
"Lihatkan kita lulus ujian. Sudah ku bilang, tak ada pengaruh jawaban semalam. Padahal aku jawabnya ngasal, tapi tetap lulus." Ucap Aca dengan wajah tersenyum mengejek.
Aca dan Mona sedang berada di sebuah ruangan, menunggu antrian untuk proses seleksi berikutnya. Proses interview.
Mona tampak gugup. Sangat berbeda dengan Aca. Memang wanita bernama Aca itu sangatlah santai. Seperti sudah sangat yakin akan diterima.
Setelah menunggu lumayan lama. Akhirnya Mona dan Aca pun dipanggil. Mereka pun masuk ke ruang interview.
Tak berapa lama, keduanya keluar dengan wajah kecewa.
"Aku nggak diterima?!" Tanya Aca yang masih tidak yakin. Masa ia tidak diterima di perusahaan itu. Jelas-jelas Ayna akan melancarkan mereka diterima di sini.
"Kau saja yang terlalu percaya pada temanmu itu. Mana mungkin ia mau menerima kita. Itu cuma manis mulutnya saja." Ucap Mona dengan yakin. Dari dulu ia yakin, mereka pasti tidak akan diterima. Mana mungkin Ayna membiarkan mereka berkeliaran di sekitar suaminya.
"Nggak bisa begini." Aca meraih ponsel dalam tasnya. Ia ingin menelepon Ayna.
"Kenapa nggak aktif." Aca mendengus kesal. Nomor ponsel Ayna sudah tidak aktif lagi.
"Ayo, ikut aku." Ajak Aca menggeret Mona.
"Mau kemana?" Mona tampak bingung, Aca membawanya menuju resepsionis.
"Kami ingin bertemu pak Alex." Ucap Aca pada resepsionis.
"Mau apa kita sama Alex?" Bisik Mona, Aca kira gampang bertemu pria itu.
"Apa sudah buat janji dengan pak Alex?" Tanya resepsionis tersebut.
"Belum. Katakan saja Aca dan Mona ingin menemuinya. Kami teman istrinya." Aca pun menyuruh menyampaikan pesannya itu.
"Apa kau kira, dia mau menemui kita?" Saat masih jadi karyawan saja, ia sulit bertemu Alex. Apa lagi saat sekarang, yang bukan apa-apa di perusahaan ini.
"Kenapa dia nggak mau?" Aca malah balik bertanya pada Mona.
"Maaf Mbak, pak Alexnya tidak ingin bertemu anda." Ucap resepsionis memberi tahu.
"Apa? Katakan padanya kami ini teman istrinya." Aca memperjelas ucapannya.
"Maaf Mbak. Tapi pak Alex sudah berpesan seperti itu."
Aca sangat kesal, bisa-bisanya ia ditolak bertemu pria itu.
"Ayo, kita pergi." Mona pun segera menarik Aca keluar dari kantor tersebut.
"Kenapa dia begitu sombong? Apa dia nggak tahu, orang sombong bakalan mati juga." Aca mengerutu kesal.
"Aku mau pulang. Dan kau segera cari tempat tinggal. Rumahku bukan tempat penampungan." Setelah mengatakan itu, Mona segera berlalu pergi.
__ADS_1
'Dasar, wanita sombong. Pantaslah pria itu berpaling. Aduh... Kenapa semua orang begitu sangat menyebalkan.'
Aca tampak berpikir dan kembali senyum.
'Kenapa nggak aku datangi saja rumah Ayna? Mungkin dia nggak tahu kalau aku nggak diterima.'
Kaki Aca pun segera melangkah pergi. Ia akan ke rumah Ayna segera.
Setelah setengah jam perjalanan, taksi membawa Aca menuju sebuah komplek perumahan. Taksi diberhentikan saat akan melewati pos security.
"Maaf Bu... Anda mau ke mana?" Tanya Security segera.
"Saya mau ke rumah pak Alex." Jelas Aca memberitahu.
"Maaf Bu, tidak ada penghuni komplek yang bernama pak Alex."
"Tidak mungkin. Beberapa hari yang lalu, aku baru datang ke rumahnya. Ini rumah orang tuanya pak Alex."
"Maaf Bu. Anda dapat menghubungi penghuni komplek terlebih dahulu." Security harus menaati aturan. Tak bisa membiarkan sembarangan orang masuk tanpa ada izin dari penghuni yang bersangkutan.
"Saya baru dari sini semalam, Pak." Aca sangat kesal. Ia malah terhalang security untuk masuk ke dalam komplek.
'Ayna!!!' Aca sangat geram. Hari ini ia terus-terusan ditolak.
Aca tak punya nomor Ayna. Bagaimana ia bisa menelepon dan bertemu dengan wanita itu.
"Maaf Bu. Silahkan hubungi penghuni rumah lebih dahulu. Kami tidak bisa membiarkan anda masuk. Sekali lagi maaf, kami hanya menjalankan tugas." Security tetap tak mengizinkan.
Aca cukup kesal, kemarin ia dan Mona datang tidak ada di cegat oleh security.
'Ayna.. Sialan.' Aca mulai beranggapan, Ayna pasti sudah merencanakannya.
###
"Ayna..." Panggil Mama yang sudah berpakaian rapi.
"Saya, Ma." Jawab Ayna segera. Ia juga sudah berpakaian rapi.
"Ayo, kita pergi arisan." Ajak Mama menggandeng menantunya.
"Ingat pesan Mama. Kalau ada yang bicara kasar sama kamu, kamu balas saja. Status kamu sekarang istrinya Alex. Jadi jangan biarkan orang-orang itu nantinya mengejek kamu." Pesan Mama saat melihat wajah tegang Ayna.
"I-iya, Ma." Ayna mengangguk, menetralkan kegugupannya.
Mereka diantar supir sampai di sebuah rumah mewah. Karena arisan ibu-ibu, Mama mengajak Ayna. Sementara Alex masih sibuk di kantor.
"Hai... Jeng." Ucap wanita tuan rumah bercipika cipiki pada Mama.
__ADS_1
"Apa ini? Menantu dadakanmu ya?" Tanyanya menatap Ayna aneh.
"Saya Ayna. Apa kabar tante?" Ayna berbasa basi, ia menyalami wanita itu sejenak. Ayna menunjukkan sopan santun pada orang tua.
"Menantu saya ini, sangat sopan Jeng." Mama senang, Ayna sangat sopan dan beretika.
"Tante... mana Alex?" Seorang wanita muda tiba-tiba menghampiri mereka. Ia tak melihat pria tampan itu.
"Kamu..." Bisik Tuan rumah memegangi putrinya. Ia agak malu dengan sikap putrinya. Datang-datang langsung nanyai Alex, bukannya menyalami tamu.
"Kenapa, Mam?" Wanita muda itu malah bertanya pada Maminya.
Mama malah menggeleng pelan. Anak-anak zaman sekarang, sangat kurang etikanya. Untung saja ia punya menantu yang masih tahu sopan santun.
"Ayo, mari dinikmati hidangan yang tersedia. Ayna, kamu jangan sungkang." Ucap Tuan rumah dengan nada lembut.
"Terima kasih banyak, Tante." Ucap Ayna sopan.
Mama dan Ayna menuju meja hidang. Mata Ayna menatap senang berbagai makanan yang tersaji.
"Kamu makan saja yang kamu suka." Bisik Mama.
Ayna mengangguk dan mengambil kue coklat yang sangat menggiurkan.
'Enaknya.' Coklat yang meleleh, bikin hati Ayna seakan meleleh juga.
"Apa kamu nggak pernah makan?" Tanya putri pemilik rumah yang menghampiri Ayna.
"Ahh... Aku lupa. Kau kan hanya beruntung, bisa menikah dengan Alex." Sambungnya lagi.
"Lalu apa masalahnya?" Tanya Ayna sambil mengambil kue yang lain dan melahapnya.
"Apa kau pikir kau cinderella?" Wanita itu tampak kesal. "Kau itu tidak pantas menjadi istri Alex." Ia kesal Alex menikah dengan wanita yang tah dipungut dari mana.
"Jika aku tak pantas jadi istri Mas Alex, kenapa bukan kau yang menikah dengannya. Ya?" Tanya Ayna dengan menunjukkan wajah bingung.
"Apa mungkin kau bukan tipe pria itu?" Wajah Ayna berubah mengejek wanita itu.
"Kau..." Wanita itu menghembuskan nafas kasar.
"Jika kau masih sangat penasaran. Kau bisa bertanya langsung pada Mas Alex, kenapa dia mau menikah denganku? Atau kau bisa bertanya pada mertuaku." Ayna memberikan senyuman, lalu ia berjalan mendekat pada Mama yang berkumpul dengan teman-temannya. Meninggalkan wanita itu yang sudah memasang wajah kesal.
'Mas Alex, kenapa banyak banget sih pengagummu!!!'
.
.
__ADS_1
.