
Aca kembali masuk kerja, setelah beberapa hari izin.
Ia sudah tidak menjadi sekretaris Arga lagi. Hal itu membuatnya jadi sulit bertemu Arga.
Pria itu setelah mengatakan akan menceraikannya, saat ia masih di rawat di rumah sakit. Sampai sekarang tak pernah mendatanginya lagi. Arga benar-benar tak peduli padanya.
"Bu Aca... disuruh ke ruangan HRD." Ucap salah satu staff memberi tahu.
Aca mengangguk, ia pun segera menuju ruangan itu.
Beberapa saat berlalu, Aca keluar dari ruangan itu dengan wajah kecewa. Ia pun kembali berjalan lemas menuju meja kerjanya.
Aca yang selama beberapa bulan bekerja di sana, tidak diangkat menjadi karyawan tetap. Alasannya karena selama masa training, hasil pekerjaannya dianggap masih jauh dari kriteria yang dicari.
"Kenapa Ca?" Tanya temannya melihat Aca berwajah sedih.
"Aku nggak diterima jadi karyawan." Ucap Aca sedih.
Aca merasa dirinya begitu menyedihkan saat ini. Semua hal yang telah dilakukannya, tak ada yang berjalan sempurna. Arga akan menceraikannya, ia juga kehilangan anak dalam kandungannya dan sekarang ia akan menjadi seorang pengangguran.
"Kurasa ia balas dendam padamu, Ca."
Aca bingung, apa maksud si kawan satu ini. "Balas dendam?"
"Apa kau tahu? perusahaan kita ini telah menjual sahamnya pada Wijaya Grup."
"Terus?" Aca masih bingung.
"Kau nggak tahu?" Tanya temannya memastikan.
"Tahu apa?" Aca malah balik bertanya.
"Ini pemilik dan pemimpin perusahaan itu."
Aca melihat ponsel temannya tersebut. Ia membaca sebuah artikel.
"Alex Putra Wijaya?" Aca makin bingung, sebenarnya temannya ini mau bilang apa sih.
"Kau nggak tahu siapa pria ini?"
Aca menggeleng.
"Dia itu... suami dadakannya Ayna, lho."
Aca terdiam sesaat, mencerna maksud perkataan temannya tersebut.
"Apa???? maksudmu ini suaminya Ayna gitu?" Pekik Aca tak percaya. "Dia..."
Temannya itu mengangguk seakan mengerti apa yang akan Aca katakan.
"Nggak mungkin. Mana mungkin Ayna menikah dengan pria tajir seperti dia." Aca tak percaya. Bagaimana bisa Ayna punya keberuntungan seperti itu.
Suami dadakan Ayna hanya pria dari kalangan bawah. Itu yang Aca yakini selama ini.
"Aku juga shock lho, Ca. Tapi lihatlah, minggu depan mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Seluruh karyawan perusahaan ini diundang." Temannya itu menunjukkan undangan online dari ponselnya.
"Beruntung sekali Ayna. Punya suami kaya raya. Ia sekarang seperti cinderella, pantas saja ia tak menyesal menikah dadakan dengan pria itu."
Mata Aca makin terbelalak. Benar, di samping pria itu ternyata Ayna. Wanita yang sempat ia tikung saat pernikahannya.
__ADS_1
"Tapi, sepertinya Ayna sengaja memaksa suami dadakannya untuk membeli saham perusahaan ini. Agar dia bisa lebih mudah memecat kau dan pak Arga. Mungkin ya." Temannya itu mulai mengkompori Aca, untuk kemungkinan yang akan terjadi.
Aca jadi meremas tangannya mendengar itu. Benar juga, begitu banyak perusahaan lain, kenapa harus perusahaan tempatnya bekerja. Ayna pasti sudah merencanakan sesuatu untuk membalas dendam dan sakit hati padanya.
'Kau telah menghancurkanku, Ay?' Ia sudah kehilangan semua dan semua itu karena Ayna.
Aca hanya tahu menyalahkan orang lain. Tanpa mengintropeksi diri sendiri.
###
Malam itu, Dafa datang ke rumah Alex. Mereka duduk di ruang tamu sambil mengobrol.
"Jadi gimana waktu itu?" Dafa sangat penasaran dengan obat rekomendasinya.
"Pelankan suaramu." Alex memperingatkan. Bukan hanya takut sang istri yang mendengar. Tapi ada Papa, Mama bahkan beberapa pekerja di rumahnya.
"Aku buang."
"Kenapa?"
"Aku takut ada efek sampingnya, jika Ayna yang minum." Jelas Alex segera.
"Ya jelas ada-lah Lex." Dafa serius melihat Alex. "Efeknya jika diminum. Adek ipar akan terus on sampai pagi. Bagus, bukan?"
"Astaga..." Alex menepuk jidatnya. "Bukan itu..."
"Jadi apa?" Tanya Dafa.
"Obatnya itu bisa saja mempengaruhi kehamilan, penyakit hati atau gitulah."
"Mana mungkin. Itu terbuat dari bahan-bahan alami..." Dafa pun menjelaskan kandungan dalam obat tersebut. Begitu sangat fasih dan lancar.
Dafa malah tertawa. "Bukan. Aku hanya merekomendasikan sebagai pria berpengalaman." Dafa menaikkan alisnya.
"Aku sekarang sudah mencoba produk baru. Mantap Lex. Salepnya diolesi di itu, nggak lama langsung bangkit dan siap tempur." Wajah Dafa benar-benar me-sum.
Alex menghembuskan nafas panjang. Pantas saja Jo pernah mengingatkan jangan terlalu mendengar omongan Dafa.
"Nggak usah, Daf." Tolak Alex cepat.
"Bagus lho, Lex. Jadi adik ipar nggak perlu membangunkan itu. Tugasnya sedikit terbantu." Dafa makin semangat menerangkan hal itu.
"Nggak usah pakai begitu. Dinikmati setiap prosesnya." Alex tetap menolak.
"Tu lah kau, diajarin sama suhunya pun. Sini kubisikkan sesuatu." Dafa mendekat ke telinga Alex.
"Adik ipar bisa kecapekan sebelum bertempur. Itu akan membuatnya mengibarkan bendera putih ditengah peperangan." Bisik Dafa.
Alex terdiam dan mulai berpikir sejenak.
"Aku cuma menyarankan lho. Jangan sampai kau mencari kepuasan ke wanita lain. Karena trikmu yang salah, Lex." Bisik Dafa kembali.
"Bang Dafa silahkan diminum." Ayna tiba-tiba datang membawa minuman.
Alex dan Dafa segera menjauh. Alex melihat wajah Ayna, takut jika istrinya mendengar omongan tak berfaedah seorang Dafa.
"Mana pak Jo-nya" Tanya Ayna. Biasa dimana ada Dafa disitu ada Jo.
"Lagi sama pacarnya, Ay." Ucap Dafa meminum air yang diberikan Ayna.
__ADS_1
"Oh iya, kalian sebentar lagi akan menikah. Apa kalian nggak dipungut?" Ledek Dafa.
"Pingit Daf, pingit. Kalau dipungut itu kau." Ucap Alex kesal.
"Iya itu, pingit maksudku." Dafa pun tertawa puas.
"Nggak Bang." Ucap Ayna malu.
"Sudah malam... sepertinya aku harus segera pulang." Ucap Dafa sambil bangkit.
"Abang Dafa pulang dulu ya, Dek. Dari pada nanti diusir sama Mas Alexmu itu." Dafa melirik Alex yang sudah berwajah kesal.
"Hati-hati ya, Bang."
"Iya, Abang akan selalu jaga hati buat adek."
"Cepat pergi!!!" Usir Alex segera. Dafa itu selalu sempat-sempatnya menggoda istrinya itu.
"Besok aku kirim barangnya, Lex." Ucap Dafa sambil berlalu.
"Nggak usah." Tolak Alex.
"Pokoknya kau nggak akan menyesal."
"Barang apa, Mas?" Tanya Ayna jadi penasaran, setelah Dafa pergi.
"I-itu..." Alex mulai berpikir.
"Itu apa?"
"Aku juga nggak tahu, sayang. Dia kan aneh." Alex segera merangkul Ayna. Mereka berjalan menuju kamar.
"Oh iya, Mas. Kita harus melakukan perawatan. Biar wajah kita segar dan kinclong."
Alex mengangguk patuh.
"Sayang, ini sampai kapan?" Tanya Alex. Wajahnya dilumuri masker.
"Tunggu sampai kering, Mas." Ayna mengolesi wajah suaminya itu.
"Ok... kita tunggu sampai 15 menit." Ucap Ayna.
Ayna berbaring di lengan Alex. Perlahan ia mulai memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian, Alex terbangun.
"Sayang, ini wajahku gimana?" Tanya Alex membangunkan Ayna. Bukan 15 menit, ini sudah pukul 3 pagi. Tah berapa lama ia sudah maskeran.
Ayna merenggangkan tangan sambil membuka mata.
Deg
"Han-han-hantu..."
.
.
.
__ADS_1