SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 84 - ALEX PULANG


__ADS_3

Pagi-pagi Ayna bangun dengan wajah penuh senyuman. Hari ini ia sangat bahagia. Pangeran tercintanya akan pulang siang ini.


Ayna segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu ia menuju dapur. Berlari kecil menuruni tangga rumah.


Di dapur ia melihat bahan-bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin. Rencananya ia akan memasak, untuk menyambut kedatangan sang suami yang begitu dirindukannya.


"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" Tanya salah satu pekerja melihat Ayna berada di dapur. Hari masih terlalu pagi untuk sarapan.


"Aku mau memasak. Mas Alex akan pulang hari ini." Jawab Ayna dengan wajah bahagia.


"Nona, anda ingin memasak apa?" Tanya pekerja itu kembali.


"Hmm... Apa ya?" Ayna berpikir panjang sambil melihat bahan-bahan yang tersedia. Ia akan memasak makanan favorit Alex saja.


Tak lama Ayna memasak dibantu pekerja rumah. Ia menyuruh pekerja rumah membantu memotong-motong bahan saja. Selebihnya ia yang menyelesaikan.


"Kamu masak apa, Ay?" Tanya Mama melihat Ayna sibuk di dapur.


"Mas Alex akan pulang hari ini, Ma. Jadi Ayna memasak makanan favorit untuk Mas Alex. Katanya Mas Alex sudah kurus sekarang, Ma." Jawab Ayna apa adanya.


Setiap menelepon, Alex selalu mengatakan jika berat badannya turun.


Mama langsung membayangkan bagaimana anak bandal itu jika kurus. Tapi sepertinya tak mungkin. Putranya itu... makanan apapun masuk saja, jika sandal bisa digulai pun, pasti akan dimakannya.


"Mama, mau makan?" Tanya Ayna segera.


"Kamu bilang kamu masak buat Alex, karena dia sudah kurus sekarang. Nanti kalau Mama makan, Mas Alexmu nggak kenyanglah." Mama meledek sang menantu.


Ayna jadi menunduk malu. "Ayna masak banyak kok, Ma. Mama sama Papa mau makan, kan. Biar Ayna siapkan."


Dengan cekatan Ayna menghidangkan masakannya di atas meja.


Papa menghirup aroma masakan Ayna yang menggungah selera.


"Ma, tolong ambilkan nasi Papa. Itu sayur kangkung sama sambalnya ambil banyak." Pinta Papa pelan pada Mama.


"Jangan banyak-banyak. Ayna masak untuk Alex. Si Alex katanya sekarang sudah kurus, kurang makan dia di sana." Bisik Mama memberitahu Papa.


"Masa?" Papa tak percaya.


###


Ayna menunggu di teras rumah, sambil memegang ponselnya. Tadi Alex memberi kabar bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah.


Wanita itu berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Waktu terasa terlalu lama berputar. Ia sudah tak sabar bertemu dengan Alex.


Mata Ayna menatap sendu, saat sebuah mobil berhenti di teras rumahnya. Hatinya saat ini tiba-tiba saja berdebar-debar.


"Mas Alex..." Ayna langsung berlari saat melihat Alex keluar dari mobil tersebut.


"Aku merindukanmu, Mas." Ucap Ayna dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Aku juga rindu kamu, sayang. Rindu rindu rindu... pakai banget lagi." Alex tak mau kalah mengungkapkan kerinduannya.


Alex memeluk Ayna sangat erat. Ia hanya pergi sebentar, tapi rasanya seperti bertahun-tahun mereka tidak bertemu.


"Sayang, lihat sekarang aku kurusan lho." Alex melonggarkan pelukannya, menatap manja pada wajah wanita yang begitu dirindukannya.


"Kurus?" Ayna mengedarkan pandangannya pada tubuh gagah yang berdiri di hadapannya.


Tak ada yang berbeda, pria itu sama saja. Kurus dari mana? Itu pasti hanya alasannya saja.


"Selama di sana, aku nggak selera makan. Berat badanku berkurang drastis." Adu Alex.


"Lihat nih, sayang. Jari kelingkingku tidak sama dengan jempol." Alex menunjukkan jari-jarinya.


Ayna jadi tersenyum. Sejak kapan kelingking dan jempol itu sama?


"Aduh... Mas Alexku sudah kurus. Ayo kita makan, aku sudah banyak masak." Ajak Ayna, mengikuti kemanjaan sang suami.


"Oh ya, akan kuhabiskan semua masakan kamu..."


Alex merangkul Ayna masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya, yang mendengar obrolan absurd mereka.


'Alex kurus? Itu fitnah. Jempol, kelingking... Astaga!!' Jo menggelengkan kepala, sambil mengeluarkan koper Alex lalu diberikan pada pekerja di rumah itu.


Jo memilih pergi tanpa pamitan pada Alex. Karena akan percuma, pria itu sedang sibuk dengan dunianya.


Tak berapa lama, setelah berganti pakaian rumah. Alex makan ditemani istri tercinta. Pria itu bermanja minta di suapi dan Ayna menuruti, menyuapi bayi raksasanya.


"Kok gitu?" Tanya Ayna bingung.


"Biar aku nggak rindu. Nggak melihat kamu sehari itu... Entahlah, nggak enaknya itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, lho." Alex memberitahu. Sehari tanpa Ayna apa arti dirinya.


Ayna menepuk dada Alex. "Mas Alex, jangan lebay deh."


"Aku itu nggak bisa fokus, sayang. Biasanya setiap sore pulang dari kantor, aku pasti lihat kamu. Ini... Sore pulang nggak ada kamu, malamnya apa lagi. Aku galau, kesepian sayang selama di sana." Jelas Alex menceritakan kehidupan di sana tanpa wanitanya.


Ayna jadi malu. Ia kembali menyuapi sang suami. "Ayo... Makan lagi, Mas."


"Alex, kamu sudah pulang." Mama muncul di dapur.


"Iya, Ma. Mama sudah makan?" Alex segera bangkit, menyalami sang Mama dan memeluknya sebentar.


"Sudah tadi. Kamu makan yang banyak, Lex. Lihat kamu kurus banget. Sudah seperti tengkorak berjalan." Mama meledeknya. Padahal putranya itu tak ada bedanya, sama saja.


"Mama... Alex nggak sekurus itu." Sanggah Alex.


"Maaf Pak, Bu... Security bilang, di depan ada orang yang bernama Aldo mencari Nona Ayna. Katanya saudara jauh Nona." Ucap pekerja memberitahu.


"Siapa Aldo? Kamu punya saudara bernama Aldo?" Tanya Alex.


"Nggak tahu, Mas. Katanya saudara jauh. Mungkin aku kenal wajah nggak kenal nama." Ayna juga bingung.

__ADS_1


"Suruh tunggu sebentar."


Pekerja itu mengangguk pada perintah Alex. Lalu segera pergi dari tempat itu.


"Sudah temui sana." Ucap Mama.


Ayna mengangguk. Walau dalam hatinya ia tak pernah tahu, apa ada yang bernama Aldo di keluarganya.


"Ayo, kita temui dia." Alex juga ingin tahu. Mungkin Ayahnya Ayna yang memberitahu alamat rumah mereka.


Ayna mengangguk dan membereskan piring makannya. Ia menyodorkan segelas air pada Alex. Setelah Alex meminumnya, Ayna juga mengelap sudut bibir suaminya yang basah.


"Terima kasih, sayangku." Alex sejenak menatap Ayna penuh cinta, begitu pula Ayna.


'Kok jadi nyamuk ya?' Mama segera keluar dari dapur. Kedua sejoli itu menganggap dunia hanya ada mereka.


"Mas, ayo..." Ajak Ayna menyadarkan lamunan Alex.


Alex melihat sekitarnya, tak ada siapapun. Hanya ada mereka berdua. Ia pun segera menyosor bibir Ayna.


"Mas, tamunya nunggui lho." Ayna mengingatkan.


"Biarkan saja. Nggak akan jadi masalah, jika orang itu menunggu 5 menit lagi." Alex mengkedipkan sebelah matanya.


"Mas..." Ayna menahan dada Alex. "Kita temui dulu tamunya, ya?"


"Baiklah. Ingat Ay, nanti malam kamu harus mulai mencicil hutang-hutangmu." Alex mengusap kepala Ayna.


"Ingat, tidak bayar hutang itu dosa." Ledek Alex kembali sambil menarik pipi Ayna.


"Kenapa aku yang jadi berhutang sih?" Dumel Ayna.


Alex tertawa saja melihat wajah cemberut itu. Ia menggandeng Ayna menuju ruang tamu.


"Sayang, senyum dong."


Ayna malah memajukan bibirnya.


"Jangan mancing-mancing. Kamu kira aku nggak berani cium kamu di sini?"


Ayna mencubit perut Alex, seraya menetralkan wajahnya.


Mereka sampai di ruang tamu dan kaget melihat sang tamu.


"Aldo?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2