
Jo dan Dafa yang sedang menunggu saling melirik-lirik di ruang tamu. Mereka datang ke rumah Alex, karena ingin merayakan hari ulang tahun, seperti tahun-tahun yang lalu.
Mereka selalu merayakan hari ulang tahun, setiap dari mereka ada yang berulang tahun.
"Seharusnya besok saja kita kemari, hari ini dia pasti merayakan dengan istrinya." Bisik Jo pada Dafa, mengingat ini ulang tahun pertama Alex bersama istrinya.
"Sudah beda hari, besok sudah lewat ulang tahunnya." Ucap Dafa masih tetap santai.
Jo hanya menghembuskan nafas panjang. Sudah setengah jam lebih mereka menunggu, tapi orang yang ditunggu belum kunjung muncul.
Kata Mamanya, Alex sedang di kamar dengan sang istri. Pasti mereka sedang melakukan sesuatu yang membuat suasana terasa bangkit.
"Ayo kita pulang saja." Ajak Jo yang sudah malas menunggu.
"Ada apa kalian kemari?" Tiba-tiba Alex datang.
"Selamat ulang tahun bro." Dafa langsung bangkit dan memeluk temannya itu, lalu diikuti Jo.
"Kalian masih ingat?" Tanya Alex meledek.
"Masih dong, masa kami lupa saat pertambahan usiamu menjadi tua." Ledek Dafa melebarkan senyumnya. Wajah Alex berubah kecut mendengar omongan Dafa.
"Kami nggak bawa kue. Cuma martabak. Karena katanya adik ipar suka martabak." Jo menyodorkan bungkusan martabak.
Alex mendengus. Dafa dan Jo datang ke rumah, sudah dipastikan mereka akan menggoda istrinya itu di depan kedua matanya.
"Adik ipar mana, Lex? Jangan-jangan tepar ya kau smackdown." Dafa menaikkan alisnya, membuat Jo jadi tertawa melihat tampang Alex yang kesal.
"Bang Dafa, pak Jo. Apa kabar?" Ayna datang menghampiri ke ruang tamu.
Mata Alex menatap sang istri. Pakaian Ayna tertutup, tak ada bagian menonjol yang bisa terlihat.
"Kami selalu sehat. Apalagi ketemu kamu makin sehat plus semangat." Dafa mulai menggombal.
"Katanya kamu suka martabak. Ini kami belikan martabak spesial." Jo meraih bungkusan dan memberikannya pada Ayna.
"Te-terima kasih, buat makanannya." Jawab Ayna cepat. "Aku ambilkan minum dulu."
Dafa dan Jo mengangguk, mata mereka masih melihat kepergian Ayna. Berbeda dengan Alex yang menatap keduanya sinis.
"Semakin kulihat, Ayna makin cantik ya. Lex, kira-kira kapan kalian bercerai?" Tanya Dafa dengan mata masih melihat istri temannya itu.
Jo menoleh ke samping mendengar itu. Mereka hanya becanda untuk meledek Alex saja. Tapi Dafa malah terlihat serius. Apa pria itu berencana jadi pebinor.
"Apa pertanyaanmu itu?" Alex yang geram melempar bantal sofa pada Dafa. Tapi Dafa menghindar dan malah mengenai Jo.
__ADS_1
"Alex..." Jo meremas bantal tersebut.
"Haha... Aku cuma becanda lho. Tapi kalau kalian sempat bercerai, aku akan segera ngejar adik ipar-"
"Tutup mulutmu." Alex pun bangkit dan memiting leher Dafa. Temannya itu meski diberi pelajaran.
Dafa terkekeh-kekeh melihat wajah merah padam Alex. Sepertinya pria itu benar-benar kesal.
Tak lama Ayna datang membawa martabak dan minuman ke ruang tamu. Ia menyajikan di atas meja.
"Kamu tidur saja duluan. Aku nunggui orang 2 ini pulang." Alex menyuruh Ayna segera pergi. Tak mau Ayna terlalu lama dengan kedua pria penggombal ini.
Ayna pamit pada keduanya. Meski Dafa dan Jo kecewa, mereka tak bisa meledek istrinya Alex lagi.
"Jo, soal sekretaris baru itu." Ucap Alex mengingat sekretaris barunya.
"Oh, Bu Emi. Kenapa dia?" Tanya Jo serius. Masih hari pertama, apa sekretaris itu membuat kesalahan.
"Emi? Cantik? Seksi?" Dafa menyambung cepat.
"Pindahkan dia ke bagian lain. Rekrut sekretaris pria saja." Alex merasa risih.
"Kenapa? Apa dia menggodamu?" Tanya Dafa memicingkan mata.
"Aku tak yakin." Dafa masih menatap.
"Sudahlah, Jo segera kau ganti sekretaris itu. Jika besok masih dia, kau yang akan ku ganti." Ancam Alex.
"Iya... Iya." Jo menurut saja.
"Sabar ya, Jo. Kau kumpulkan saja uang, selama bekerja dengan pria itu. Setelah terkumpul setinggi gunung, tinggalkan saja dia." Dafa menepuk-nepuk pundak Jo.
"Menunggu setinggi gunung, sampai tua aku akan terus bekerja di sana." Jo melihat Dafa dengan wajah sedih.
"Supaya nggak sampai tua. Kau korupsi saja dari sekarang. Bulan depan sebelum ketahuan, kau harus resign." Saran Dafa memberi jalan singkat menjadi kaya.
"Benar juga saranmu, Daf." Jo jadi tersenyum.
Alex terbengong melihat keduanya. "Aku masih di sini, lho. Bisa-bisanya kau berencana korupsi di depanku."
"Justru lebih baik mengatakan di depanmu. Jadi aku sudah izin akan padamu lebih dahulu." Jawab Jo melebarkan senyumannya.
"Lihat saja jika kau korupsi, aku akan mengkulitimu hidup-hidup." Ancam Alex dengan serius. Ia sangat mempercayai Jo. Awas saja sampai Jo, mengikuti saran sesat Dafa yang tak bermoral itu.
"Kalau kau mengkuliti Jo hidup-hidup. Wow... Terpampanglah itunya." Dafa menutup mulutnya dengan ekspresi seolah terkejut.
__ADS_1
"Dicuci ortakmu, Daf." Jo mendengus sambil menokok kepala Dafa dengan sendok.
Mereka saling melihat sejenak, lalu tertawa. Dan mereka mulai mengobrol panjang, dari hal yang sangat serius hingga yang mulai absurd.
###
Alex menganggukkan kepala, saat Jo membawa sekretaris baru yang seorang pria padanya. Ia tak peduli mau dipindahkan ke mana wanita, sekretaris baru itu. Yang penting tak terlihat di matanya.
Pria itu bersiap-siap. Ia akan ada rapat di luar kantor. Ia pun keluar kantor diiringi Jo dan sekretaris barunya.
"Alex..." Panggil seorang wanita begitu melihat Alex berada di lobi. Wanita itu segera berjalan menghampiri.
"Alex, aku..." Ucap Mona memelaskan wajahnya.
"Saya tidak punya urusan dengan anda." Ucap Alex datar. Pria itu segera berlalu pergi.
Jo hanya menepuk bahu Mona pelan. "Lupakanlah."
Beberapa hari telah berlalu, Alex selalu saja kesal. Pasalnya setiap hari ada saja yang datang menemuinya.
Siapa lagi jika bukan Aca dan Mona yang setia menunggunya di lobi ataupun di parkiran kantor.
Alex benar-benar risih dengan kelakuan keduanya. Mereka meminta agar bisa diterima di perusahaan itu. Tapi ucapan bahkan gestur tubuh mereka mengatakan hal yang berbeda.
Alex merasa jika keduanya punya maksud lain. Dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Ia harus membuat rencana.
'Aku harus mencampakkan mereka segera.'
Alex menelepon Jo.
"Jo, aku mengirimkan data pelamar. Segera terima dan kirimkan mereka keluar negeri."
Sesudah mengatakan maksudnya, Alex memutuskan panggilannya. Sebenarnya Alex tak habis pikir dengan kedua wanita itu. Ada banyak perusahaan menyebar di negara ini, kenapa mereka begitu menginginkan bekerja di perusahaannya.
Tapi Alex juga cukup lega. Mereka tak bisa bertemu Ayna lagi. Jika tidak, mereka pasti terus-terusan memelas pada istrinya. Dan mungkin Ayna akan menurut.
'Apa ku campakkan saja mereka ke daerah kutub?'
.
.
.
Maaf ya para reader terlope lope, slow update🙏
__ADS_1