
Pembunuh? apa maksudnya?
Ayna tak mengerti, ia melihat tatapan aneh wanita yang memanggilnya itu. Wajah itu penuh amarah dan kebencian melihat dirinya.
"Siapa, Ay?" Tanya Mama bertanya-tanya.
"Nggak tahu, Ma. Ayo kita pergi saja dari sini.." Ayna mengajak Mama untuk segera pergi. Aca pasti mau mencari masalah dengannya.
"Apa kau senang dan bahagia membuatku seperti ini?" Kan benar, Aca meninggikan suaranya. Membuat beberapa perhatian orang pun jadi tertuju pada mereka.
'Mas Alex, mana sih?' Ayna menghembuskan nafas dalam. Hanya berpisah sebentar saja dengan Alex. Ada saja yang menghampiri dan ingin mencari masalah dengannya.
"Apa kau tahu... aku sudah kehilangan suamiku, bahkan aku juga telah kehilangan anakku." Lanjut Aca kembali dengan suara bergetar. Semua gara-gara Ayna.
Mendengar itu, Ayna pun membalikkan tubuhnya. "Jika kau kehilangan mereka, sebaiknya segera melapor ke kantor polisi. Bukan menyalahkanku, Aca."
"Kau..." Aca benci mendengar ucapan Ayna yang seakan meledeknya. Ia melangkah untuk segera menghampiri Ayna.
"Mau apa kamu sama menantu saya?" Mama segera menghadang Aca.
"Hei Bu... minggirlah, aku punya urusan sama wanita pembawa sial i-"
Plak
Tangan Mama melayang ke wajah Aca
"Jaga ucapanmu pada, Ayna." Mama jadi emosi dengan wanita yang tidak punya etika itu. Ia juga tak terima menantunya di katakan seperti itu.
"Kenapa Ibu menampar saya? jelas-jelas menantu Ibu itu memang pembawa sial. Gara-gara dia suamiku menceraikanku dan aku keguguran." Jelas Aca dengan mata berkaca-kaca.
Ayna sangat kaget mendengar itu. Ternyata Arga telah menceraikan Aca dan Aca mengalami keguguran. Kasihan Aca sudah kehilangan anak.
"Aku kehilangan anakku yang bahkan belum dilahirkan, itu semua gara-gara kau." Aca pun menangis histeris meluapkan amarahnya. Tetap menyalahkan Ayna atas apa yang terjadi.
"Kamu wanita yang sangat jahat dan begitu tega melakukan ini padaku. Kau pembunuh. Kau membunuh anakku." Aca berteriak-teriak. Ia ingin membuat Ayna malu.
"Apa yang kau katakan? aku tak pernah melakukan apapun padamu bahkan pada anakmu itu." Ayna membela diri. Ia tak mengerti, kenapa Aca malah menyalahkan dirinya.
"Jika saja saat itu aku tak menerima tawaran kerja darimu, kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin kehilangan anakku." Aca menyesali yang telah berlalu.
"Kau adalah sumber masalah. Ini semua gara-gara kau, Ayna..." Pekik Aca menunjuk Ayna. Aca tampak sangat emosi.
"Kau..." Ayna kesal dengan tuduhan asal Aca padanya. Ia pun menghampiri Aca. Menjambak rambut wanita itu dengan kuat.
"Jangan pernah menyalahkanku. Kau dan Arga yang punya masalah. Jangan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahanmu." Ayna tak terima ucapan Aca.
Emosi Aca kian meledak, ia pun membalas Ayna. Menjambak rambut Ayna.
__ADS_1
Mereka pun terlibat jambak-jambakan.
Mama yang melihat itu jadi kebingungan dan memanggil security yang berada di sekitar.
"Kau pembunuh Ay. Kau membunuh bayiku. Kau jahat." Aca seperti tampak stres kehilangan sang anak.
"Sadarlah, kau yang membunuh anakmu sendiri. Kau yang membunuhnya bukan aku." Pekik Ayna.
Security pun merelai keduanya. Penampilan Ayna dan Aca sama-sama sudah berantakan. Rambut mereka sudah seperti singa. Sangat semraut sekali.
"Aku tak akan memaafkanmu. Kau membunuh anakku." Aca masih berteriak meski security sudah menggeretnya pergi.
"Sayang, kamu nggak apa?" Tanya Mama khawatir.
"Ayna nggak pernah melakukan apapun padanya, Ma. Ayna bukan pembunuh, Ma. Percayalah pada Ayna." Ucap Ayna menangis terisak-isak berusaha menjelaskan pada Mama. Ia tak mau mertuanya berpikiran yang tidak-tidak, karena mendengar ucapan Aca itu.
Aca sangat sengaja menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi. Karena Aca mengangap Aynalah awal semua masalah.
Padahal saat itu, Ayna hanya ingin membantu memberikan info soal lowongan pekerjaan di kantornya bekerja. Ia sangat ikhlas membantu Aca mendapatkan pekerjaan.
Tapi, perceraian dan keguguran Aca itu. Kenapa malah menyalahkan dirinya? sementara di sini Ayna juga adalah korban dari perselingkuhan mereka.
"Sudah... sudah... Mama tahu, Nak. Mama sangat percaya sama kamu. Kamu anak baik. Di sini kamu korbannya." Mama memeluk Ayna sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Ayo... ayo kita ke Alex saja." Mama menuntun sang menantu. Ayna sudah tampak lemah.
"Halo... Mama di mana?" Tanya Alex kesal, saat ia kembali ke tempat itu. Ia tak melihat 2 wanita kesayangannya. Pasti mereka sudah kembali melalak.
"Tunggu di sana, Ma. Jangan kemana-mana. Aku akan segera kesana." Ucapnya lalu memutuskan panggilan ponselnya.
Alex melangkahkan kakinya lebar dan cepat. Ia akan kembali ke parkiran. Mama dan Ayna ternyata sudah sampai parkiran.
"Mas Alex..." Ayna segera berlari begitu melihat sang suami. Ia segera memeluknya. Tangis Ayna kembali tumpah.
"Kenapa, Ma?" Tanya Alex bingung, ia pun melihat sang Mama.
"Kita pulang saja." Ajak Mama. "Nanti saja kamu tanya, kalau Ayna sudah tenang." Saran Mama.
"Sayang, ayo kita pulang." Alex merangkup wajah sedih Ayna.
Beberapa saat berlalu...
"Aca jadi menyalahkanku atas yang terjadi, Mas.." Ucap Ayna setelah menceritakan semua yang terjadi pada sang suami. Kini ia duduk di pangkuan Alex, sambil menyembunyikan wajahnya di dada tegap milik suaminya.
"Dia yang salah, bukan kamu. Sudah, nggak usah kamu dengarkan omongannya." Alex sangat geram mendengar cerita Ayna. Beraninya wanita bernama Aca itu menyalahkan istrinya. Padahal ia dan orang itu alias Arga, yang telah menyakiti hati Ayna.
"Mas, kalau aku tahu begini. Aku nggak akan mau membantunya saat itu. Aca menyalahkanku untuk itu." Ayna jadi menyesal memberi tahu info lowongan pada Aca. Bukannya berterima kasih, Aca malah mencari orang lain untuk disalahkan.
__ADS_1
Alex yang mendengar sejenak menghentikan tangan, yang dari tadi mengelus kepala Ayna.
Jika saat itu Aca tak jadi bekerja di sana. Mungkin takkan ada perselingkuhan Aca dan orang itu. Sudah dipastikan Ayna tentu akan menikah dengan orang itu. Tanpa ada masalah.
"Kenapa, Mas?" Tanya Ayna mendongakkan kepala menatap Alex. Tangan Alex berhenti mengelus kepalanya.
"Sayang..." Alex makin mendekatkan tubuh Ayna padanya.
"Aku bersyukur atas apa yang telah terjadi." Benar, Alex sangat bersyukur.
"Mas..." Ayna kesal mendengar ucapan Alex.
"Karena hal itulah yang membuat kita bersama." Alex tersenyum penuh cinta.
"Tapi Mas, aku harus terluka dahulu untuk hal itu."
"Maaf, jika aku datangnya terlambat, sayang. Aku pasti akan menyembuhkan lukamu." Alex mencubit gemas hidung sang istri.
"Apa luka itu belum sembuh, sayang?" Tanya Alex serius menatap mata sendu Ayna.
Ayna berpikir sesaat. Lalu menggeleng.
"Aku mau katakan terima kasih, Mas. Lukaku sudah sembuh. Aku sangat sangat bahagia bersamamu."
Berada di dekapan pria itu membuat Ayna merasa nyaman dan terlindungi.
"Kalau kamu mau berterima kasih, kamu harus lakukan-"
"Mas Alex..." Ayna menutup mulut sang suami.
"Pasti mesum itu." Timpal Ayna.
"Pikiran kamu saja ya mesum." Alex tertawa. "Aku mau kamu pijatin aku."
"Oh..." Ayna jadi malu.
"Tapi pijatin yang piton itu."
Ayna pun menggigit hidung Alex.
"Dasar..."
.
.
.
__ADS_1