
"Mas... nggak mampir dulu." Ajak Ayna.
"Nggak usah, Ay. Aku harus segera pulang. Kirim salam saja sama Ayah dan Bunda." Ucap Arga tampak tergesa-gesa.
Ayna mengangguk dan tak lama mobil itu pun berlalu.
Ayna masih menatap mobil yang makin lama makin menjauh. Ia merasa bingung, akhir-akhir ini Arga agak aneh.
Setelah mengantarnya pulang, kekasihnya itu segera pergi. Padahal biasanya Arga sering makan malam bersama keluarganya. Bahkan pria itu kadang tak mau pulang meski hari sudah gelap.
'Mungkin ia sedang sibuk dengan keluarganya.' Ayna berpikiran positif, Arga mempunyai keluarga besar. Mungkin ia sibuk menemani orang tuanya untuk mengabari pernikahan mereka. Mengingat acara pernikahan tinggal sebentar lagi.
Tapi ternyata Arga tidak seperti itu.
Ia menekan bel dan Aca membuka pintu sambil tersenyum lebar. Setiap setelah mengantar Ayna pulang, pria itu akan segera ke apartemen Aca.
Arga segera menerkam Aca. Menciumi wanita itu.
"Pak A-Arga." Aca merangkup wajah pria itu.
"Kenapa?" Tanya Arga dengan wajah yang sudah bergairah. Ia tadi melaju kencang menyetir mobil, karena sudah tak sabar bercumbu.
"Ki-kita jangan seperti ini." Ucap Aca membenarkan pakaiannya. " Bagaimana jika Ayna tahu?"
"Dia tak akan tahu." Ucap Arga kembali memberikan ciuman kasar yang menuntut.
Aca tak bisa berpikir, ia menuruti rasa dan gairah yang menguasai dirinya.
Arga meletakkan Aca di atas tempat tidur dan melepas pakaian Aca. Membuat wanita itu polos tanpa sehelai benang pun.
Arga dan Aca sudah sama-sama dilanda gairah. Mereka pun melakukan hal seharusnya tak mereka lakukan.
'Bukan perawan.' Batin Arga yang begitu mudahnya memasuki goa itu.
Karena sudah terbakar gairah, Arga tetap melanjutkan menuntaskan hasratnya.
Aca menikmati dengan perasaan hati yang berdebar-debar. Tidak bagi Arga, ia hanya mengikuti naf-su tanpa pakai perasaan sedikit pun.
Ponsel Arga yang berbunyi tak terdengar lagi. Suara deringan itu seakan tenggelam oleh erangan dan ******* di kamar itu.
Paginya Arga terbangun dan melihat begitu banyak pesan dan panggilan masuk dari sang kekasih.
'Apa yang telah kulakukan?' Arga meruntuki diri yang tak bisa menahan perbuatannya. Ia telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Selama ini mereka menyalurkan hasrat tanpa bersetubuh. Tapi tadi malam, Arga tak bisa menahan diri.
"Selamat pagi." Ucap Aca dengan senyum mengambang. Ia pun memeluk tubuh Arga.
"Tolong menjauh." Arga melepaskan tangan Aca. Membuat wanita itu kaget dan juga bingung.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" Tanya Aca melihat Arga memakai pakaiannya.
"Anggap ini tak pernah terjadi. Aku akan mentransfer uangnya padamu." Jawab Arga.
"Apa maksud kamu? aku bukan wanita bayaran." Aca merasa Arga memperlakukannya seperti wanita malam.
"Jadi apa? kamu menggodaku untuk uang itukan. Kamu mau meminta pertanggung jawabanku? jangan berlagak suci." Ucap Arga segera. Aca bukan seorang perawan, pasti sudah banyak pria yang tidur dengannya.
"Kita telah melakukan hal seperti itu, jadi kamu harus bertanggung jawab. Nikahi aku dan tinggalkan Ayna." Aca mempertegas ucapannya.
Arga tertawa sumbang. "Menikahimu atau meninggalkan Ayna? keduanya itu tidak mungkin." Cibir Arga.
"Arga..." Pekik Aca kesal. "Aku akan mengatakan semua pada Ayna."
"Katakanlah, jika kamu punya bukti." Ucap Arga santai. Jika Aca mengatakan pada Ayna, ia akan menampik tuduhan itu mentah-mentah. Ayna mencintainya, kekasihnya pasti akan lebih percaya padanya.
"Arga, aku tak akan melepaskanmu." Aca kesal, ia mengira Arga akan melepaskan Ayna dan lebih memilih dirinya.
###
Aca memijat pelipis saat keluar dari ruang CCTV. Para pegawai meminta maaf, bahwa beberapa hari ini CCTV sedang rusak dan dalam masa perbaikan.
Aca tak mempunyai bukti untuk ditunjukkan pada Ayna, bahwa tunangannya itu telah berselingkuh dengannya. Ia tak ada memasang CCTV di dalam ruangan.
Bukti dari ponsel, mereka tak pernah berkirim pesan. Arga selalu meneleponnya. Hal wajar, jika Arga menelepon untuk urusan pekerjaan.
Sore itu Arga datang ke rumah Ayna. Ia membawa seikat bunga.
"Mas, nyongok nih ceritanya." Ayna cemberut menerima bunga tersebut.
"Iya, maaf Ay. Tadi malam aku sudah tidur jadi nggak bisa angkat telepon atau membalas pesan kamu." Alasan Arga.
"Kok cepat tidurnya?" Ayna mengingat jika ia menelepon Arga masih sekitar pukul 7 malam-an.
"I-iya, aku ngantuk. Tapi tadi pagi begitu bangun, aku langsung membalas pesan kamu, kan." Arga meyakinkan Ayna. Tunangannya tak boleh curiga.
"Apa Mas Arga sakit?" Ayna jadi khawatir, ia memegang kening Arga.
Pria itu terdiam sesaat. Rasa bersalah menghampirinya.
"Agak deman, Mas. Mas harus minum obat, nanti aku buatkan bubur."
Arga mengangguk patuh.
'Maafkan aku, Ay. Aku janji, itu tak akan terjadi lagi.' Arga bertekad tak akan tergoda lagi pada Aca. Ia tak mau kehilangan wanita sebaik Ayna.
###
__ADS_1
Aca meremas tangannya saat pria itu mentransfer sejumlah uang padanya. Sikap Arga kembali dingin padanya.
Bahkan, walau bagaimana ia menggoda Arga, pria itu tak merespon bahkan melirik sedikit pun.
Dan hubungan Arga dengan Ayna bertambah dekat. Karena beberapa minggu lagi mereka akan menikah.
Salah satu cara agar Arga meninggalkan Ayna adalah dengan menjebak pria itu.
Arga mendapat tugas untuk dinas keluar kota beberapa hari dan sebagai sekretarisnya Aca sudah pasti ikut.
Saat urusan pekerjaan sudah mau selesai, Aca memulai misinya. Ia memasukkan obat perangsang ke dalam minuman pria itu dengan cepat. Agar tidak ada yang tahu.
Aca membawa nampan dan meletakkan minuman yang sudah ditandainya. Untuk Arga, dirinya dan untuk wakil manajer.
Arga masih membahas pekerjaan dengan wakilnya. Tiba-tiba ia merasakan tak enak badan. Hingga akhirnya memilih istirahat dan melanjutkannya besok.
Sekitar 30 menit berlalu, Aca mengetuk pintu kamar Arga. Beralasan mengantar berkas yang tertinggal.
Arga yang sedang dipenuhi gairah dan tak bisa berpikir jernih, menarik Aca padanya.
Aca berusaha membawa Arga ke kamarnya, yang berada tepat di sebelah kamar Arga. Ia sudah menyiapkan semuanya.
Setelah sampai kamarnya, Arga kembali menikmati tubuh Aca. Pria itu telah terbakar gairah dan tak dapat menahan hawa naf-sunya.
Aca menerima setiap hentakan demi hentakan kenikmatan dari pria itu. Ia memang sudah jatuh cinta dengan Arga.
Paginya Arga terkejut melihat dirinya polos tertutup selimut. Dan ada Aca disampingnya, sama seperti dirinya juga.
Arga berusaha mengingat apa yang terjadi. Tapi ia tak bisa mengingat dengan jelas.
'Aku tak akan kehilangan Ayna, aku tak akan kehilangan Ayna.'
Arga memunguti pakaiannya untuk segera dipakai. Ia pun segera keluar sebelum membangunkan wanita itu.
Mendengar suara pintu, Aca pun bangun dan segera bangkit. Ia mengambil kamera yang berada di sela-sela dinding.
'Kau akan menjadi milikku, Arga. Tunggu saja tanggal mainnya.'
))FLASHBACK OFF((
.
.
.
Ada yang kangen Mas Alex?😃☺️
__ADS_1