
"Ay... mau jadi pacarku?" Tanya Arga.
Ayna menggigit bibir bawahnya, ia jadi kikuk. Arga tiba-tiba menembaknya saat mereka sedang menonton film.
"Ay..." Panggil Arga.
Ayna menoleh ke arah Arga.
"Aku menyukaimu." Ungkap Arga dengan wajah serius.
Ucapan dan tatapan lembut Arga. Membuat hati Ayna sedikit berdebar.
"Kamu mau jadi pacarku?" Tanya Arga kembali.
Ayna melihat Arga sesaat, ia pun tersenyum lalu mengalihkan matanya pada layar bioskop.
Arga menaikkan alisnya. Ia bingung apa jawaban wanita itu? Ayna hanya diam.
Pria itu perlahan mendekatkan tangannya pada tangan Ayna. Dekat... dekat... dan semakin dekat. Hingga Arga memegang tangan itu.
Arga menghembus nafas pelan sambil menggenggam tangan Ayna. Dan seketika wajahnya tersenyum saat genggaman tangannya bersambut.
Arga menggandeng Ayna menuju tempat parkiran sepeda motornya. Setelah menonton dan makan di kafe mereka akan pulang. Hari sudah malam. Besok mereka harus kembali bekerja.
"Ini..." Arga memberikan helm yang memang telah disediakannya.
Ayna menerima dan memakainya. Wanita itu mengalihkan wajahnya.
"Ma-maaf Ay, aku antar kamu pakai motor ini." Ucap Arga minder. Sepeda motor miliknya bukan motor matic. Hanya motor bebek ber-tak keluaran tahun lama.
"Ng-nggak apa kok." Ucap Ayna cepat. Jadi tak enak pada Arga. Ia mengalihkan wajah bukan karena malu akan dibonceng dengan motor itu, tapi karena rasa gugup, kikuk, serta canggung yang menghampirinya.
Arga melajukan motornya lambat. Ia sengaja melakukan itu, agar bisa lebih lama mengobrol dengan pacar barunya.
"Ay, maaf aku bawa motornya nggak bisa kenceng-kenceng. Kamu wajar ya. Motor ini sudah tua, nggak bisa ngebut."
"I-iya." Ucap Ayna menghela nafas. Wanita itu merasa Arga sengaja melajukan motornya seperti itu. Lajunya sangat lambat bahkan tak bisa melampai pesepeda.
"Sudah di sini saja. Aku turun di sini saja." Ayna menepuk pundak Arga untuk memberhentikan motornya di tepi jalan.
"Ini rumah kamu?" Tanya Arga.
Ayna menggeleng. "Bukan."
"Kenapa turun di sini?"
"Ngantarnya sampai sini saja."
"Aku antar sampai rumah saja." Arga tak mau menurunkan anak gadis orang di tengah jalan.
"Sudah dekat kok rumahku. Sudah nggak apa sampai sini saja. Aku nggak enak sama orang tuaku. Tadi aku pergi sendiri, masa pulang diantar laki-laki." Ayna memperjelas ucapannya.
"Hmm... lain kali, aku jemput kamu dari rumah ya?"
"Iya." Jawab Ayna cepat.
"Ya sudah kamu pulang sana. Aku akan lihat kamu dari sini. Setelah masuk rumah, baru aku pulang."
__ADS_1
"Iya. Aku pulang ya." Ucap Ayna melambaikan tangannya.
Arga juga melambaikan tangan. Mereka tersenyum sejenak.
Ayna pun segera melangkah pergi, ia berjalan sambil menutup mulutnya. Hatinya berdebar-debar pada pria itu.
###
Menjalin kasih dengan Ayna menambah semangat Arga dalam bekerja.
Saat pekerjaannya terasa sulit, ia akan menatap Ayna dari meja kerjanya. Senyum Ayna seperti mood booster baginya.
Arga berusaha melakukan hal terbaik, meski atasannya selalu memarahinya. Ada saja yang salah dan sengaja dicari-cari kesalahan oleh atasannya itu.
Ia harus giat dan tak boleh putus asa. Wajah Ayna khawatir tiap ia menghadap atasan. Ia tak boleh membuat Ayna terus mengkhawatirkannya.
Arga bertambah giat dan menunjukkan semua kemampuannya. Hingga atasannya itu tak punya celah untuk memarahinya lagi.
Ayna selalu berada di sisi Arga. Memberikan semangat dan senyuman pastinya.
###
Setiap hari Arga mengantar Ayna pulang ke rumah. Hari itu tiba-tiba motor yang Arga kendarai berhenti.
"Kenapa, Mas?" Tanya Ayna bingung.
"Nggak tahu, Ay." Arga mengecek sepeda motornya.
Arga mulai men-starter tapi mesin motornya tak mau menyala. Ia juga mengengkol tapi tetap tak mau menyala.
"Ay, kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau cari bengkel." Arga melihat sekeliling jalan, berharap ada bengkel di daerah itu.
"Kita cari bengkel saja dulu." Ucap Ayna.
"Tapi, Ay. Sepertinya bengkelnya jauh dari sini."
"Nggak apa. Ayo jalan, Mas. Ntar keburu tutup, ini sudah sore." Ajak Ayna segera.
Arga pun mengangguk, ia pun mendorong motornya yang mogok itu.
"Ay, sudah biar aku saja yang dorong." Arga melihat Ayna ikut mendorong dari belakang.
"Biar cepat sampai, Mas."
Arga tak bisa berkata lagi. Ntahlah, Ayna berbeda dari wanita lain. Wanita secantik Ayna, bisa saja meninggalkannya di jalan. Tapi Ayna malah ikut mendorong motornya.
Setelah 5 menit mendorong motor, mereka sampai juga di bengkel. Arga tampak berbicara dengan mekanik. Dan Ayna mencari tempat duduk.
Wanita itu menghela nafas lega. Untung ada bengkel terdekat, jika tidak mungkin mereka akan mendorong lebih jauh lagi.
"Ini..." Arga memberikan botol minuman dingin pada Ayna.
"Terima kasih." Ayna menenggaknya dan menghabiskan satu botol air minum itu. Ia sangat kehausan.
"Ay, maaf ya." Arga meminta maaf. Ia merasa tak enak hati.
"Minta maaf kenapa?" Tanya Ayna bingung. Arga selalu meminta maaf.
__ADS_1
"I-itu... seharusnya kamu sudah sampai rumah. Tapi malah masih berada di sini." Arga tersenyum canggung.
"Seharusnya kamu pulang saja. Aku pesankan ojek ya." Arga meraih ponselnya.
"Nggak usah, Mas." Ayna mengambil ponsel Arga.
"Tapi nanti kamu dicari-"
"Aku mau pulang sama kamu. Aku juga sudah bilang sama Ayah dan Bunda kalau motor kita mogok di jalan." Jelas Ayna menatap mata Arga, lalu segera membuang muka. Tiba-tiba saja ia jadi malu.
'Maaf, Ay. Aku janji akan bekerja giat mencari uang dan melamar kamu.' Arga melihat wanita di sebelahnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
###
Hari pun berlalu, hubungan mereka makin dekat dan berjalan baik.
"Ay, aku punya kabar baik." Ucap Arga saat mereka berada di parkiran.
"Apa itu?" Tanya Ayna tampak penasaran.
"Aku..." Arga sengaja menjeda ucapannya, membuat Ayna makin penasaran.
"Aku... naik jabatan, Ay." Ucap Arga dengan riang.
Ayna sangat senang, ia repleks memeluk Arga. Selama ini Arga selalu salah di mata atasannya.
"Ma-maaf." Ayna segera melepas pelukannya. Wajahnya sudah merah karena malu.
"Ay, tapi kita akan berpisah." Ucap Arga dengan wajah sedih.
Wajah Ayna jadi berubah sedih. Arga akan di pindah tugaskan. Mereka akan terancam akan LDR-an.
"Pindah ke mana, Mas? apa luar kota?" Tanya Ayna dengan mata mulai berair.
"Aku... pindah ke lantai 3." Jawab Arga dengan tertawa. Ia puas melihat wajah sedih Ayna.
"Mas Arga..." Pekik Ayna mencubit perut pria itu. Ia mengira Arga dipindahkan ke mana, ternyata masih satu gedung meski beda tingkat. Ayna bernafas lega, meski nanti ia tak bisa mencuri-curi pandang lagi untuk melihat Arga saat bekerja.
Arga terus menunjukkan kinerja terbaiknya. Ia terus dipromosikan, jabatannya terus meningkat. Hingga akhirnya ia di percaya menduduki jabatan manajer di dalam perusahaan itu.
Ayna sangat bangga pada kekasihnya itu. Pria yang pertama kali dilihatnya selalu menundukkan kepala, sekarang begitu berwibawa dan cukup di segani.
Arga juga sangat bahagia menjalin kasih dengan Ayna. Ia sangat beruntung memiliki Ayna. Wanita itu tak banyak maunya. Selalu mendukung dan berada di sisinya apapun kondisinya.
))Flashback off((
Arga memukul-mukul setir mobilnya. Dadanya begitu sesak. Ia sudah kehilangan Ayna untuk selamanya. Bukan hanya kehilangan hati, tapi kasih sayang dan perhatian wanita itu.
Arga menyesali dirinya. Yang tak bisa menahan diri, hingga membuat hidupnya dipenuhi penyesalan. Hubungan mereka selama ini, seolah sia-sia karena perbuatannya.
Arga telah menghancurkan semua...
'Ayna... kuharap ini hanya mimpi bagiku.'
.
.
__ADS_1
.
Sudah segini saja ya, kisah masa lalu mereka. Nanti Babang Alexnya cemburu.😆😊😁