
Sepanjang perjalanan menuju kantor, senyum merekah terus terpampang di wajah tampan Alex. Ayna kini telah berani mengerjai dirinya. Padahal ia tadi berharap benih cintanya mulai tumbuh.
'Ntar malam aku akan menghukummu!' Alex tersenyum smirk seraya membayangkan tubuh polos Ayna.
Alex memarkirkan mobilnya, lalu ia segera turun dan akan berjalan memasuki kawasan kantor.
"Alex." Panggil seorang wanita.
Langkah Alex terhenti melihat seorang yang wanita berjalan ke arahnya.
"Kamu kemana saja beberapa hari ini? apa kamu sakit?" Tanya Mona dengan wajah khawatir.
Alex menggeleng dan kembali akan melangkah, tapi lengannya di tahan Mona.
"Nanti malam kita diner, yuk." Ajak Mona.
"Aku sibuk." Jawab Alex memasang wajah datar.
"Apa kamu marah padaku? hari itu aku harus pulang ke rumah orang tuaku." Ucap Mona pelan. Wanita itu menyadari sifat Alex yang berubah.
"Nona Mona, tolong jaga sikap anda." Mata tajam Alex menatap tak senang pada lengan yang dipegang Mona.
"Ma-maaf." Jawab Mona segera melepas tangannya. Alex membuatnya gugup.
"Alex, maafkan aku. Aku akan menerima kamu sekarang."
Pria tinggi itu menghembus nafasnya berkali-kali. Mona memeluknya dari belakang.
Alex melepaskan tangan Mona lalu pria itu membalikkan badan menatap wajah Mona.
"A-aku bersedia jadi kekasih kamu." Mona pun memeluk tubuh Alex.
Alex terdiam sejenak. Mona adalah wanita yang pernah ia cintai. Pria itu selalu mengejar cinta Mona dan Mona selalu menolaknya.
Alex tak menyerah dan terus mengejar Mona. Memberikan wanita itu banyak perhatian, tapi tetap saja ia di tolak. Cintanya pada Mona selalu bertepuk sebelah tangan.
Hingga akhirnya Mona memberinya kesempatan untuk mereka saling dekat sebelum menjalin sebuah hubungan. Hal itu membuat Alex sangat senang dan bahagia. Tapi...
"Halo Mon, setengah jam lagi aku jemput kamu." Ucap Alex saat menelepon Mona.
"Maaf Lex, aku nggak bisa makan malam sama kamu. Malam ini aku di suruh pulang ke rumah orang tuaku." Jelas Mona dari seberang sana.
"Apa ada yang sakit? aku antar kamu."
__ADS_1
"Nggak usah Lex, aku juga sudah di jalan. Lain hari saja kita akan makan malamnya. Bye..."
Alex menatap layar ponselnya. Mona sudah memutuskan panggilannya. Ia menatap sekitarnya.
Malam ini rencananya Alex akan melamar Mona, agar wanita itu yakin jika Alex sangat serius padanya.
Alex sudah memboking sebuah restauran yang sudah di dekor sedemikian rupa. Ia dan Mona akan makan malam romantis di restauran itu. Lalu di sana juga ia akan melamar Mona. Jika Mona menerima akan banyak kembang api yang bertaburan di langit.
Kini itu hanya jadi khayalan Alex. Pria itu memaklumi mungkin ia yang terlalu terburu-buru.
Alex memilih pulang meninggalkan restauran itu. Mungkin ia akan mencari waktu yang tepat untuk melamar Mona.
Mobil Alex berhenti menunggu lampu merah.
"Mona." Ucap pelan Alex melihat seorang wanita yang masuk ke sebuah kafe.
Perlahan Alex membelokkan mobilnya memasuki area kafe. Ia segera turun dan masuk ke dalam kafe pinggir jalan yang cukup luas itu.
Alex terpaku melihat Mona yang begitu mesra dengan pria di sampingnya. Alex meremas tangannya. Mona membohonginya. Mona mengatakan bahwa ia pulang ke rumah orang tuanya, nyatanya ia sedang bersama pria lain.
'Apa kau sedang mempermainkanku?' Alex merasa marah dam kecewa. Untuk apa Mona memberinya kesempatan jika wanita itu masih dengan pria lain. Apa ia hanya dianggap cadangannya.
Alex pun segera meninggalkan kafe itu. Tanpa Mona tahu Alex melihat semuanya.
"Alex..." Mona tampak bingung. Alex menolaknya.
"Jika kamu masih ingin bekerja di sini, bekerjalah dengan baik." Setelah mengatakan hal itu Alex melangkah lebar meninggalkan Mona yang masih menatap tak percaya.
Mungkin dulu Alex akan bahagia jika Mona menerimanya. Tapi setelah kejadian di kafe itu, Alex merasa jijik melihat Mona. Perasaan cintanya pada Mona sirna.
Para karyawan melihat bingung Alex yang berjalan sambil membuka jasnya. Lalu membuang jas mahal itu ke tong sampah. Alex juga melepas kemejanya meninggalkan kaos putih polos. Dan kemeja itu juga dibuang ke tong sampah.
'Kenapa dia?' Jo yang baru masuk ruangan Alex mendadak kaget. Alex masuk kantor hanya memakai kaos polos.
"Jo... bawakan aku setelan." Pinta Alex dengan mata fokus pada layar komputer.
"Baik Pak." Ucap Jo cepat. Ia tak mau banyak tanya. Wajah Alex sangat tidak bersahabat.
###
Alex melanjutkan rapat dengan para karyawan yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu. Moodnya hari tidak baik. Suasana rapat terasa menyeramkan dan membuat meremang siapa saja yang berada di dalam.
"Rapat selesai." Alex bangkit mengakhiri rapat itu. Para karyawan yang berada di ruangan itu menghela nafas lega.
__ADS_1
"Satu hal lagi." Ucapan Alex membuat semua mata melihatnya. "Jika kalian sudah tak sanggup lagi bekerja di sini. Katakan sekarang, saya akan segera memecat agar kalian tak perlu mengundurkan diri."
Dengan mata tajamnya Alex menatap satu persatu karyawan di ruangan kecil itu. Pria itu tak puas dengan kinerja para karyawannya.
Alex lalu keluar ruangan diikuti Jo. Alex mengambil ponsel yang berada di sakunya. Wajahnya seketika berubah jadi tersenyum membaca satu pesan yang masuk. Tentu saja pesan dari Ayna.
'Aku merindukanmu, Ay...' Alex merasakan kerinduan yang mendalam pada sang istri.
'lagi mabuk cinta.' Jo mencibir dalam hati pada atasannya itu. Ekspresi wajah Alex cepat sekali berubah.
###
"Mas... aku cantikkan di sini." Ucap Ayna menunjukkan bingkai foto pernikahan mereka yang telah selesai.
"Kamu cantik." Puji Alex yang terpaku melihat Ayna dalam layar ponsel tersebut. Mereka sedang video call-an.
Foto Ayna saat pernikahan sangat cantik. Tapi Ayna yang saat ini berada dalam layar ponselnya sangat cantik dan begitu menggoda.
Ayna memakai baju tidur tipis bertali satu berwarna putih . Alex bisa menebak istrinya itu tidak memakai kaca mata gantung. Ayna juga menggerai rambutnya. Rasanya Alex ingin segera menerkam wanita itu.
"Mas..." Panggil Ayna yang kesal Alex diam saja dari tadi.
"I-iya sayang." Jawab Alex gugup.
"Mas, lagi mikirin apa sih?" Tanya Ayna khawatir. Apa karena sering mangkir beberapa hari ini, kerjaan Alex jadi makin bertambah. Dan itu menambah beban pikiran suaminya.
"Aku mikirin kamu." Jawab Alex menatap mata yang juga melihatnya.
"Mikirin aku tentang apa?" Ayna ingin tahu.
"I-itu..." Alex bingung menjawab. Tak mungkin ia mengatakan memikirkan hal yang membuat panas dan bergairah.
"Aku mikirin kamu karena banyak yang aku nggak tahu tentang kamu. Seperti makanan apa yang kamu suka? hobi kamu apa? film kesukaan kamu?..." Alex pun beralasan panjang.
Ayna mengulum senyum, gombalan receh Alex sanggup membuat hatinya sedikit meleleh.
"Mas Alex, tukang gombal !!!"
.
.
.
__ADS_1