
"Pagi sayang." Alex memberikan senyuman manis saat Ayna baru membuka mata.
Pagi-pagi mata Ayna sudah disuguhi pemandangan wajah tampan yang mententramkan hati dan jiwanya.
"Aku masih ngantuk, Mas." Ayna menenggelamkan wajahnya di dada pria yang membuatnya nyaman.
"Lanjutlah tidurnya, sayang. Aku tahu kamu capek." Ledek Alex seraya mengelus kepala Ayna.
"Aw..." Alex meringis, Ayna mencubit perutnya. Tangan wanita itu lebih kecil darinya, tapi cubitannya cukup sakit.
Ayna memasang wajah cemberut pada Alex. Ia kurang tidur karena melayani pria ini hingga hampir pagi.
"Lucu banget kamu kalau cemberut gini. Bibirnya kayak bebek." Ledek Alex mencubit gemas pipi Ayna. Lalu ia mendaratkan kecupan di bibir Ayna sejenak.
"Mas, aku ngantuk." Ayna segera menutup matanya. Ia tak mau terlalu menatap Alex. Bisa-bisa ia tak bisa menolak saat Alex menginginkannya kembali. Tubuhnya begitu sangat lelah, ia butuh istirahat.
###
"Ayo Mas, cepat." Ucap Ayna yang tak sabaran bertemu kedua orang tuanya.
Alex segera turun dari mobil. Ia menuju bagasi mobil untuk mengambil buah tangan yang tadi sempat mereka beli di jalan.
"Mas, sini biar aku bawa." Ayna akan membantu.
"Sudah, aku saja." Alex mengeluarkan bungkusan dari bagasi mobil. "Sana, kamu masuk duluan."
Cup
Ayna menkecup pipi Alex dan langsung kabur.
'Kenapa cuma yang kanan? sabar ya pipi kiri, nanti kita tagih.'
"Ayah... Bunda..." Ayna segera berlari memasuki rumah. Ia langsung memeluk kedua paruh baya yang terkejut melihat putri tersayangnya datang.
"Mana suamimu?" Tanya Ayah dengan wajah khawatir. Takut sang putri datang karena ada masalah dengan suami dadakannya itu.
"Lagi turuni barang, Yah." Jawab Ayna masih betah memeluk sang Ayah.
"Kenapa nggak kamu bantui, Nak." Ayah mengelus kepala Ayna dengan sayang.
"Nggak apa yah. Ini mau diletak dimana?" Alex menunjukkan bungkusan yang dibawanya.
"Aduh, kalian ini kenapa repot-repot sih." Bunda pun menerima bawaan Alex.
Ayna membantu Bunda membuat minum. Mata Ayna melirik-lirik Alex yang berada di ruang tamu dengan Ayah. Ingin menguping karena sepertinya obrolan mereka cukup serius.
'Apa Mas Alex dan Ayah sedang membahas aku, ya?'
"Ay, kenapa kamu melamun?" Ucap Bunda menyadarkan Ayna.
"Ma-maaf Bun. Aduh kemanisan ini, bisa diabetes." Ayna terlalu banyak meletakkan gula dalam cangkir teh.
"Nak, apa kamu sudah ngisi?" Tanya Bunda serius.
"Hah..." Sendok yang Ayna pegang mendadak jatuh. Tangannya jadi gemetaran mendengar pertanyaan Bunda. Dengan segera Ayna berjongkok dan mengambil sendok itu.
"Ayna, antar teh ini ke depan ya Bun." Wanita itu segera beranjak pergi. Membawa teh kemanisan itu.
__ADS_1
Sementara Bunda hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Setelah meletakkan teh di atas meja, Ayna ikut duduk di samping Alex. Ia akan mendengarkan apa yang diobrolkan 2 pria ini.
"Ayah setuju kamu resign dari kantor itu." Ayah awalnya sempat khawatir jika Ayna tetap bekerja di kantor yang sama dengan Arga.
"Iya Yah. Mas Alex, menyuruh Ayna resign. Tapi Ayna sudah mengirim lamaran ke kantor tempat Mas Alex bekerja." Jelas Ayna tersenyum lebar.
Alex menoleh dengan tatapan kaget. Ia tak menyangka istrinya itu bergerak cepat.
"Jadi nanti, kalau Ayna diterima. Ayna akan satu kantor dengan Mas Alex."
"Kalau diterima, kamu jangan nyusahi nak Alex di sana." Bunda memperingatkan putrinya.
"Nggaklah Bun. Jabatannya kita beda. Pasti di kantor jarang ketemu. Paling pergi sama pulang kerja yang bisa sama." Jelas Ayna.
"Mas Alex bekerja sebagai manajer di WIJAYA GRUP, lho.." Ayna dengan bangga memberitahu kedua orang tuanya.
"Sayang..." Alex jadi malu pada kedua orang tua Ayna.
"Manajer apa Mas?" Tanya Ayna dengan wajah serius.
Alex bingung akan menjawab apa.
"Keuangan ya Mas?" Ayna kembali memastikan. Dan Alex mengangguk, mengiyakan segera.
Ayah dan Bunda tersenyum. Melihat putrinya tampak bahagia, mereka bisa bernafas lega. Alex pasti memperlakukan putri mereka dengan sangat baik.
###
'Semoga Alex suka masakanku.' Mona membawa bungkusan berisi masakannya yang telah dimasak untuk Alex.
Sekali...
Dua kali...
Tiga kali...
Pintu tidak juga terbuka.
'Apa dia masih tidur?' Mona merogoh ponsel dalam tas, ia akan menghubungi Alex dan mengatakan jika ia sudah berada di depan apartemen pria itu.
Sementara Ayna dan Alex sedang tidur siang menjelang sore di kamar Ayna. Rencananya mereka akan menginap sehari di rumah Ayah dan Bunda.
"Mas... ponselnya bunyi itu." Dengan masih terpejam Ayna membangunkan pria disampingnya.
"Sudah, biarkan saja." Alex menarik Ayna agar makin dekat padanya.
"Angkat dulu, Mas." Ayna pun bangun dan mengambil ponsel Alex di atas nakas.
"Mas, Mona menelepon." Ucap Ayna kembali berbaring di tempat tidur.
"Biarkan saja."
Baik Ayna dan Alex sama-sama masih mengantuk. Mereka masih setengah sadar.
"Jawab Mas Alex, mungkin penting." Ayna menyerahkan ponsel itu.
__ADS_1
"Kamu jawab saja." Mata Alex sulit dibuka.
"Halo..." Jawab Ayna segera.
Tak ada jawaban hanya hening.
"Halo." Ucap Ayna kembali.
Tut... tut... tut...
"Mas, di tutup." Ucap Ayna.
"Salah sambung mungkin. Ayo tidur lagi Ay."
Ayna mengangguk. Mereka kembali mendengkur sambil saling berpelukan.
Sementara di depan pintu apartemen Alex. Mona kaget mendengar suara wanita yang menjawab ponsel Alex.
'siapa dia? apa itu kekasihnya?'
Mona jadi bertanya-tanya, siapa wanita yang menjawab teleponnya? Suara wanita itu baru bangun tidur, apa Alex sedang bersama wanita itu?
Dengan perasaan kesal Mona pun pergi dari apartemen Alex. Ia akan bertanya langsung pada Alex saat masuk kerja besok.
###
Tangan Alex meraba-raba sekitarnya mencari ponsel yang berdering.
"Mana sih?" Gumam Alex yang berat membuka matanya.
"Ini bukan ponselku? sejak kapan ponselku kenyal-kenyal?" Alex pun terpaksa jadi membuka mata. Dan...
'Astaga.' Alex melihat tangannya malah memegang aset kenyal sang istri.
Alex menjauhkan tangannya segera. Ia melihat wajah Ayna yang masih terlelap tenang. Senyum Alex pun mengambang.
Dalam pikirannya ia akan kembali menjamah tubuh Ayna.
Tapi deringan kembali dari ponsel itu, membuat lamunannya ambyar sudah.
"Apa Jo?" Tanya Alex sinis.
"Ayna Renata, ia sudah mengirimkan lamarannya." Ucap Jo dari seberang sana.
"Ok. Lakukan interview besok." Alex memelankan suaranya. Ia tak mau Ayna mendengar pembicaraannya.
Setelah mengatakan rencananya soal Ayna pada Jo. Alex mengecek ponselnya. Matanya terbelalak melihat beberapa panggilan dari Mona. Dan salah satu panggilan itu terjawab.
Alex memutar otaknya, mengumpulkan kembali kesadarannya.
Mona meneleponnya hari ini, kapan ia menjawabnya? Alex tak merasa hari ini ada menjawab telepon dari Mona.
Alex pun melihat Ayna. Ia mulai ingat jika tadi Mona menelepon dan ia yang meminta Ayna menjawabnya.
'Semoga Ayna lupa dan tak bertanya macam-macam nanti."
.
__ADS_1
.
.