SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 51 - ARGA BEBAS


__ADS_3

"Aduh, Mas Alex sakit lho." Rengek Ayna yang hidungnya terus ditarik-tarik gemas oleh Alex.


"Kamu gemasin lho, sayang." Alex tak peduli, ia tetap menarik hidung Ayna sambil berjalan menuju lift. Tak memperdulikan pandangan para karyawan.


"Lihat, pasti merah hidungku ini." Ayna memegangi hidungnya sambil memasang wajah cemberut.


"Iya. Kamu wanita berhidung merah." Ledek Alex sambil menekan tombol lift ke lantai dasar.


Tak lama lift pun telah sampai membawa mereka ke lantai dasar. Alex menggandeng tangan Ayna erat.


Saat akan melewati lobi, mereka berpapasan dengan Mona. Langkah kaki Mona terhenti melihat kedua orang itu.


Ayna melirik reaksi Alex, tapi pria itu berjalan menggandengnya melewati Mona begitu saja. Bahkan untuk melihat Mona, Alex seolah enggan.


"Mas, sepertinya Mona masih menyukaimu." Ucap Ayna ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku nggak peduli." Ucap Alex memasangkan sabuk pengaman istrinya.


"Tadi Mona melihatku dengan ekspresi tak senang." Adu Ayna mengingat tatapan wanita itu.


"Tadi? kamu ketemu dia dimana?" Tanya Alex.


"Tadi kan kita papasan sama dia, Mas. Di lobi." Ayna mengingatkan.


Alex mengangkat bahunya, seolah ia tadi tak melihat Mona.


"Masa Mas Alex nggak lihat sih?" Ayna kesal, Alex sepertinya bohong jika tidak melihat Mona.


"Gimana aku mau melihat wanita lain, jika hanya ada kamu saja di mataku."


"Mas Alex..." Ayna mendengus, lagi-lagi dia kena gombalan receh Alex.


"Aku akan seperti kamu. Saat masa lalu akan menghampiri, aku akan berlalu tak peduli."


Ayna jadi mengangguk. Ia tak akan khawatir dengan perasaan Alex pada masa lalunya.


Tak lama mereka sampai di sebuah studio foto. Untuk melakukan foto prewed.


Mata Alex terpaku menatap Ayna yang begitu cantik memakai gaun pengantin. Istrinya itu seperti bidadari yang jatuh dari langit. Dan jatuhnya tepat di hati.


Ternyata bukan hanya Alex saja, bahkan orang-orang yang berada di sana juga tarpaku melihat kecantikan istrinya.


"Kapan mulainya ini?" Tanya pria tinggi itu tak senang.


Pemotretan pun berlangsung. Mereka mengikuti setiap intruksi untuk bergaya sesuai konsep dan tak lupa tatapan penuh cinta keduanya yang terpancar.


Alex tersenyum bahagia saat sang fotografer menunjukkan beberapa foto mereka. Dalam foto itu mereka tampak begitu natural dan saling mencintai. Tidak seperti saat foto prewed Ayna dan orang itu.

__ADS_1


Menurut Alex, foto Ayna yang dulu tidak bagus dan senyumnya terlalu dipaksa. Nggak baguslah pokoknya. Apalagi pengantin prianya. Wajahnya nggak banget.


Setelah selesai foto, mereka pun pulang. Alex melajukan mobilnya sedang membelah jalanan malam.


"Sayang bangun, kita sudah sampai." Alex menepuk pelan pipi Ayna. Tapi wanita itu masih tertidur lelap.


Alex pun turun dari mobil dan membuka pintu penumpang. Ia pun menggendong Ayna, karena istrinya yang tak bisa dibangunkan.


Saat masuk rumah, beberapa pekerja bahkan kedua orang tua Alex tersenyum melihat pria itu.


Alex bukan menggendong Ayna ala bridal style, tapi malah menggendong ala koala. Seperti seorang Ayah yang menggendong putri kecilnya yang sedang tidur.


"Sudah selesai foto-fotonya?" Tanya Mama.


"Sudah, Ma. Alex, bawa Ayna ke kamar dulu ya Pa, Ma." pamitnya.


"Jadi apa cucu kami sudah proses?" Tanya Papa tak sabar menggendong cucu.


"Masih loading, Pa." Jawab Alex segera.


"Kamu kurang topcer itu" Ledek Papa.


"Bukan, Pa. Mungkin karena kami masih diberi waktu untuk saling mengenal. Juga saling mencintai. Tenang saja cucu Papa dan Mama, itu hanya masalah waktu." Ucap Alex segera. Ia menikmati setiap proses yang terjadi.


Papa dan Mama hanya mengangguk pelan.


'Kenapa dia belum siuman? apa dia sudah mati?' Batin Arga.


Arga duduk menunggu pasien yang dari pagi belum juga siuman. Aca terbaring lemas dengan infus yang menggantung.


'Akhirnya aku bebas juga.' Arga bersorak gembira dalam hati.


"Syukurlah, akhirnya kamu siuman juga." Ucap Seorang wanita paruh baya.


"Aku di mana, Ma?" Tanya Aca melihat sekitarnya. Ia juga melihat Arga ada di sana.


"Kamu di rumah sakit." Ucap Mamanya Arga.


"Ru-rumah sakit? bagaimana keadaan bayiku, Ma?" Wajah aca cemas, ia ingat bagaimana tadi pagi ia terjatuh karena mengejar Arga.


"Anakmu sudah tiada, ia tak mau terlahir dari ibu sepertimu." Arga menjawab segera.


"Arga..." Bentak Mamanya tak senang.


"Sudahlah, Ma. Diberitahu sekarang ataupun nanti sama saja. Katakan kalau dia keguguran." Ucap Arga santai.


"Apa???" Pekik Aca. Ia bagai tersambar petir mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Ma... Arga bohong, kan? anakku baik-baik saja, kan?" Air mata Aca sudah tumpah.


"Kamu sabar, ya." Mamanya Arga terpaksa menenangkan menantunya tersebut.


"Tidak, Ma. Anakku baik-bail saja. Dia anak yang kuat. Ia tak mungkin meninggalkanku. Iya kan, Nak." Aca memengangi perutnya sambil menangis histeris. Ia telah berpisah dengan anaknya, bahkan sebelum anak itu terlahir.


Mamanya Arga menepuk-nepuk pundak Aca. Ia sedih dengan kejadian yang dialami Aca.


"Hei... Hei... Berhentilah menangis." Arga merasa risih mendengar suara tangis itu.


"Karena anak itu sudah tiada, aku jadi tidak perlu bertanggung jawab apapun lagi." Ucap Arga tersenyum lebar, seperti orang yang menang lotre.


"Arga... ini semua gara-gara kamu, aku kehilangan anakku." Aca melampiaskan kemarahannya.


"Kenapa kau malah menyalahkanku? kau yang membunuh anakmu sendiri." Ucap Arga dengan sorot mata tajam. Tak terima disalahkan.


"Arga... jaga ucapanmu." Ucap Mamanya kembali. Putranya itu sudah keterlaluan.


"Jika kamu tak mengacuhkanku, aku tak perlu mengejarmu. Ini semua salahmu, Arga... kau pria jahat." Aca melempari Arga dengan apapun benda yang berada di dekatnya.


"Siapa juga yang menyuruhmu mengejarku? bukannya aku sudah memperingatkanmu?" Tatapan Arga benar-benar dingin.


"Aku akan segera mengirimkan surat perceraian."


"Arga, kamu nggak boleh begitu..." Ucap Mama yang tak direspon Arga. Karena pria itu segera meninggalkan kamar pasien itu.


"Arga... apa yang kamu katakan? kau memang pria kejam yang tak berperasaan." Aca kembali menangis histeris. Ia telah kehilangan bayinya dan kini Arga juga menceraikannya.


"Arga... kau jahat. Aku membencimu. Kau memang pria jahat. Kau membuatku kehilangan anakku..."


Mamanya Arga memeluk Aca, untuk menenangkan wanita yang histeris itu.


'Ini semua gara-garamu Ayna. Ayna, kau memang sumber semua masalah.Aku tak akan memaafkanmu!!!' Aca meremas tangannya geram.


Sementara Arga berjalan ke parkiran sambil bersiul-siul, ia begitu sangat bahagia. Masalahnya telah sirna. Ia sudah tak perlu bertanggung jawab pada anak yang masih dipertanyakan itu. Lalu... ia dan Aca akan segera bercerai. Mereka tak akan ada ikatan lagi.


'Ay, aku akan mengejarmu kembali. Tak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita.'


Arga tersenyum sesaat, tapi tiba-tiba wajahnya jadi berubah kecut. Ia melupakan seseorang.


'Masih ada pria si-alan itu!!!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2