SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 58 - ARISAN KELUARGA


__ADS_3

"Silahkan Tuan dan Nyonya." Alex tersenyum lebar membukakan pintu mobil untuk kedua orang tuanya.


Papa dan Mama tersenyum sambil masuk ke dalam mobil.


"Silahkan, ratuku." Setelah kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil, Alex pun membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.


"Terima kasih, sayangku." Bisik Ayna pelan.


"Sama-sama." Alex memajukan bibirnya, membuat Ayna jadi mencubit pipinya.


"Jangan genit, Mas."


Ucapan Ayna membuat Alex tertawa.


Setelah semuanya masuk, Alex pun masuk juga ke dalam mobil.


Mata Mama dari tadi terus mengekori pergerakan sang putra. Terlihat Alex dengan cekatan membantu memasang sabuk pengaman Ayna. Alex dan Ayna juga saling melempar senyuman. Tatapan kedua sejoli itu penuh cinta dan kasih sayang.


Untung saat ini Mama membawa Papa. Jika tidak Mama pasti akan seperti nyamuk diantara pasangan itu.


"Pa... tangan Mama sakit, lho. Pijatin dong." Ucap Mama manja pada Papa.


"Sakit kenapa? pulang nanti kita panggil tukang kusuk saja." Jawab Papa santai. Pria paruh baya itu sibuk dengan ponselnya.


"Papa." Mama jadi cemberut. Suaminya tak pengertian sama sekali.


"Ayna..." Panggil Mama kemudian.


"Saya, Ma." Sahut Ayna segera.


"Mama cuma mau bilang, dalam pernikahan itu, cuma beberapa tahun saja manisnya. Setelah itu..." Mama melirik Papa, yang dilirik biasa saja. Seperti tah mendengar atau tidak.


"Pa..." Panggil Alex melihat dari spion.


"Apa, Nak?" Jawab Papa.


"Kata Mama, Papa sudah nggak manis lagi. Mandi gula sana, Pa." Ledek Alex sengaja melirik sang Mama.


"Mas..." Ayna menepuk lengan Alex, suaminya itu sangat suka menggoda Mamanya.


"Ma-mana ada Mama bilang begitu." Sanggah Mama cepat, melihat sang suami melirik ke arahnya.


"Apa Papa sudah nggak manis lagi, Ma?" Tanya Papa memberikan senyuman lebarnya, lalu mengkedipkan sebelah matanya.


Mama membuang muka, suami dan putranya sama saja. Bahagia sekali menggoda dirinya.


"Mana yang mau Papa pijatin, Ma?" Tanya Papa kemudian. Ia menggeleng melihat istrinya yang masih suka mengambek.


"Ini." Mama menyodorkan tangannya, pria paruh baya itu pun segera memijatnya.


"Mau kuat apa pelan nih pijatnya?"


"Nggak kuat nggak pelan, Pa." Rengek manja Mama.


"Yang sedang-sedang saja." Alex pun menyambung sambil bersenandung mendengar percakapan keduanya.

__ADS_1


Alex menutup mulutnya melihat tatapan tajam sang Mama.


"Kalian maklum saja ya. Mama kalian ini sedang puber ke 2." Ledek Papa kemudian.


"Papa..."


Alex dan Ayna saling mengulum senyum.


###


Papa dan Mama membawa serta Alex dan Ayna, untuk menghadiri acara arisan keluarga besar mereka.


Kedatangan Papa dan Mama sekaligus akan mengundang keluarga besar mereka, untuk acara pernikahan Alex dan Ayna.


Saat mereka datang, beberapa keluarga pun mulai menghampiri. Mereka bingung melihat wanita yang digandeng Alex.


"Siapa dia? apa Alex sudah punya kekasih?" Tanya salah satu wanita sebaya Mertuanya Ayna itu. Ia menatap Ayna dari atas hingga bawah.


"Ini Ay-" Mama ingin memperkenalkan menantunya.


"Anak dari keluarga mana?" Potong wanita paruh baya lainnya.


"Apa bisnis keluarganya?"


"Apa pekerjaannya?"


Ayna menundukkan kepala. Ditanya seperti itu, ia jadi minder berada di sana. Keluarga besar Alex itu keluarga kalangan elit semua.


"Ini Ayna. Dia istriku." Jelas Alex segera untuk memutuskan pertanyaan para Tante-tantenya.


"Kapan Alex menikah? kenapa kalian tidak mengundang kami?"


"Iya, benar. Kapan menikahnya?"


"Mereka sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Dan kami kemari ingin mengundang semua keluarga besar untuk menghadiri pernikahan mereka minggu depan." Ucap Papa segera menjelaskan maksud tujuannya.


"Kenapa mendadak sekali?"


"Apa jangan-jangan wanita ini menjebak Alex."


"Apa mereka hamil diluar nikah?


"Ja-" Alex akan menjawab, namun segera disela Mama.


"Jaga bicara anda. Untuk apa Ayna menjebak Alex. Mereka saling mencintai." Mama dengan cepat menjawab. Ia tak mau keluarganya menghina Ayna.


"Tapi seperti apa keluarganya?"


"Berasal dari keluarga mana?"


"Harusnya punya menantu diseleksi dulu."


"Benar-benar jangan sembarangan. Bagaimana jika dia hanya mengincar harta Alex saja?"


Mama mendengus kesal, kenapa menantunya yang menjadi bahan gibahan mereka.

__ADS_1


"Sembarangan apa? kalian jangan sok tahu dengan menantuku. Jika aku merestui dirinya, itu karena aku yakin menantuku memang pantas dengan putraku. Aku sangat tahu mana wanita yang pantas jadi istri anakku." Mama jadi mengomel mengeluarkan unek-uneknya. Alex itu putranya, kenapa mereka yang sibuk menata putranya harus bagaimana.


"Mama lapar. Ayo... sayang kita makan." Mama menggandeng Ayna pergi dari perkumpulan saudara-saudara rempong itu. Ayna adalah menantunya, jadi Ayna sudah menjadi bagian dari keluarga. Siapa yang berani menghina Ayna, sama saja menghina dirinya.


"Sudah, nggak usah kamu dengerin mereka. Yang penting Alex, Papa dan Mama sayang sama kamu. Kami yang selalu bersama kamu, bukan mereka." Ucap Mama melihat wajah Ayna yang tampak murung.


"Iya, Ma." Jawab Ayna menganggukkan kepala.


"Kita datang ke acara seperti ini paling setahun 2 atau 3 kali. Kalau ada yang bicara nggak enak sama kamu, kamu tutup kuping saja. Tapi kalau sudah sangat keterlaluan, beri tahu Mama. Biar Mama kuliti orang itu hidup-hidup."


"Terima kasih, Ma." Ucap Ayna memeluk lengan sang Mama. Ia bersyukur mertuanya begitu sangat baik dan membela dirinya.


Papa dan Alex terlihat berbincang dengan para keluarga. Dan tak lama mereka menghampiri Mama dan Ayna yang sedang berada di meja hidang.


Tak lama mereka pun makan hidangan yang tersaji.


"Alex... apa kabar?" Tiba-tiba seorang wanita menghampiri.


Alex diam saja, ia tak mengenal wanita itu.


"Aku anaknya Om Adam." Jelasnya.


"Oh..." Hanya itu jawaban Alex. Ia hanya mengenal Om Adam. Ia tak kenal dengan anak-anaknya. Padahal termasuk sepupu jauhnya juga.


"Ini aku bawain kamu minum." Ucap wanita itu manja. Ingin menarik perhatian pria tampan itu.


"Sayang, sebentar ya. Aku ambilkan kamu minum dulu." Ucap Alex menkecup pipi Ayna sebelum pergi.


Sepupu Alex itu menatap kesal. Bisanya pria itu malah menyueki dirinya.


"Mbak, ini bawa minumnya. Mas Alex, sudah mengambilnya." Ucap Ayna sambil tersenyum.


Wanita yang kesal itu pun mengambil gelas dan segera pergi.


Ayna menghembuskan nafas. Padahal ada dirinya di samping Alex, tapi tetap saja ada yang caper pada suaminya. Apa mereka tak merasa segan dengan dirinya? Atau dirinya yang tidak cocok menjadi istri Alex?


"Sayang, ini minumnya." Ucap Alex memberikan gelas minum.


"Terima kasih, Mas." Ayna menenggak air dalam gelas. Alex segera mengelap mulut Ayna dengan tissu.


Ayna tersenyum lega. Biarkan saja banyak mata menatap kagum pada suaminya, tapi jika Alex hanya melihat dirinya saja. Pasti tidak ada yang perlu ditakutkan.


"Terima kasih, Mas Alexku sayang." Ayna gemas mentoel hidung Alex.


"Papa gitu dong, kayak Alex." Bisik Mama pelan melihat keromantisan anaknya.


"Bukan zamannya kita lagi, Ma. Malu lho sama umur."


"Pa-pa!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2