mempersiapkan dari sekarang, apa saja yang dibutuhkan cucuku." Papa tiba-tiba sangat antusias. Ini adalah cucu pertamanya. Ia harus memberikan yang terbaik.


"Benar, Pa. Bulan depan, kami mau mencicil membelikan pakaiannya." Alex berencana akan memilih kebutuhan sang baby bersama Ayna. Sebelum perut Ayna bertambah besar.


"Ma, kamar di sebelah kamar Alex. Aku akan menyuruh mereka mengosongkannya. Lalu kita dekor untuk kamar cucu kita." Papa sudah merencanakan mendekor kamar untuk cucunya.


"Dekornya harus bagus dan juga nyaman, Pa." Mama ikut menimpali.


"Nanti setelah itu kita taruh tempat tidurnya, lemari, mainannya juga."


"Benar Pa. Gantungan yang bunyi-bunyi itu." Alex menambahkan, ia tak tahu tah apa nama benda itu.


"Ayunan juga, Pa."


"Becak-becakan, sepeda..."


Mama menepuk jidat. Papa dan Alex berniat mengisi kamar bayi itu dengan apa yang mereka pikirkan.


"Hei...kalian kira kamar cucuku gudang." Kok Mama jadi kesal ya. Bayi kecil itu sudah dibelikan barang yang belum dibutuhkannya.


"Semua akan dibutuhkannya, Ma. Benar kan, Lex?" Papa mencari pendukung.


"Benar, Pa." Alex mendukung dengan semangat.


"Hei... Hei... Apa kalian kira begitu lahir, bayi itu akan langsung mengendarai sepeda?"


Kedua bapak dan anak itu kompak menggeleng.


"Kita berikan apa yang dibutuhkan cucu kita saat ini. Main bola, naik sepeda, itu akan ada waktunya nanti.." Jelas Mama.


"Baik, ndoro." Jawab mereka kompak. Mama sudah merepet.


"Kalian berdua jangan berisik. Ayna baru tidur, kalian bisa mengangetkan cucuku."

__ADS_1


###


Di suatu tempat, di belahan bumi lain.


"Mau kemana, kau?" Tanya Mona melihat Aca sibuk mendempul wajah.


Selama berada di luar negeri, ia tinggal bersama wanita itu. Selain sebagai teman, bisa mengirit sewa bulanan juga.


"Kencan." Jawab Aca. "Kau mau ikut?"


Mona menggeleng. "Nggak."


"Kau masih mengharapkan pria bernama Alex itu?" Tanya Aca dengan wajah mencibir.


Mona diam saja.


"Hei... Apa kau tak update kabar terbaru? Ayna sudah hamil-"


"Apa???" Potong Mona kaget.


"Kau benar-benar tidak tahu." Aca menggeleng melihat kekagetan Mona.


"Apa lagi yang mau kau harapkan?"


"Lebih baik kau diam, Ca!" Mona mulai kesal. Ia tak menyangka seperti ini.


"Mona-Mona... Mereka itu sudah menikah. Cepat atau lambat anak itu pasti hadir di antara mereka. Dan kehadiran anak membuat ikatan mereka makin dalam." Jelas Aca perlahan.


"Apa kau pernah dengar, ada pasangan suami istri yang batal bercerai karena anak. Pasangan itu tak jadi bercerai karena memikirkan bagaimana perkembangan anak nantinya."


Aca melihat Mona yang masih diam saja.


"Mon, aku sarankan kau lupakan si Alex-Alex itu. Jika kau terus mengharapkannya, bukankah membuang banyak waktu? Katakanlah jika pria itu pun bercerai dari Ayna, belum tentu dia mau nerima kamu." Aca menyadarkan Mona.


Aca sudah mulai nyaman tinggal di negara itu. Ia mulai kembali menata kehidupannya. Memperbaiki kesalahan karena dulu pernah memaksa masuk dalam kehidupan Arga, berharap pria itu akan mencintainya. Tapi semua hancur berantakan. Jika ia terus berada di posisi itu, ia tak akan bisa menikmati kehidupan ini.


"Lebih baik kau tata kembali hidupmu." Saran Aca akhirnya.


Mona menatap Aca dengan ekspresi tajam.


"Tunggu... Aku mau mandi." Ucap Mona akhirnya. Ia pun bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi.


"Gitu dong. Tipe priamu seperti apa? Aku bisa mencarikanmu satu."


"Diam kau!!!"


"Gebetanku banyak temannya yang lain. Aku akan suruh dia ajak temannya yang tampan dari lahir." Aca dengan semangat menelepon gebetannya.


"Terserahlah..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2