SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 43 - TENTANG AYNA


__ADS_3

)) FLASH BACK ON ((


Sekitar 5 tahunan yang lalu...


Ayna menghembuskan nafas berkali-kali di depan lobi sebuah perusahaan. Hari ini hari pertama wanita berambut panjang itu akan bekerja.


Ia menarik nafas panjang, mendongakkan sedikit dagunya. Ini hari pertamanya, jadi ia harus percaya diri dan memberi kesan baik.


"Aduh.." Ayna hampir tersungkur saat bahunya didorong oleh tubuh seseorang dari belakang.


"Ma-maaf." Ucap pria itu yang ternyata adalah Arga.


Ayna mengangguk, untung ia dapat menahan tubuhnya, jika tidak ia pasti tersungkur ke lantai. Sakitnya tak seberapa sih, tapi malunya ini.


Ayna melihat pria itu yang berlalu pergi dengan tergesa-gesa, setelah mengucapkan maaf.


Tak lama Ayna sudah berada di depan meja kerjanya. Senyum pun mengambang. Ia akan memulai semua dari sini. Ia akan bekerja dengan baik.


"Ayna..."


"Ya, Pak." Jawab Ayna cepat, ia meletakkan tas dan mendatangi meja kepala bagian yang tadi memanggilnya.


Kepala bagian itu memberikan Ayna beberapa berkas untuk segera di kerjakan.


"Kalau kamu merasa bingung, segera tanya saya." Ucap kepala bagian itu.


"Ba-"


"Apa yang bisa kamu kerjakan ini??? kalau nggak bisa kerja mengundurkan diri saja!!!" Bentak suara dari dalam ruangan.


Ucapan Ayna terjeda, wanita itu kaget mendengar suara bentakan dari ruangan yang tak jauh dari mereka. Suara pria di dalam itu seperti sedang memarahi orang lain.


"Ayna..." Panggil kepala bagian.


"Ma-maaf pak." Ayna segera menoleh kembali. "Saya permisi, pak."


Ayna akan berjalan menuju mejanya. Saat melewati ruangan itu ia me-rem mendadak, karena seorang pria keluar tiba-tiba dari ruangan itu.


'Inikan pria tadi.' Batin Ayna mengingat pria yang menabraknya di lobi.


Arga tak melihatnya, ia hanya tunduk dan melangkah cepat ke meja kerjanya.


'Apa dia dimarahi?' Ayna melihat Arga dari meja kerjanya. Kebetulan meja mereka saling berhadapan walau dengan jarak yang cukup jauh.


'Astaga...' Ayna pun mengalihkan pandangan ke berkas yang akan dikerjakannya, saat Arga melihat ke arahnya.


Hari-hari pun berlalu. Ayna bekerja dengan baik, karena kepala bagian dan rekan yang lain selalu membantunya. Dan selama itu pula, ia melihat Arga yang masuk ke ruangan atasan mereka dan keluar dengan wajah menunduk.


Sudah tak mengherankan lagi Arga selalu dimarahi. Pekerjaan Arga selalu kurang di mata atasan mereka.


Hari itu dari meja kerjanya, Ayna melihat Arga berdiri di depan pintu atasan. Pria itu tampak menghembuskan nafas berkali-kali.

__ADS_1


"Pak." Panggil Ayna menghampiri Arga.


Arga menoleh dan kaget ketika Ayna memberinya sebotol minuman. Wanita itu tersenyum dan kembali ke tempatnya.


Arga tersenyum samar, melihat botol minuman yang bertuliskan semangat dengan emot senyum. Ia pun menenggak air dalam botol tersebut dan masuk ke dalam ruangan, tempat atasan killernya itu.


Saat jam pulang kerja, Arga berdiri di lobi. Matanya melihat orang-orang yang keluar.


Senyumnya terbit melihat Ayna yang keluar. Ia sebenarnya bisa menemui Ayna karena mereka masih berada dalam lantai yang sama, meski devisi mereka berbeda. Tapi jika ia menghampiri Ayna di sana, rekan kerjanya pasti akan heboh.


"Kamu.." Ucap Arga mendekati Ayna.


Wanita itu berhenti dan melihat pria yang di hadapannya.


"Te-terima kasih buat minumannya." Arga jadi gugup.


"Oh iya. Nggak apa kok, Pak."


"Sebagai gantinya, kapan kamu ada waktu? aku akan mentraktirmu." Ucap Arga cepat.


"Nggak usah repot-repot, Pak." Tolak Ayna segera.


"Kalau kamu nggak keberatan, berikan nomormu." Arga menyodorkan ponselnya.


Ayna menatap Arga bingung.


"Saat kamu ada waktu, kamu bisa meneleponku, kapan aku bisa mentraktirmu." Ucap Arga meyakinkan wanita berwajah bingung itu.


Ayna meraih ponsel tersebut dan menekan nomornya. Lalu menyerahkan kembali.


"Kamu bisa meneleponku jika ada waktu. Aku akan mentraktirmu. Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mendapatkan nomor ponsel Ayna, Arga pun berlalu pergi.


###


Ayna mendengus. Ia mengira jika ia yang akan menghubungi Arga, jika sudah ada waktu. Tapi pria itu selalu meneleponnya untuk menanyakan kapan dirinya ada waktu untuk ditraktir.


Saat berada di kantor, Arga bersikap biasa. Sama seperti rekan-rekan kerja lainnya. Tapi saat malam tiba, pria itu pasti meneleponnya. Awalnya membahas kapan waktu luangnya, tapi lama-lama membahas tentang dirinya.


'Apa dia sedang pdkt?'


Ayna akhirnya meluangkan waktu untuk menerima traktiran Arga. Pria itu terus menerornya tiap malam.


"Halo..." Jawab Ayna pada layar ponsel. Ia sudah sampai di Mall, tempatnya janjian dengan Arga.


"Ay, kamu sudah sampai?" Tanya Arga.


"Sudah."


"Tunggu sebentar ya, Ay. Jalanan macet karena hujan." Ucap Arga yang sedang berteduh.


Setelah memutuskan panggilan mereka, Arga mengambil mantel dari bagasi motornya. Ia segera memakainya. Ayna sudah sampai, ia tak boleh membuat wanita itu menunggu lama.

__ADS_1


Sekitar 30 menit, Arga sampai di parkiran Mall. Ia segera melepas mantel dan melipatnya asal.


Arga berlari memasuki Mall. Ayna mungkin sudah pulang, ia terjebak macet yang cukup lama karena hujan.


Mata Arga tertuju pada seorang wanita yang berdiri di dekat pintu masuk. Wanita itu menepuk-nepuk betisnya pelan, pasti kelamaan menunggunya.


"Ma-maaf, Ay." Ucap Arga setelah menghampiri Ayna. "Tadi hujan de-"


Ucapan Arga terjeda saat wanita itu mengelap dahinya yang basah dengan ujung tangan kaosnya. Basah karena keringat yang bercucuran.


"Ma-ma-ma-maaf." Ayna segera menurunkan tangannya. Tadi ia repleks melakukan itu.


"Nggak apa kok, Ay." Jawab Arga sambil tersenyum. Apa yang tadi Ayna lakukan membuatnya berdebar.


Keduanya saling diam dan canggung sejenak. Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil melirik Ayna.


"Mau nonton?" Tanya Arga menepis rasa canggung mereka.


Ayna mengangguk kikuk.


Mereka berjalan beriringan menuju bioskop.


"Kita mau nonton film apa?" Tanya Arga bingung. Ia suka film action dan horor, tapi belum tentu Ayna suka menonton itu.


"Ini." Ayna menunjuk poster film yang ingin ditontonnya.


Arga mengangguk, wanita memang menyukai film yang berbau romance.


Di dalam bioskop, Ayna meminum minuman yang diberikan Arga.


Arga melirik Ayna. Film belum dimulai tapi minuman itu sudah habis.


Arga meruntuki dirinya, seharusnya ia mengajak Ayna nongkrong dahulu baru menonton. Wanita itu pasti kehausan menunggunya yang terjebak macet, karena hujan.


"Ini minumlah." Arga memberikan cup minumnya.


"Nggak usah." Tolak Ayna cepat. Ia tadi memang kehausan. Tapi jika ditambah minum lagi, bisa-bisa saat menonton ia tebelet ke toilet dan itu menganggunya menonton film.


Film pun mulai diputar. Ayna tersenyum menonton film yang membuatnya baper. Ia merasa jika ia adalah pemeran utama wanitanya.


Arga bukan menonton film, ia malah fokus menatap wajah cantik di sampingnya. Yang penuh senyum pada layar besar itu.


"Ay... mau jadi pacarku?" Tanya Arga.


Dag


Dig


Dug


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2