
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA !!!
\=\=\=\=\=\=
"Ca... terima kasih buat makanannya. Sering-sering saja ya, traktir aku." Ledek Ayna yang telah mendapat cipratan gaji pertama Aca.
"Gampang itu, Ay. Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Karena kau sudah membantuku. Hingga aku diterima di perusahaan itu." Ucap Aca, bagaimana pun Ayna yang memberikan infomasi lowongan kerja tersebut.
"Ay, itu bebebmu datang." Ucap Aca melihat Arga di pintu masuk kafe.
Ayna tersenyum senang, sambil melambaikan tangan ke arah pria itu.
Aca menganggukkan kepala pada Arga. Sebagai tanda hormat.
"Kenapa kamu memakai baju seperti ini." Arga melepas jaketnya dan menutupi tubuh Ayna.
Ayna memakai baju berlengan pendek yang cukup ketat. Banyak mata yang tertangkap basah kedua mata Arga, melirik sang kekasih.
"Tadi keburu-buru." Alasan Ayna.
"Lain kali jangan berpakaian seperti ini lagi. Aku nggak suka."
Ayna menganggukkan kepala mendengar ucapan Arga.
Aca terdiam melihat interaksi Arga. Pria itu begitu perhatian pada Ayna. Rasanya Ayna begitu beruntung, menjalin kasih dengan Arga. Walau irit bicara, tapi pria itu cepat tanggap dan begitu perhatian.
Detik, menit, jam bahkan hari pun berlalu cepat. Sebelum bekerja Arga selalu bertanya pada sekretarisnya.
"Apa kamu sudah sarapan?"
Itu yang selalu ditanyakan Arga sebelum memulai pekerjaan. Ia tak ingin pekerjaannya terganggu dan membuat Ayna menunggu lama saat jam pulang kerja. Bahkan menunggunya saat lembur.
Arga beranggapan seperti itu, tapi Aca malah beranggapan lain.
Setiap pagi ditanya seperti itu membuatnya baper. Aca jadi sering berdebar-debar saat di dekat Arga.
Bahkan Aca merasa tidak senang saat melihat Arga bersama Ayna. Ia mulai menyukai atasannya itu.
Ada perasaan ingin memiliki Arga seutuhnya.
Aca pun mulai berdandan agak tebal, dengan lipstik merah menggoda. Ia ingin mengalihkan pandangan Arga pada Ayna.
Sebelum masuk ke ruangan itu, Aca bercermin lebih dahulu. Memperhatikan penampilannya sejenak.
Tak lama Aca keluar ruangan dengan wajah kecewa. Ia sudah berdandan agar dilihat Arga, tapi pria itu sekilas melirik pun enggan.
Hari berikutnya, sebelum masuk ruangan itu. Ia sengaja menaikkan rok kerjanya. Yang tadinya selutut, jadi setengah pahanya terpampang jelas.
Aca keluar dengan wajah mengulum senyum. Pria itu sedikit meliriknya. Setidaknya usahanya sedikit berhasil.
Aca melihat kanan kiri sambil menurunkan roknya. Jangan sampai ada yang melihatnya. Jika ia berencana menggoda Arga. Pria yang sudah bertunangan.
Hari berikutnya, Aca tak menaikkan roknya. Ia sengaja melepas beberapa kancing kemejanya. Memperlihatkan tonjolan itu.
'Apa dia berniat menggodaku?' Arga diberi pemandangan pergunungan saat Aca menunduk.
__ADS_1
Pria itu menyadari beberapa hari ini Aca sedikit berbeda pada penampilannya.
###
Ayna menghembuskan nafas berkali-kali saat memasuki kamarnya. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang.
Permintaan Arga tadi membuat pikiran Ayna jadi bercabang.
Arga meminta untuk melakukan se-k sebelum pernikahan. Ayna menolak karena ia ingin melakukannya, disaat mereka sudah sah menjadi suami istri.
Meski begitu, otak Ayna jadi berkelana. Ia sempat berpikir berada dibawah kungkungan pria itu. Dan mereka melakukan hal itu penuh gairah.
"Astaga... apa yang kupikirkan? sadarlah, Ay. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Itu boleh dipikirkan dan dilakukan saat kalian sudah menikah." Ayna bermonolog pelan, meyakinkan prinsipnya. Ia tak boleh terpedaya dengan naf-su sesaat.
Sementara di sebuah kamar, Arga diam memandangi langit-langit ruangan.
'Apa bedanya sekarang atau nanti? kenapa waktu terlalu lama berputar.' Teriak Arga dalam hatinya.
Hari berikutnya, Arga masuk ke ruangannya dan Aca dari belakang mengekorinya.
"Pak Arga, ini harus segera anda tanda tangani." Aca akan menyerahkan berkas itu, tapi kakinya terpeletok dan akan jatuh di lantai. Untung Arga segera menagkapnya.
"Ma-maafkan saya, Pak." Aca akan bangkit tapi tangan Arga masih menahan tubuh Aca.
"Apa kamu sengaja menggodaku?" Tanya Arga.
"Apa pak Arga merasa tergoda?" Tanya Aca dengan nada menggoda. Sudah kadung ketahuan, lanjutkan saja. Aca pun menatap Arga dalam.
Tak lama Aca duduk di atas meja kerja, dengan pria itu di hadapannya.
Tok
Tok
Tok
Keduanya berhenti dan membenarkan penampilan mereka.
Saat wakil manajer masuk, Aca pun bergegas segera keluar.
Di meja kerjanya, Aca menutup wajahnya. Mengingat ciuman yang beberapa saat yang lalu ia lakukan dengan Arga.
Saat sore tiba...
"Mas Arga..." Panggil Ayna saat melihat sang kekasih melamun.
"Hah iya." Ucap Arga segera melajukan mobilnya.
'Ini tak boleh berlanjut, aku tak boleh mengkhianati Ayna.' Arga meruntuki perbuatannya tadi dengan Aca.
"Mas, hati-hati di jalan." Ayna akan keluar dari mobil tapi ditahan Arga.
Ayna merasa aneh, ciuman Arga terasa begitu kasar. Bahkan tangan pria itu akan menyentuh tubuhnya. Ayna memegangi tangan Arga.
"Mas..." Ayna juga mendorong dada Arga pelan, ia tak suka Arga seperti itu.
__ADS_1
"Ma-maaf." Ucap Arga. "Aku hampir khilaf."
Arga menggenggam tangan Ayna, ia pun kembali meresap bibir itu. Selama menjalin kasih, Ayna hanya mengizinkan untuk menyentuh wajahnya saja. Tangan Arga tak diperbolehkan berkelana.
###
Aca baru selesai mandi, ia melihat ponselnya yang berdering.
Wanita itu segera meraih melihat nama penelepon. Ia menghembuskan nafas sebelum menjawab.
"Halo... ada apa Pak?"
"Kamu di mana?"
"Di rumah."
"Di mana rumah kamu?"
"Di apartemen Grand Indah."
Seketika hening sejenak.
"Boleh saya ke sana? ada berkas yang harus diselesaikan."
Tak lama Aca tampak sibuk membersihkan apartemennya. Arga akan datang ke tempat itu.
Setelah membersihkan, Aca masuk ke kamar. Mencari baju yang cocok di pakainya. Ia pun memilih pakaian kerja, karena katanya pria itu datang untuk membahas pekerjaan.
Aca berlari ke depan pintu saat bel berbunyi.
"Silahkan masuk, Pak." Ucap Aca mempersilahkan. Aca kecewa, Arga membawa laptop dan beberapa berkas. Apa Arga datang benar-benar untuk bekerja? ia mengira pria itu hanya membuat-buat alasan.
"Ok... maaf mengganggu waktumu. Ini harus diselesaikan segera, karena besok akan dibahas saat meting." Ucap Arga setelah mereka menyelesaikan pekerjaan itu. Ia menatap wajah yang kecewa tersebut.
"Iya, pak" Jawab Aca dalam tunduknya.
Kepala Aca terangkat, Arga segera mensosor bibir itu. Aca cukup kaget, sejak kapan Arga sudah duduk di sampingnya.
Aca tak mau banyak berpikir, ia pun membalas setiap luma-tan itu.
Tangan Arga membuka kancing kemeja Aca, lalu merayapi 2 tonjolan itu. Arga bukan hanya menyentuh, bahkan Aca diam saja saat bibir Arga meresapi kedua tonjolan itu.
Aca memeluk kepala Arga, menikmati perasaan yang menjalar dalam hatinya.
"Ma-maafkan aku." Arga menjauh dari Aca. Ia terburu hawa naf-sunya.
"Aku harus pergi sekarang." Arga pun segera keluar dari apartemen Aca.
Aca tersenyum lebar. Mereka sudah meningkat lumayan jauh. Aca yakin Arga akan jatuh ke dalam pelukannya.
'Pak Arga, kau harus menjadi milikku. Hanya milikku.'
.
.
__ADS_1
.