
Ayna duduk di tepian ranjang sambil melihat Ayah dan calon suami dadakannya itu. Mereka terlihat berbicara dengan serius.
Karena ini masalah keluarga, Ayah akan merundingkan hanya bersama keluarga inti saja. Semua tempat di rumah itu ramai, hanya kamar pengantin yang tak akan di masuki keluarga atau para tamu.
"Kamu tahu, apa yang dibicarakan anak saya tidak serius." Ucap Ayah memulai pembicaraan. Ayna ingin tetap menikah agar mereka tak menanggung malu. Sebagai Ayah, ia paham anaknya tidak ingin terlihat menyedihkan. Hingga menikah dengan siapapun jadi, asalkan tetap menikah.
"Bagi saya, Ayna serius dalam perkataannya. Saya bersedia menikah dengan putri Bapak." Ucap Alex yang tampak sangat serius, membuat Ayah menatap mata pria itu.
Jo yang berada di sampingnya menatap tak percaya pada apa yang didengar dan dilihatnya. Ekspresi Alex sangat serius dan tak ada keraguan. Sama seperti saat ia mengambil keputusan dalam pekerjaan.
"Tidak bisa. Kalian baru saja bertemu. Bagaimana akan menjalani pernikahan jika tak saling mengenal."
"Saya mengerti dengan kekhawatiran Bapak. Tapi yang saya dengar sebelumnya putri Bapak menjalin hubungan selama 5 tahun dan kita bisa lihat sendiri. Jadi menurut saya, mau lama tidaknya saling mengenal itu bukan masalah." Jelas Alex sambil menatap calon mertuanya.
"Yang penting komitmen keduanya." Alex mengalihkan pandangannya pada Ayna yang juga melihatnya dengan ekspresi sulit diartikan.
"Ayna... apa kamu bersedia menikah denganku?" Tanya Alex kemudian.
Ayna menatap mata pria itu, yang mengisyaratkan keseriusan dan ketulusan.
"Aku bersedia." Jawab Ayna, dengan wajah tersenyum sambil mengangguk pelan.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Hati Alex berdebar melihat senyuman manis Ayna.
"Kalau begitu bawa kemari orang tuamu." Pinta Ayah.
"Maafkan saya. Kedua orang tua saya sedang berada diluar negeri. Mereka akan menerima apapun keputusan saya, karena saya yang akan menjalaninya."
###
"Alex... kurasa kau sudah tidak waras." Ucap Jo saat mereka berada di kamar yang lain. Alex sedang berganti pakaian.
"Tidak waras bagaimana?" Tanya Alex santai melirik sekilas Jo yang berwajah khawatir.
"Apa kau yakin menikah dengannya? bagaimana dengan Mona?"
"Apa kau menyukai wanita itu?" Kini Jo menatap tajam pria itu.
Alex mengangguk. "Aku menyukainya."
Jo terbengong, ia masih tak mengerti Alex. Apa karena sering ditolak Mona, hingga Alex lelah dan memilih menjauh saja.
"Kau mau memberikan mahar berapa?" Tanya Jo mengalihkan topik. Temannya sudah yakin mau menikah, ia akan mendukung Alex.
Alex membuka dompetnya, pria itu mendengus melihat hanya selembar uang merah di dompetnya.
__ADS_1
"Aku mau memberikan maharnya 2." Alex pun memberikan kartu ATM pada Jo.
"2 apa?" Jo kembali memastikan. Ia tak tahu 2 apa yang dimaksud Alex.
"2M lah Jo. Aku ini CEO dan pewaris tunggal, Jo." Alex mengingatkan statusnya.
"Setahu aku mahar itu mesti uang tunai lho. Kalau kau mau ngasih 2M, mau berapa banyak ATM yang akan ku datangi. Ini hari minggu. Bank tutup, Alex!" Jo merapatkan giginya.
"Jadi berapa?" Alex pun bingung, ia tak membawa uang cash. "Seratus ribu ini? Jo, mau ditaruh dimana mukaku? aku ini pria tampan yang kaya."
"Pakai uangku saja." Jo mengeluarkan uang dua juta dari dompetnya.
Jo merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, karena ada notif masuk. Ia melihat bahwa Alex mentransfer uang dua juta. Ia pun melihat Alex bingung.
"Aku nggak mau saat ijab kabul, yang nanti aku ucapkan, dengan mahar dua juta dibayar hutang." Ucap Alex penuh penekanan.
Sontak Jo terkekeh. Alex terlalu jauh berpikir, ia saja tak memikirkan sampai sana.
"Oh ya Jo, semua pengeluaran pesta pernikahan ini masukkan dalam tagihanku. Aku tak mau ada dana pria itu disini."
Gengsi Alex tinggi, ia tak mau dianggap menumpang dalam pernikahan dadakan ini. Ia akan mengganti semua sampai ke hal sekecil-kecilnya.
"Baiklah."
.
__ADS_1
.
.