SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 4 - BABANG TAMPAN


__ADS_3

Alex dan Jo berjalan menuju mobil yang terparkir di basement apartemen tersebut.


Jo berjalan cepat meninggalkan Alex yang masih bersiul-siul.


"Lex, kau yang nyetir." Jo melempar kunci mobilnya, Alex repleks menangkapnya.


"Jo..." Alex merapatkan giginya melihat Jo masuk ke kursi samping pengemudi. Dengan terpaksa ia pun duduk di kursi pengemudi.


"Ayo jalan Lex." Ucap Jo yang tersenyum samar melihat wajah kesal Alex.


"Baik Tuan." Ledek Alex menghidupkan mesin mobil.


Tak berapa lama mobil pun melaju sedang keluar dari area apartemen.


"Apa kita nggak kepagian datang undangan, Jo?" Tanya Alex melihat arlojinya. Ini masih pukul 9 lewat, masih terlalu pagi untuk menghadiri undangan.


"Kan bagus pagi-pagi, Lex. Makanannya jelas masih banyak, terus masih fresh lagi." Jawab Jo sambil tersenyum menaikkan alisnya.


Alex jadi ikut tersenyum mendengarnya. Benar apa yang Jo katakan.


Membahas makanan membuat Alex jadi lapar, ia pun melajukan mobil cukup kencang membelah jalanan di minggu pagi yang cerah itu.


Sekitar menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah komplek perumahan sederhana. Alex melajukan mobilnya lambat mengikuti juru parkir menuju area parkiran pesta.


Setelah memarkirkan mobil, mereka pun berjalan menuju lokasi pesta yang tak jauh dari lokasi parkir. Mereka melewati papan bunga ucapan selamat yang berada di kanan dan kiri jalanan.


"Kau nggak beri papan bunga?" Tanya Alex melihat Jo.


"Untuk apa? amplop saja yang penting."


"Seharusnya kau memberikan papan bunga. Nanti tertulis dari mantan murid SMA." Alex sengaja mengejek Jo.


"Sudah, diamlah Lex."


"Kenapa gurumu nggak sewa gedung saja?" Tanya Alex melihat teratak besar berdiri megah dengan dekorasi yang cukup mewah.


"Mana ku tahu." Jo menaikkan bahunya. Pertanyaan Alex membuat mood Jo jadi kesal. Sementara Alex malah nyengir saja.


Jo celingak celinguk mencari guru SMAnya itu. Tak ada nampak wajah sang guru. Ia juga melihat ke arah pelaminan dan belum ada pengantin yang duduk disana.


"Apa kita kepagian? seharusnya kita datang saat makan siang, bukan datang saat sarapan." Ucap Alex menyenggol lengan Jo. Alex juga menyadari mereka pasti datang kepagian. Resepsi pernikahan ini bahkan belum dimulai.


"Apa kita salah datang undangan?"


"Mana mungkin."


"Kau tanya sana. Mana tahu salah. Kalau benar kita kan bisa langsung makan." Pinta Alex menyuruh Jo bertanya pada salah satu ibu-ibu di sana.

__ADS_1


Jo memutar malas bola matanya, tapi ia tetap menuruti Alex. Bertanya pada salah satu Ibu-ibu itu.


"Permisi Bu. Apa ini benar pesta pernikahan anaknya pak Jaka?" Tanya Jo sopan pada seorang ibu-ibu yang sedang menghidang makanan.


"Benar. Ini pesta putri pak Jaka." Jawab Ibu itu.


"Apa belum dimulai ya Bu?" Tanya Jo memastikan.


"Sepertinya belum. Tamunya pak Jaka?" Tanya Ibu itu.


"Benar Bu, saya murid beliau Bu." Jawab Jo sopan.


"Masuk saja. Pak Jaka ada di dalam." Ibu tersebut menunjuk pintu rumah.


"Baik Bu. Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Jo pun menghampiri Alex. Alex dari tadi matanya tak henti menatap masakan yang tersaji.


"Lex, ayo masuk. Kita temui guruku sebentar." Ajak Jo.


"Kau sajalah Jo. Aku akan tunggu disini saja Jo." Alex seolah enggan mengalihkan pandangannya dari meja hidang.


"Kita salaman sama yang punya hajatan dahulu. Setelah itu baru makan." Bujuk Jo lagi.


"Aku nggak kenal sama yang punya hajatan. Kau sajalah yang masuk sana. Diakan gurumu, Jo." Alex tetap menolak. Hingga akhirnya Jo pun bergerak sendiri.


"Jo, jangan lama-lama. Aku sudah lapar." Alex masih mewanti-wanti Jo agar jangan bernostalgia terlalu lama di dalam.


"Dasar!!! sama makanannya mau." Jo mendumel dan melangkah menuju pintu rumah pak Jaka yang ditunjuk ibu-ibu tadi.


"Kenapa pihak pengantin pria belum datang?"


"Nggak tahu. Tapi katanya calon pengantin prianya sudah menikah dengan wanita lain."


"Apa? Jadi bagaimana itu?"


Alex yang berada tak jauh dari Ibu-ibu menggosip itu, jadi mendengar gosip tersebut. Ia menyayangkan pesta ini jika dibatalkan.


'Ditinggal dihari pernikahan. Kenapa ada pria setega itu?' Batin Alex merasa kasihan. Pasti pengantin wanita itu frustasi lalu berniat bunuh diri.


"Sepertinya pernikahan ini akan dibatalkan."


"Gimana itu? pasti malu pihak keluarga wanita. Mana pestanya sudah semewah ini lagi."


"Kasihan juga ya. Undangan juga sudah disebar. Pasti tamu sebentar lagi akan berdatangan."


"Benar... benar itu. Bagaimana jika tamu datang dan tak ada pengantinnya?"


"Memikirkannya saja sudah membuat malu."

__ADS_1


"Kenapa calon pengantin pria tega membatalkannya tepat dihari pernikahan."


"Kenapa nggak dari jauh-jauh hari saja?"


"Jadi bagaimana calon mempelai wanitanya sekarang?"


"Tadi ia menangis terus. Penampilannya juga sudah sangat berantakan. Menyedihkanlah."


"Kasihan ya. Takutnya stres terus bunuh diri pula."


Alex bangkit dan berpindah agak jauh. Ia pusing mendengar Ibu-ibu menggosip, yang terus sambung menyambung menjadi satu.


'Mananya si Jo ini? kenapa lama. Apa aku makan dulu ya?' Alex ingin segera menikmati hidangan yang tersedia. Perutnya sangat lapar.


Alex bangkit dan berjalan ke arah meja hidang. Ia berdiri di sana melihat Ibu-ibu yang sibuk mengatur makanan di sana.


"Mau makan?" Tanya seorang ibu.


Alex mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa malu, tapi demi kenyaman perutnya ia mengabaikan rasa malunya.


Ibu-ibu itu memberi piring kosong dan dengan senyum mengambang Alex menerima. Ia pun segera mengisi piring kosong tersebut dengan berbagai masakan yang terhidang.


Piring sudah penuh, Alex pun berjalan kembali ke kursinya. Ia makan dengan lahap sambil matanya melihat pintu yang dimasuki Jo.


Jo cukup lama berada di sana. Pasti Jo bernostalgia dengan guru SMAnya itu. Pasti guru SMAnya menanyai Jo murid-murid yang lain.


"Eh ada Babang Tampan."


Alex yang sedang mengunyah makanan melihat ke arah sumber suara.


"Astaga.." Alex kaget minta ampun saat dihampiri pria berpakaian wanita.


"Babang tampan kok undangannya sendiri? Adek temani ya." Pria gemulai itu menyentuh tangan Alex.


Dengan cepat Alex menepisnya. Dekat dengan pria gemulai itu membuat bulu kuduk Alex berdiri.


Alex bangkit dan meletakkan piringnya di kursi. Melihat pria gemulai ini, rasa laparnya mendadak hilang. Ia juga sudah tak lagi berselera makan.


'Mananya Jo?' Alex pun segera menuju pintu rumah yang tadi Jo masuki. Ia akan mengajak Jo pulang.


"Babang tampan mau kemana? sini dong temani adek." Rengek pria gemulai yang tak rela pria tampan itu pergi. Ia sampai menghentak-hentakkan high heel yang dipakainya ke tanah.


Alex mengacuhkannya, pria tampan itu terus melangkah pergi. Ia pun masuk ke rumah itu.


"Babang tampan. Ihh...jadi gemes aku."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2