SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 49 - TERUS MENGHANTUI


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan orang-orang...


Saat ada yang beli kulkas, tah siapa yang kedinginan.


Saat ada yang beli kompor, tah siapa yang kepanasan.


Begitulah yang dirasakan Arga saat ini. Melihat Ayna dengan suami dadakannya tampak begitu bahagia, ia merasa tak terima dan sakit hati. Amarahnya membludak menguasai hati dan pikiran.


Apa yang telah dilakulan Alex pada Ayna? hingga hubungan 5 tahun mereka seperti tak berarti. Bahkan belum ada sebulan pernikahan itu, Ayna sudah menempatkan pria asing dalam hatinya. Mencampakkan dirinya seperti sampah.


Arga tahu ia melakukan kesalahan fatal yang melukai wanita itu. Tapi apa cinta mereka yang telah terajut selama ini, tak bisa memaafkan kesalahannya?


Arga berdiri di bibir pantai sambil melipat tangan di dada. Kedua netra tajam itu tak lepas menatap kedua orang, yang sedang dimabuk cinta. Dua orang yang seolah menganggap dunia ini hanya milik berdua, tanpa peduli pada sekitarnya. Termasuk pada perasaannya saat ini.


Ayna yang sedang bermain air tiba-tiba berhenti, saat kedua matanya menatap sosok pria itu. Pria yang menatapnya dengan pandangan tak senang. Seolah menangkap basah perselingkuhan.


Hati Ayna kembali bergemuruh, ia kembali mengingat saat-saat itu. Saat yang begitu menyakitkan bagi Ayna.


Melihat Ayna diam dengan sorot mata tak senang, Alex pun melihat ke arah pandang sang istrinya. Apa yang membuat ekspresi Ayna seperti itu?


'Orang itu lagi!!!' Hah... karena itu.


Alex berjalan untuk segera menghampiri dan memberikan pelajaran pada Arga. Sepertinya Arga begitu niat kembali pada Ayna, hingga orang itu sangat tahu di mana pun keberadaan mereka. Dan selalu membayangi seperti hantu.


Alex tak habis pikir dengan orang itu. Yang selalu mengejar Ayna. Apa yang diharapkannya?


Kembali pada Ayna?


Itu mustahil, Arga.


"Mas, jangan." Ucap Ayna pelan, menahan lengan Alex. Sungguh, Ayna sudah tak mau berurusan dengan Arga lagi. Baginya Arga hanya masa lalu yang telah berlalu, sehingga biarkanlah yang lalu pergi berlalu.


"Mas, ayo kita ganti pakaian." Ucap Ayna menggandeng Alex untuk segera pergi dari tempat itu.


Alex hanya bisa menuruti, melihat Ayna yang sudah tak mau menanggapi Arga. Setidaknya itu membuat hatinya lega.


"Ayna..." Panggil Arga.


"Ay..." Panggil Arga kembali, tapi panggilan itu hanya dianggap angin lalu.


"Ay, aku ingin bicara sebentar sama kamu." Arga pun berjalan menghampiri keduanya.


"Maaf, aku tidak mengenal anda." Ucap Ayna datar dan sorot mata sangat dingin. Setelah mengatakan itu ia pun pergi menggandeng Alex.


Arga hanya terpaku tak percaya pada apa yang didengar dan dilihatnya. Wanita itu bahkan sudah tak mau lagi mengenalnya.


Sebenci itukah Ayna pada dirinya?

__ADS_1


Tidak bisakah hubungan mereka diperbaiki?


Apa tak ada lagi kesempatan untuknya?


###


"Mas..."


"Iya." Jawab Alex melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia melihat dari spion, apa ada yang mengikuti mereka.


"Kita pindah saja, Mas." Ucap Ayna menoleh pada Alex.


Pria itu melihat Ayna sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan. Wajah istrinya begitu sedih.


"Kamu mau pindah ke mana, sayang?" Tanya Alex lembut. Ia akan menuruti Ayna. Istrinya pasti tak nyaman terus dibuntutin oleh orang itu.


"Ke tempat yang aman. Yang dia nggak bisa ke sana, Mas." Ucap Ayna pelan, berharap Alex bisa mengerti.


"Ke mana itu?" Tanya Alex kembali, mungkin luar kota atau keluar negeri. Tapi, apa mau Ayna berpisah dengan kedua orang tuanya?


"Ke..." Otak Ayna berpikir ke tempat yang tak mungkin Arga bisa datangi.


"Ke Mars, Mas."


"Apa???" Alex kaget mendengar apa yang Ayna katakan.


Ayna mengangguk membuat Alex jadi tertawa.


"Kamu mau ngapain sampai sana? apa nggak takut bertemu alien?" Tanya Alex menggelengkan kepala. Ada-ada saja yang dipikirkan istrinya.


"Dia muncul terus sih, Mas. Seperti hantu, lho." Ayna menyadari Arga yang selalu tahu dimana keberadaannya.


Alex mengelus kepala Ayna sebentar, lalu menggenggam tangan Ayna.


"Kita nggak usah pindah, aku yang akan memindahkan dia."


Ayna masih melihat Alex.


"Kita akan usir orang itu dari kampung ini." Ucap Alex penuh penekanan.


Ayna malah tertawa mendengar ucapan Alex.


"Tapi, Mas. Biarkan sajalah... kalau Arga dipindahkan kasihan orang tuanya juga. Mamanya itu sedang sakit. Pasti sedih jika berpisah dari anaknya." Ujar Ayna teringat Orang tua Arga yang sangat baik dan menyayanginya.


Kedua orang tua Arga, terus meminta maafnya. Menyesal tak bisa mendidik putra mereka, sehingga melakukan hal yang menyakitkan baginya.


Alex tampak berpikir. Ayna terlalu baik.

__ADS_1


"Oh iya, apa Mona masih sering menghubungi, Mas?" Tanya Ayna kini serius. Mona dan Arga sama-sama masa lalu yang selalu membayangi mereka.


"Nggak. Aku sudah memblokir nomornya." Ucap Alex memberikan ponselnya pada Ayna. Agar Ayna dapat melihat sendiri.


"Tapi di kantor Mas Alex ketemu dia, kan?" Ayna jadi merasa jealous.


"Aku nggak pernah ketemu dia." Jujur Alex apa adanya. Semenjak menempatkan security di depan ruangannya, tak pernah lagi Mona sembarangan masuk ke ruangannya.


"Hmm..." Ayna memajukan bibir sambil menganggukkan kepala, seolah percaya pada ucapan sang suami.


"Sayang, aku mengatakan yang sebenarnya." Tegas Alex melihat wajah Ayna penuh keraguan.


"Aku nggak ada bilang apapun lho, Mas."


"Tapi... wajah kamu itu, pasti mikir negatif."


"Aku percaya Mas Alexku ini, lho. Pria setia dengan sejuta pesona." Goda Ayna mengkedipkan sebelah matanya.


"Jelas dong. Suami kesayangannya siapa coba." Ucap Alex bangga membuat Ayna kekeh.


###


Mona tersenyum bahagia, saat pria tampan itu berjalan menghampirinya.


"Hai Mon, ini untuk kamu." Ucap Alex memberikan bunga yang tadi sempat di sembunyikan di belakang punggungnya.


"Terima kasih, Lex." Ucap Mona bahagia. Alex memberikan bunga, membuat hati dan perasaannya berbunga-bunga.


Tapi, tiba-tiba Mona tersentak dari lamunannya. Ternyata ia hanya berkhayal. Mona melihat Alex yang sedang berbicara serius dengan Jo, tak berada jauh darinya.


Mata Mona tak lepas menatap pria itu. Alex banyak perubahan. Pria itu semakin hari makin tampan. Tampak gagah dan sangat berwibawa. Dan yang membuat Mona sedih bercampur kesal, karena aura bahagia jelas terpancar di wajah pria itu.


Apa Alex begitu bahagia menikah dengan Ayna?


"Sudahlah, Mon." Rani menepuk pelan bahu Mona dari belakang.


"Aku yakin suatu hari nanti, kau pasti bertemu dengan pria yang lebih baik darinya." Timpal Rani lebih lanjut. Sebagai teman baik ia tak mau Mona menjadi duri dalam pernikahan Ayna. Atau pernikahan siapapun.


Mona tak boleh tenggelam dalam penyesalan. Penyesalan setelah menyia-nyiakan Alex, hingga pria itu memilih mundur dan berpaling pada wanita lain.


"Apa bagusnya temanmu itu?" Tanya Mona mencibir.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2