
"Alex, Kamu sudah tidak waras." Mama menggeleng setelah mendengar cerita panjang sang anak, tentang pernikahan dadakannya itu.
"Mama tahu, kamu itu cuma kasihan sama dia, Makanya kamu bersedia menikahinya.." Timpal Mama lagi.
"Tidak Ma, Alex cinta sama Ayna. Melihat Ayna menangis saat itu, Alex ingin menghapus air matanya dan membuat Ayna bahagia." Ucap Alex tulus.
Mama menatap mata Alex yang begitu tulus dan sangat serius. Alex jatuh cinta pada wanita yang bernama Ayna tersebut.
"Apa dia mencintaimu?" Tanya Mama kemudian. Ia tak mau putranya terlibat cinta bertepuk sebelah tangan.
Alex mengangguk. Meski Ayna belum pernah mengatakan perasaannya, tapi pria itu yakin. Kini ada dirinya dalam hati Ayna.
"Besok aku bawa istriku ke rumah. Pasti Mama akan suka dengannya. Ayna itu orangnya gugupan, Ma. Kalau sudah gugup wajahnya menggemaskan." Ucap Alex seraya mengingat wajah istri yang sering dicubitnya.
###
"Geser kanan, Mas. Kiri sedikit, Mas. Sedikit saja lho Mas.."
Alex menghembus nafas, dari tadi ia menggeser ke kanan dan kiri bingkai foto pernikahan mereka.
"Sedikit lagi.." Ayna memberi instruksi. Ia merasa foto pernikahan mereka masih miring.
"Op.. pas, Mas."
Alex mundur beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Ayna sekarang. Mereka melihat foto pernikahan itu sambil tersenyum bahagia.
Mata Alex melihat Ayna yang begitu bahagia. Perlahan fokus matanya mulai beralih ke arah dada.
'Kenapa jadi besar?'
"Kamu sumbel pakai apa, Ay?" Tanya Alex penasaran.
"Hah?" Ayna tak mengerti pada pertanyaan Alex. Ia pun mengikuti arah mata pria itu.
"Mas Alex, matanya. Jangan mesum deh." Ayna langsung menyilangkan tangannya.
"Untuk apa pakai begitu? sini aku pijat saja biar besar." Alex akan mengarahkan tangannya pada istrinya.
"Mas Alex.." Ayna segera kabur, Alex membuatnya malu.
'Kenapa dia bisa tahu?'
Sementara Alex tertawa puas melihat Ayna. Ia menggeleng, ada-ada saja tingkah istrinya.
Beberapa saat kemudian, keduanya sedang makan malam. Alex melirik bagian dada Ayna, yang tidak sebesar yang tadi. Pasti sumbelannya itu sudah dibuang.
Dengan tangannya Ayna membersihkan nasi yang menempel di sudut mulut suaminya.
"Mas... makan yang benar." Ayna jadi kesal, sepertinya Alex sengaja mengerjainya. Tah sudah berapa kali ia membersihkan mulut pria itu.
"Iya." Alex hanya menjawab saja. Ia bahkan sengaja meletakkan sendok di pipinya.
"Mas..."
Alex kini makan seperti bocah. Pria itu tersenyum melihat Ayna yang membersihkan wajahnya dengan bibir mengkerucut.
"Ay, besok kita akan ke rumah orang tuaku." Alex memberitahu.
__ADS_1
"A-apa?" Tangan Ayna tergantung tak jadi membersihkan wajah Alex. Ayna merasakan gugup yang tiba-tiba melandanya.
"Besok malam, Papa dan Mama mau ketemu kamu." Ucap Alex mengelus kepala Ayna.
"Mas, aku takut."
"Takut kenapa?" Alex menatap wajah yang tiba-tiba sudah pucat.
"Ta-takut, kalau orang tua Mas Alex nggak bisa nerima aku." Ayna mengutarakan pemikirannya.
"Dengar sayang, Papa dan Mama pasti akan menerima kamu. Karena kamu itu sumber kebahagiaan aku. Mana ada orang tua yang nggak ingin anaknya bahagia." Alex memberikan penjelasan pada Ayna.
Lagi dan lagi hati Ayna seperti meleleh mendengar perkataan Alex.
"Mama suka makan apa, Mas?" Tanya Ayna segera. Ia akan berusaha mengambil hati mertuanya itu.
Pria itu tampak berpikir.
###
"Sayang, ini sudah malam. Besok saja kan bisa dibuat."
"Nggak, Mas. Besok nggak akan sempat. Besok aku sudah mulai bekerja, kapan aku akan membuatnya."
Alex menarik nafas panjang, ia menyesal memberitahu Ayna apa makanan yang disuka Mamanya. Wanita itu jadi membuatnya sendiri. Padahal besok mereka bisa membeli sambil jalan ke sana.
"Tinggal tunggu matang, Mas." Wajah Ayna tampak begitu bahagia melihat kukis dalam oven.
"Berapa lama matangnya kukis kamu?" Tanya Alex memeluk Ayna dari belakang.
"Terus selama itu kita mau ngapain?" Bisik Alex tepat di telinganya.
"I-i-itu, nunggu kukisnya matang." Pertanyaan Alex membuat Ayna jadi gugup.
"Kita diam gini saja?" Alex mengeratkan pelukannya, hidungnya mengendus-endus di leher Ayna.
"A-a-a..."
"A apa?"
"Aku mau cuci piring, Mas." Ayna segera melepas pelukan Alex dan menuju wastafel.
Ayna menghembus nafasnya berkali-kali. Ia paham maksud pertanyaan Alex. Pria itu makin lama makin mesum. 99% otak pria itu sepertinya dipenuhi adegan 21+.
"Sayang, minggu depan kita bulan madu, Mau?" Alex berdiri di samping wastafel, melihat Ayna mencuci piring dengan wajah memerah.
"Bu-bulan madu? aku baru mulai kerja, Mas."
"Ya sudah, kamu tinggal ambil cuti saja." Alex mengatakan dengan santainya.
Ayna menatap Alex sejenak. Pria itu bicara seperti perusahaan itu milik bapaknya saja.
"Kapan-kapan saja, Mas."
"Kapan-kapannya itu kapan?"
"Kapan kita ada waktu."
__ADS_1
Alex mengangkat tubuh Ayna. Meletakkannya di atas meja makan.
"Mas, aku mau cuci piring." Ucap Ayna menunjukkan tangannya yang berbusa.
"Sayang, mulai besok kamu nggak boleh lagi membersihkan apartemen ini. Apa pun itu."
"Tapi, Mas. Aku sudah biasa."
"Dengar Ay, kalau kamu tetap mengerjakannya akan ada orang-orang yang kehilangan pekerjaannya." Jelas Alex menatap Ayna yang berwajah bingung.
"Begini.." Alex memajukan wajahnya dengan tangan berada disisi tubuh Ayna.
"Tempat ini biasa dibersihkan oleh petugas kebersihan dan pakaianku juga mereka yang laundry. Jika kamu melakukan itu, otomatis mereka akan kehilangan pekerjaannya."
"Ta-tapi, Mas."
"Kamu mau nambah pengangguran di negara ini?"
Ayna menggeleng.
"Kalau begitu biarkan saja mereka melakukan pekerjaan itu."
"Terus aku ngapain, Mas?"
"Katanya kamu mau kerja. Atau kamu nggak usah kerja sajalah, Ay. Aku suamimu yang tampan nan rupawan ini, sanggup lho menafkahi kamu." Alex mentoel hidung Ayna. Sebenarnya pria itu ingin Ayna di rumah saja. Mengurusi dirinya sepanjang hari.
"Tapi aku mau punya uang sendiri, Mas."
"Uangku banyak. Nanti ku berikan padamu."
"Mas..."
"Kalau kamu bekerja, pulangnya kamu pasti capek. Kalau kamu sakit gimana? aku nggak mau kamu sakit, sayang." Alex mengatakan itu sambil tangannya mencubit pipi Ayna.
"Mas, setelah menikah aku resign ya." Ucap Ayna saat ia dan Arga makan malam di sebuah kafe.
"Kenapa?"
"Aku mau jadi ibu rumah tangga saja. Fokus mengurus Mas Arga dan anak-anak kita nanti." Ayna mengatakan dengan wajah yang berbinar.
"Jangan dulu, Ay. Biar saja kita sama-sama bekerja. Gajiku dan gaji kamu bisa kita kumpul untuk membeli rumah. Jadi lebih cepat terkumpulnya. Kamu nggak mau kan nanti kita terus sewa rumah." Jelas Arga yang membuat Ayna terdiam.
"Nanti kalau aku hamil dan punya anak, gimana Mas?"
"Banyak di kantor yang bekerja saat hamil. Dan saat mereka punya anak mereka tetap bisa bekerja. Anak mereka diasuh baby sister. Kita bisa seperti itu juga, Ay."
Ayna mengangguk mengiyakan ucapan Arga. Menurutnya benar juga, jika hanya mengandalkan Arga, pasti akan lama mereka membeli sebuah rumah.
"Sayang... kamu mikirin apa sih?"
Ayna menggeleng. Lagi dan lagi ia membandingkan keduanya.
.
.
.
__ADS_1