SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 42 - PERCAYA


__ADS_3

"Be-belum Ma." Jawab Ayna gugup.


"Mamaku sayang, kami ini baru menikah. Apa Mamaku begitu sangat tidak sabaran menimang seorang cucu?" Alex pun mencairkan suasana yang tadi sempat dingin.


Mama menatap Alex tajam. Ia masih ragu.


"Kami tidak melakukan se-k diluar nikah, Mama." Ucap Alex seperti mengerti tatapan tajam itu.


"Kenapa panggilan kalian seperti itu sekarang?" Tanya Mama penuh penekanan.


"Oh itu... Jadi begini Ma. Alex dan Ayna suatu saat nanti akan menjadi orang tua. Jadi kami mulai membiasakan memanggil dengan panggilan Papa dan Mama." Alex melirik Ayna sejenak.


'Kami? bukannya itu maunya sendiri!!!' Batin Ayna mendumel.


"Jadi saat buah hati kami nanti terlahir ke dunia, kami sudah tidak canggung lagi, Ma." Jelas Alex dengan wajah berbinar. Ia sudah membayangkan Ayna dan anak-anak mereka akan memanggilnya Papa Alex.


Ayna menunduk sambil menutup sebelah wajahnya. Suaminya itu memang sesuatulah.


Sementara Mama sudah tidak bisa berkata-kata. Wanita paruh baya itu hanya mampu menggelengkan kepala.


"Ma, kami ke kamar dulu. Mau bereskan koper." Ucap Alex yang diangguki Mama.


"Ayo Mama Ayna, Papa Alex bantu bereskan barang." Alex segera menarik Ayna. Wanita itu hanya menundukkan kepala sejenak pada Mertuanya itu.


Tak berapa lama mereka sampai di kamar. Alex yang sedang berbaring menggoyang-goyangkan kakinya. Matanya tertuju pada sang istri yang sibuk membereskan koper mereka.


"Ma, nanti-nanti saja kan bisa beres-beresnya. Sini bobo temani Papa." Alex menepuk sampingnya.


"Biar rapi, Mas. Besok waktu Mas ke kantor, nggak pusing-pusing lagi cari ini dimana itu dimana." Jelas Ayna.


"Ma, ingat panggil Papa, Pa-pa Papa lho, Ma." Alex menekankan kata Papa. Ayna susah mengatakan hal mudah seperti itu.


"Mas A-lex." Ayna tetap memanggil Alex seperti biasa.


"Mama harus mulai belajar pelan-pelan. Papa saja karena sudah dibiasakan, sekarangkan jadi lancar jaya." Alex melirik Ayna. Wanita itu seperti mengacuhkannya, masih sibuk dengan kopernya.


"Ma..." Panggil Alex.


"Ma." Panggil Alex kembali.


"Ma." Alex mencoba kembali memanggil.


Ayna tak menyahuti.


"Sayang.." Panggilnya.


"Iya, Mas." Ayna menoleh pada Alex yang sudah cemberut.


"Ma, Papa akan buat perhitungan dengan orang itu." Ucap Alex mengalihkan topik.


Ayna berpikir siapa yang Alex maksud dengan orang itu.

__ADS_1


"Mantan Mama itu." Alex memberitahu membuat Ayna mengingatnya.


"Mas, mau apa sama Arga?" Tanya Ayna serius. Ia takut Alex merencanakan sesuatu.


"Papa mengenal pimpinan di tempat orang itu bekerja." Ucap Alex perlahan.


Ayna menaikkan alisnya. Sepertinya benar apa dugaannya.


"Jika orang itu tetap datang menemui Mama dan menganggu pernikahan kita, Papa akan meminta pemimpin perusahaannya memecat orang i-"


"Jangan, Mas." Sela Ayna cepat.


"Kenapa?" Tanya Alex serius.


"I-itu..." Ayna tak mau Alex bertindak seperti itu.


"Itu apa?" Wajah itu penasaran.


"Mas nggak boleh membuat orang lain kehilangan pekerjaan, lho."


"Orang itu terus mengganggu kamu. Aku harus memperingatkannya."


"Mas Alex..." Pekik Ayna.


"Kenapa kamu jadi marah? apa kamu masih memendam rasa pada orang itu?" Alex memicingkan matanya.


"Tidak, Mas." Sanggah Ayna cepat.


"Terus?"


"Dia yang terus menemuimu, sayang." Alex menyadari Arga yang seperti hantu. Muncul dimana-mana.


"Bukankah Mas Alex bilang, rumah ini aman buatku?"


"Ay, dengar. Intinya aku akan membuat orang itu kehilangan pekerjaan. Dengan begitu orang itu akan sadar berurusan dengan siapa!" Alex meninju tangannya ke udara.


"Mas Alex..." Ayna menatap Alex kesal. Tak mau terus berdebat, ia melangkah keluar kamar meninggalkan kopernya begitu saja.


"Ay..." Panggil Alex.


'Apa dia ngambek?.'


###


Mama menyenggol lengan Papa saat makan malam. Wanita paruh baya itu mengkode untuk melihat Alex dan Ayna.


Papa menggeleng, agar Mama tak usah bertanya pada keduanya.


Selama makan malam, baik Alex dan Ayna keduanya tampak menjaga jarak. Bicara pun hanya seperlunya.


"Kalian bertengkar?" Tanya Mama yang geram melihat putra dan menantunya itu. Tadi siang mereka begitu romantis, seolah dunia hanya tinggal mereka berdua. Lah malam ini, keduanya seperti sedang perang dingin.

__ADS_1


"Nggak, Ma." Jawab Alex dan Ayna kompak lalu menatap sebentar.


"Pernikahan kalian baru seumur jagung. Belajar saling memahami dan menerima. Jangan nanti tinggal menyesalnya saja." Nasehat Mama menatap pasangan itu bergantian.


Setelah selesai makan, Alex dan Ayna kembali ke kamar.


Ayna melirik Alex yang masuk ke kamar mandi. Ia pun segera naik ke tempat tidur, menyelimuti diri lalu memejamkan mata. Ingin tidur saja.


Ayna tak mau mengajak Alex bicara duluan, biar saja suaminya itu yang memulai. Lagian Ayna tak setuju dengan niat Alex, karena ia juga sudah malas berhubungan dengan Arga.


Tapi jika Alex membuat Arga kehilangan pekerjaan, Ayna mungkin akan merasa bersalah. Arga sampai ke titik itu juga tidak mudah. Penuh dengan perjuangan.


Alex keluar dari kamar mandi. Ia mendengus melihat Ayna yang sudah berselimut di tempat tidur.


Alex naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya. Sama seperti Ayna ia juga tak ingin mulai bicara.


Pria itu menghembuskan nafas. Ia tak dapat tidur jika tak memeluk guling yang bisa mende-sah. Alex perlahan membuka matanya dan menatap punggung Ayna yang membelakanginya.


Ayna juga tak bisa tidur. Hingga ia membalikkan tubuhnya. Keduanya saling berhadapan dan tampak berpikir dengan pikiran masing-masing.


Mata Alex menjelajah, baju tidur tali satu yang dipakai istrinya, talinya turun. Hingga membuat dataran tinggi itu terpampang jelas.


"Sayang." Ucap Alex lembut.


Ayna segera memunggungi Alex kembali.


"Mau sampai kapan kita bertengkar seperti ini?" Bisik Alex pelan. Tangannya memeluk Ayna dari belakang.


"A-aku nggak mau Mas Alex berbuat seperti itu. Kita tak usah pedulikan Arga lagi. Pikirkan tentang kita, Mas." Itu yang Ayna inginkan.


"Aku takut, Ay. Aku takut orang itu terus menemui kamu. Dan perasaan kamu perlahan luluh pada orang itu." Alex takut jika istrinya CLBK dengan Arga dan memilih meninggalkan dirinya.


Ayna membalikkan badannya, menatap mata Alex dalam-dalam. "Apa Mas ragu jika aku mencintaimu?"


Alex terdiam. Merasa bersalah tak percaya pada Ayna. Bukankah dalam menjalani sebuah hubungan, harus ada rasa percaya. Apalagi hubungan mereka sekarang adalah pernikahan.


Alex menghembus nafas kasar, selama ini ia juga sudah melihat langsung sikap tidak suka istrinya pada orang itu.


"Sayang, katakan sekali lagi." Alex akan melupakan itu. Apa yang dia takutkan, jika istrinya ini masih berada di sampingnya.


"Mama mencintai Papa."


Deg


Hati Alex berdebar, ia pun tersenyum bahagia. "Gitu dong, Ma. Harus dibiasakan panggilannya." Tangannya terulur mengelus kepala Ayna.


"Ogah, Mas." Ledek Ayna menjulurkan lidah. Ia sengaja hanya ingin menggoda Alex.


"Bandal ya, Mama." Alex mentoel hidung Ayna. Lalu keduanya tertawa bersama.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2