SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 92 - AYNA SUDAH SADAR


__ADS_3

"Mas Alex..." Ayna tiba-tiba tersadar.


"Sayang..."


"Mas Alex..." Mata Ayna berair melihat sang suami. Ia bermimpi buruk, gara-gara perkataan Arga, yang mengatakan Alex sudah mati.


"Iya, aku di sini." Alex bernafas lega, Ayna akhirnya sadar juga.


"Ini beneran Mas Alex, kan?" Ayna merangkup wajah suami tampannya. Mentoel-toel serta mencubit pipinya.


"Benar... Ini Mas Alexku." Ayna memeluk mas Alexnya erat.


"Mas, kenapa aku di rumah sakit?"


Alex membantu Ayna untuk duduk. Wanita itu pusing berbaring terus.


"Kondisi kamu sangat lemah."


Ayna menatap sendu mata Alex. Hatinya begitu lega, melihat Alex ada di sisinya. Terakhir ia mengingat masih bersama si Arga.


"Mas, bagaimana aku bisa di sini?"


Alex pun menceritakan semuanya. Mulai dari Ayna yang pingsan di pukul Arga saat di parkiran, sampai Ayna terbaring di rumah sakit.


"Apa Arga akan di penjara?" Tanya Ayna.


Alex mengangguk. "Dia akan dihukum, sesuai dengan perbuatannya." Tegas Alex.


"Sudah, kamu jangan pikirkan. Yang penting kamu sudah selamat darinya. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi."


Alex meraih tubuh Ayna yang masih lemah itu.


"Kamu jangan menangis, sayang." Alex mengusap air mata Ayna, setelah melonggarkan pelukannya.


"Mas Alex, kenapa menangis?" Ayna juga mengusap air mata suaminya.


"Siapa yang menangis? Aku cuma kelilipan, lho." Sanggah Alex cepat. Air mata itu tiba-tiba saja keluar tanpa permisi. Alex cepat-cepat mengusapnya setelah melepaskan pelukannya.


"Sayang, kamu makan ya. Kasihan anak kita kelaparan."


"A-anak kita?" Tanya Ayna bingung.


"Iya, anak kita." Alex menyakinkan.


"Mas... Serius di sini? Anak?" Ayna menyentuh perutnya, memastikan ucapan Alex sesuai dengan apa yang dipikirkannya.


"Iya, kamu sedang hamil anak kita, sayang."


"Mas Alex... A-aku hamil?" Ayna masih tidak percaya.


Alex mengangguk. "Iya, kamu hamil. Adonannya sudah mengembang." Ia mengelus perut Ayna.


"Mas Alex..." Ayna memukul dada suaminya manja. Ada saja perkataan absurd pria itu.


Alex lalu menyatukan jemari tangan mereka. "Sayang, kamu harus segera sembuh. Kita akan bersama merawat anak kita."


Ayna begitu senang, ia kembali memeluk Alex. Ia terharu, ada kehidupan baru di rahimnya.


"Sekarang kamu harus makan. Kita harus memastikan anak kita tumbuh dengan sehat."

__ADS_1


"Mas, suapi aku ya."


Alex mengangguk patuh. Ia tersenyum senang. Akhirnya ia bisa kembali mendengar Ayna bicara manja seperti itu.


Dengan perlahan Alex mulai menyuapi sang istri. Ia juga mengelap jika ada makanan yang menempel di mulut Ayna.


Perhatian kecil Alex membuat hati Ayna bahagia.


"Ayna... Kamu sudah bangun, Nak?" Mama datang dengan Papa. Melihat Ayna sudah sadar, membuatnya lega.


Berbeda dengan pasangan itu, mereka kaget mendengar suara cempereng sang Mama.


Mama menghampiri dan memeluk sang menantu. Membuat Alex yang sedang menyuapi Ayna makan jadi bergeser.


"Mama, sudah masak makanan bergizi untuk kamu dan cucu Mama. Kamu harus makan ini." Mama meletakkan makanan bawaannya di meja.


"Mama akan menyuapimu."


"Alex saja, Ma." Pria itu segera mengambil alih. Tidak membiarkan Mamanya menyuapi istrinya.


"Mama sini saja. Suapi Papa." Ajak Papa yang sudah duduk di sana.


"Sudah tua, Pa. Ingat umur." Mama jadi duduk di samping Papa dengan wajah cemberut. Putranya tak memperbolehkannya menyuapi Ayna.


"Alex... itu sayurnya dikasih juga."


"Alex... Jangan banyak-banyak nyuapinya. Nanti cucu Mama keselek."


"Alex... Ikannya. Itu bagus buat ibu hamil."


"Alex... Kasih minum dong. Kasihan Ayna."


"Alex..."


"Alex..."


Mama terus mewanti-wanti Alex, saat menyuapi Ayna. Sementara Ayna jadi tersenyum melihat wajah kesal sang suami.


###


"Ayna, adik iparku sayang..." Dafa datang menjenguk Ayna. Ia merentangkan tangan akan memeluk Ayna.


"Kau sentuh istriku. Kupatahkan tanganmu." Alex pun mengancam Dafa. Baru juga meninggalkan Ayna sebentar ke kamar mandi, ada saja yang sudah mengganggu istrinya.


Dafa mengerem mendadak. Ia membatalkan niatnya dan berbalik arah.


"Alex... Selamat ya sebentar lagi kau akan jadi seorang ayah. Kuharap anakmu nggak mirip sifatnya denganmu." Dafa akan memeluk Alex.


"Mau apa kau?" Alex menahan Dafa mendekat dengan menutup wajah pria itu pakai tangan.


"Alex, kau baru cebok." Dafa menepis tangan Alex. Temannya itu kan baru kamar mandi.


"Aku baru cuci tangan." Alex menunjukkan tangan kanannya yang tadi menutup wajah Dafa.


"Tadi kulihat pakai tangan kiri." Jo ikut menimpali.


"Kanan, Jo. Jangan jadi provokatorlah." Kok Alex jadi kesal melihat kedua temannya ini datang menjenguk.


Ayna tersenyum melihat ketiganya. Yang selalu saja berdebat jika bertemu.

__ADS_1


"Adik ipar, ini Bang Dafa bawa buah. Ini bagus lho untuk ibu hamil." Dafa mengambil bungkusan yang dipegang Jo, dan memberikan pada Ayna.


"Terima kasih, Bang. Jadi merepotkan." Ayna merasa segan.


"Nggak merepotkan kok." Dafa menggerakkan tangannya. "Oh iya... Anak kamu jantan apa betina?" Tanya Dafa serius.


"Astaga!!!" Alex menepuk jidat. Pertanyaan Dafa buat silap.


"Laki-laki atau perempuan, Daf." Jo membenarkan pertanyaan Dafa.


"Begitu maksudku. Ponakan Om Dafa laki-laki atau perempuan?" Tanya Dafa dengan nada manja. Seolah bertanya langsung pada anak itu.


"Belum tahu, Bang. Masih awal kehamilan, jadi belum terlihat jenis kelaminnya." Jelas Ayna segera.


"Hmm... Semoga anaknya perempuan, ya." Lirik Dafa pada Alex.


Alex menatap Dafa tak senang. Seperti ada maksud dari perkataannya. Mana Dafa sengaja meliriknya lagi.


"Biar... bisa dijodohkan denganku."


Ayna jadi tertawa mendengarnya. Ada saja perkataan teman suaminya itu.


"Tak sudi aku menjodohkanmu dengan putriku." Alex tak terima, Dafa sudah mengincar putrinya, bahkan saat anak itu belum terlahir ke dunia.


"Ayolah, Papa Alex. Apa kau tak mau menjadikan aku menantumu? Kau sudah tahu bagaimana sifatku, bukan. Aku pasti akan menjaga anakmu dengan aman dan nyaman." Dafa merangkul leher pria yang sudah mau menerkamnya itu.


"Kau cari saja wanita yang seusiamu. Jangan ganggu putriku. Berani kau mengganggunya ku campakkan kau ke kutub utara." Dengus Alex makin kesal.


Dafa jadi tertawa terbahak-bahak. Meledek Alex sangat seru. Temannya itu sudah sangat kesal padanya.


"Sudahlah. Mau anak Ayna laki-laki atau perempuan. Yang penting anak dan ibunya sehat." Jo mengalihkan perdebatan kedua orang itu.


"Kalau anaknya perempuan pasti sangat mirip sama Ayna. Jika laki-laki mirip... denganku."


"Jo... Akan ku pecat kau." Alex kesal kedua orang itu sama saja.


Setelah beberapa waktu berlalu, Dafa dan Jo pamit akan pulang. Ayna masih sakit, wanita itu perlu banyak istirahat.


"Adik iparku, cepat sembuh ya."


"Benar, kamu harus cepat sembuh. Kasihan Mas Alexmu, uring-uringan nggak jelas." Dafa masih saja sempat-sempatnya meledek Alex.


"Bang Dafa, Pak Jo... Terima kasih sudah menjengukku."


"Ay... Bisa jangan panggil aku Pak." Jo risih dengan panggilan itu.


"Pak Jo saja lebih cocok. Jadi kalau nanti anak Ayna lahir dia akan memanggilmu-"


"Kakek. Kakek Jo." Alex segera menyela ucapan Dafa.


"Benar, kakek Jo." Dafa setuju ucapan Alex.


Keduanya kini kompak meledek Jo.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2