SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 81 - SI BUCIN


__ADS_3

"Sayang..." Panggil Alex melihat Ayna memunggungi dirinya. Istrinya sedang ngambek saat ini.


Alex merapatkan tubuhnya, memeluk tubuh polos Ayna yang terbalut selimut.


Ayna menggeser tubuhnya menjauh. Ia kesal pada suaminya itu.


"Ay, cuma tiga hari lho." Alex mendekat kembali. Ia ada tugas luar selama 3 hari.


'3 hari? Itukan sangat lama.' Ayna menggeser tubuhnya.


"Sayang... Aku hanya tugas 3 hari paling lama. Aku akan usahakan cepat selesainya, lalu aku akan segera pulang, menemui kamu." Jelas Alex kembali memeluk tubuh Ayna.


"Kamu kira aku bisa lama-lama jauh sama kamu." Bisik Alex kembali. Ia juga tak mau berpisah lama dari wanitanya.


"Tapi, Mas..." Ayna membalikkan badan. Ia menunjukkan wajah sedihnya. Bagaimana bisa tidak melihat Alex selama 3 hari. Ayna menggeleng, ia tak bisa membayangkannya.


"Aku perginya sama, Jo. Aku janji setelah selesai urusan tersebut di sana. Aku akan segera pulang." Alex menyakinkan Ayna. Bagaimana pun ini urusan kantor yang harus segera diselesaikannya.


Sebenarnya Alex ingin mengajak Ayna ikut. Tapi pasti istrinya akan diacuhkannya. Karena selama di sana Alex harus fokus pada pekerjaannya. Ia hanya diberi waktu 3 hari untuk menyelesaikan masalah di sana.


"Sayang..." Tatapan lembut pun Alex berikan pada sang istri.


"Ya sudah, tapi selama di sana Mas Alex harus sering menghubungiku."


Alex mengangguk sambil memberi hormat. "Siap Bos."


"Ish... Apaan sih." Ayna jadi memukul manja dada Alex. Ia akan mengizinkan Alex pergi, toh suaminya itu pergi untuk urusan pekerjaan. Alex harus jadi pria yang bertanggung jawab.


"Sayang jadi begini. Aku kan pergi selama 3 hari." Ucap Alex.


Ayna mendengarkan dengan serius.


"Berarti 3 malam aku nggak nyentuh kamu, dong. Jadi 3 malam dikali jatah 4 ronde, berarti 12 kali. Kamu mau melakukannya 12 kali itu... malam ini, atau setelah aku pulang sa-"


"Mas Alex!!!" Ayna kembali menutup mulut pria itu. Ia sudah serius, ternyata Alex malah membahas hubungan intim mereka.


Alex tertawa sambil menjauhkan tangan Ayna dari mulutnya.


"Atau kamu mau dicicil saja. 2 kali sehari selama 10 hari." Alex memberikan penawaran. Penawaran yang sangat menguntungkan dirinya.


"2 kali 10 bukannya 20. Tapi cuma 12?" Ayna malah fokus pada kali-kali Alex.


Alex menarik hidung Ayna. "Namanya dicicil, sayang. Harus ada bunganya dong."

__ADS_1


Ayna mencubiti Alex. "Kenapa seperti aku punya hutang?"


"Kan memang ada jatahnya. Jika tidak diberikan itu jadi hutang."


Alex memegang tangan Ayna dan meletakkan di lehernya. Ia kembali menikmati wajah merona di bawah kungkungannya.


"Yang ini Dp. Jadi nggak akan dihitung." Goda Alex meniup wajah Ayna.


"Pakai Dp segala." Ayna mendengus. Alex memang nggak mau rugi.


Alex perlahan mendekatkan wajahnya. Ia akan memulai pemanasan dari bibir seksi itu.


Perlahan tapi pasti, keduanya kembali mulai menyatukan penyatuan diiringi ******* dan erangan.


###


Ayna telah menyiapkan koper Alex, berisi pakaian yang dibutuhkan Alex selama berada di sana.


Tubuh Ayna rasanya begitu remuk. Pria itu tadi malam tak ada letih bercinta dengannya.


Benar tak ada letihnya. Sekarang saja Alex tampak begitu bersemangat dengan wajah full senyum.


"Sayang, aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah. Nanti aku pulang, aku bawai ole-ole." Alex pamit ia mengulurkan tangan dan Ayna meraih untuk mencium punggung tangan suaminya.


Alex juga tak lupa menkecup kening dan kedua pipi sang istri.


"Nanti di sana Mas Alex jangan telat makan." Ayna mengingatkan Alex.


"Siap." Alex menjawab cepat. Ia mengangkat sang istri.


Ayna kaget, Alex mengangkat dirinya dan mendudukkannya di atas nakas.


Perlahan Alex mulai menciumi bibir sang istri. Dengan tangan yang merayap aktif. Menyentuh benda kenyal tapi bukan agar-agar.


Tak lama Ayna hanya mampu tersenyum memeluk kepala suaminya itu. Pria itu sedang menunduk untuk mengisi energi.


Suara deringan ponsel membuat Alex mengangkat kepalanya. Ia mendengus melihat panggilan Jo, yang telah menganggu kesenangannya saja.


###


"Hati-hati ya, Mas." Ayna melambaikan tangan saat mobil itu perlahan menjauh dari teras rumah.


Sama seperti Ayna, Alex juga membalas lambaian tangan Ayna. Ia terus melambai, sampai Ayna sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


Alex menghela nafas, ia pun menutup jendela mobil. "Bagaimana 3 hari aku tanpa dia?"


Jo yang sedang mengemudi melirik Alex. Ia tak menanggapi.


"Baru juga berpisah sebentar, aku sudah merindukan Ayna. Bagaimana ini?" Alex mulai galau.


Jo terpelongo sesaat, lalu ia kembali fokus pada jalanan. Tak lucu jika ia menabrak, hanya karena melihat kebucinan orang di sampingnya.


"Jo, kau mendengarkanku tidak. Aku merindukan istriku." Alex kesal, Jo mengacuhkan ucapannya. Ia seperti orang tidak waras yang bicara sendiri.


"Jika pak Alex merindukan istri tercinta, segera temui istri anda." Saran Jo.


"Mana mungkin. Aku harus bertanggung jawab pada pekerjaanku. Jika aku membatalkan karena alasan perasaanku, Ayna juga akan ilfill, bukan. Ayna akan menganggap aku itu pria yang tidak bertanggung jawab." Alex tak mau Ayna berpikir begitu.


"Alex... Jangan lebay."


"Apa katamu? Aku lebay?" Alex tak terima Jo mengatai dirinya.


"Kau itu memang bucin terlebay. Kau hanya pergi 3 hari lho Alex. Tapi galaumu seperti bang Toyib."


"Bang Toyib?" Alex membeo.


"Iya. Yang tak pulang-pulang 3 kali puasa 3 kali lebaran." Jo menggelengkan kepala melihat Alex.


"Hei... Kau itu belum menikah, Jo. Jadi kau belum tahu apa itu perasaan rindu sesungguhnya. Baru juga berpisah sebentar, kau sudah merasakan rindu padanya. Satu jam saja tak melihatnya, itu seakan seperti bertahun-tahun lamanya." Bagi Alex, saat tak melihat Ayna waktu seakan lambat berputar.


"Jika satu jam seperti setahun. 3 hari 72 jam, berarti seperti 72 tahun dong kau tak melihat adik ipar." Jo mulai menghitung.


"Benar, bukannya itu sangat lama." Alex mengangguk. Ia setuju perumpamaan Jo.


"Jika sampai 72 tahun... aku nggak yakin umurmu sampai segitu." Jo akan tertawa tapi segera ditahan.


"Maaf pak Alex. Saya hanya becanda." Jo kembali ke mode formalnya. Tatapan Alex sedang tidak bersahabat.


Beberapa saat berlalu, mereka sudah berada di dalam pesawat. Alex menatap jendela pesawat. Ini pertama kalinya, ia pergi jauh setelah menikah. Dan pergi sendiri tanpa sang istri.


Alex segera mengusap air mata yang tiba-tiba saja jatuh. Baru juga pergi, ia sudah merindukan istri tercintanya.


'Dia menangis.' Jo sempat melihat Alex yang mengusap matanya. Ia ingin tertawa melihat teman satunya itu. Benar-benar galau.


'Apa seperti itu rindu yang sesungguhnya? Dasar Alex si bucin.'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2