
"Mama bawa makanan. Makanlah bersama yang lain."
Arga menatap sendu sang Mama. Setiap minggu Mama pasti menjenguk dirinya di dalam sel.
Mama menceritakan tentang adik-adiknya. Tetangga bahkan keluarga mereka yang lain.
Tapi hanya Mamanya saja yang datang menjenguknya di sini.
"Ayna sudah melahirkan. Anaknya laki-laki dan sangat tampan." Ucap Mama memberitahu.
'Kamu sudah melahirkan, Ay?' Mata Arga tiba-tiba saja berair.
Arga ingat dengan jelas saat itu dokter mengatakan Ayna sedang hami. Dan sekarang ia mendapat kabar wanita itu telah melahirkan. Yang berarti ia sudah mendekam di sel ini selama 9 bulan lamanya?
"Ayna sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Kamu nanti juga setelah bebas. Perbaiki kembali kehidupanmu." Mama mengelus kepala Arga dengan wajah sedih.
"Baik, Ma. Setelah bebas aku akan menata kembali hidupku. Menikah lalu memberikan Mama seorang cucu." Arga akan memperbaiki dirinya. Mengejar Ayna pun percuma saja. Alex itu seperti tembok pelindung Ayna, membuatnya sulit untuk menjangkau.
Dan jika nekat, hanya akan mendekam di tempat ini. Apa selamanya ia akan seperti ini?
Arga sadar hidupnya kini telah hancur. Karir yang dirintis dari bawah, hancur sudah. Cintanya juga telah berakhir, karena perbuatan dirinya sendiri.
'Ma, maafkan aku.' Satu yang masih dia punya adalah sang Mama. Hanya Mama yang masih peduli. Mama selalu menasehatinya setiap mengunjunginya.
'Saat aku bebas... Aku tidak boleh seperti ini lagi.'
###
"Putra Alex Wijaya..." Ucap Alex riang memanggil sang anak.
Putra Alex Wijaya, begitulah nama bayi mungil yang sedang digendong Mama, sambil menonton drakor.
Tak ada beda namanya dari Alex Putra Wijaya. Hanya dibalik-balik saja.
Alex menyempatkan diri membalas uluran tangan Ayna. Menkecup kening dan pipi istrinya singkat. Lalu segera berlari menghampiri Putra kesayangannya.
Ayna hanya dapat menghela nafas. Mungkin begini namanya diduakan secara terang-terangan.
Pria itu selama di kantor sering menghubungi Ayna, hanya untuk video call pada bayi mungil itu.
"Aku merindukan putraku!!!" Itu yang selalu Alex katakan dalam obrolannya.
"Halo...putra Papa." Alex akan memegang sang anak.
Tapi dengan cepat Mama menjauhinya.
"Alex!!! Bersihkan diri kamu dulu, baru boleh menggendong Putra." Mama mendengus kesal.
"Tapi, Ma. Aku merindukan Putra."
"Kamu itu dari luar. Sudah pasti bawa banyak kuman. Kamu mau cucu Mama sakit?" Tanya Mama dengan mata tajam.
Alex menggeleng.
Mama dan Ayna terbengong sesaat. Pria itu menggunakan jurus kaki seribu menuju kamarnya.
Tak berapa lama. Alex menggendong Putra di balkon rumah. Merasakan udara sore yang menyejukkan.
Kini Alex sudah berani menggendong anaknya. Ia memberanikan diri menggendong bayi kecil itu dengan hati-hati. Hal itu dilakukannya karena takut jika tiba-tiba ia diposisi hanya berdua dengan bayi itu.
__ADS_1
Setelah sering menggendong, Alex seperti kecanduan. Dalam dekapannya, ia bisa menkecupi pipi Putra. Dan mengobrol dengan leluasa dengan bayi yang sudah berumur 5 bulan itu.
"Mas, aku bawa teh." Ayna datang membawakan teh. Ia meletakkan di meja.
"Mas-"
"Sudah Ma, biar Papa saja yang menggendong." Alex tak mau melepas anaknya.
"Mas, putra mau minum susu dulu."
"Oh iya."
Dengan segera Alex memberikan sang anak pada Ayna. Ia juga memegangi kursi yang akan Ayna duduki, agar tidak bergeser.
Sang anak pun meminum susu.
"Mama Ayna, terima kasih." Alex duduk di samping Ayna. Menkecup pipi Ayna.
"Jangan terus bilang begitu, Mas." Ayna merasa aneh, Alex selalu mengucapkan terima kasih telah melahirkan buah hatinya.
"Mama itu istri dan ibu yang luar biasa. Papa akan selalu menyayangi Mama dan Papa juga akan menyuruh Putra untuk menyayangi Mama." Alex dengan mode panggilan Papa Mamanya. Dan Ayna tetap tak mau membiasakan diri dengan panggilan seperti itu.
Ayna tersenyum senang mendengar ucapan Alex.
"Mas, kita buat satu lagi ya. Mana tahu dapat anak perempuan." Ayna ingin memiliki anak perempuan, agar jadi sepasang.
"A-a-apa?"
"Aku mau kita punya anak perempuan. Nanti malam, Mas Alex nggak boleh pakai pengaman."
"Tidak!!!" Pekik Alex segera, membuat Ayna bingung.
Sebenarnya Alex ingin saja segera memiliki anak lagi. Tapi melihat bagaimana sang istri berjuang melahirkan anaknya. Rasanya ia tak sanggup melihat Ayna berada di ruang persalinan lagi.
"Ma, kita tak usah punya anak lagi. Putra saja cukup."
"Kok gitu sih, Mas?"
"Mama lihat saja, Papa anak tunggal dan Mama juga anak tunggal." Jelas Alex beralasan.
"Tapi kita mau punya 12 anak, Mas. Ini baru satu. 11 lagi dong."
"Sudah 1 saja ya, Ma." Alex tetap menolak dan bergegas masuk ke dalam. Ia menghindari percakapan itu.
"Mas Alex..."
Ayna pun ikut masuk. Ia mencium Putra sejenak dalam gendongannya, lalu meletakkan dalam box yang berada di kamar mereka juga.
"Mas Alex... Aku mau punya anak lagi." Ayna menghampiri Alex dan merengek. Pria ini banyak alasan jika menyangkut soal anak.
Alex menghela nafas panjang. Wajah merengek Ayna benar-benar cobaan baginya.
"Papa Alex..." Panggil Ayna manja.
Pria itu sesaat senang Ayna memanggil seperti itu. Tapi ia langsung tahu, itu hanya trik saja. Ia tak boleh terpancing.
"Kenapa Mas nggak mau punya anak lagi? Apa Mas berniat mencari wanita lain? Apa segitunya aku nggak berhak melahirkan anakmu.."
"Bukan begitu, Papa hanya nggak mau Mama kesakitan, sayang."
__ADS_1
"Sakitnya hanya sebentar. Lihat sekarang aku tidak apa-apa. Bahkan salto pun bisa."
Alex jadi mendengus. Padahal ia melakukan itu sebagai rasa perhatiannya pada Ayna. Memiliki satu anak saja, ia sudah sangat senang dan bersyukur.
"Mas..." Rengek Ayna sambil memutar-muta jarinya di dada Alex.
"Baiklah, sayang." Alex mengalah.
"Ayo, Mas..." Dengan semangat, Ayna melepas pakaiannya.
Glek
Mata Alex menatap gundukan kenyal yang sangat mulus.
"Sa-sayang, nanti malam saja." Alex segera memasangkan kembali pakaian Ayna.
"Nanti malam, Papa akan membuat Mama lembur." Ucap Alex lalu masuk ke kamar mandi.
"Mas Alex, i love you..." Ayna bersorak gembira. Alex mau menuruti keinginannya.
Malam itu, Ayna kembali mendengus melihat Alex bersama Putra di tempat tidur. Keduanya tertidur pulas.
"Mas Alex..."
"Ma, Papa ngantuk." Sehabis makan malam, Alex mengobrol panjang dengan sang buah hati. Hingga ketiduran.
"Mas Alex Mas Alex..." Ayna kesal. Tapi melihat Alex begitu sangat kelelahan. Ia pun tak membangunkan Alex lagi.
Ayna membenarkan selimut Alex, lalu ia ikut naik ke tempat tidur. Sang anak berada di tengah-tengah mereka.
"Anak Mama, lihat Papa kamu kecapekan. Papamu banyak ceritakan." Ayna mengelus pipi Putra dengan lembut.
Ayna juga mengelus lembut pipi Alex. Pria yang paling dicintainya. Pria asing yang menawarkan kebahagian yang sangat berharga.
Ya, bersama Alex... Ayna merasa seperti ratu. Pria itu selalu mencurahkannya kasih dan sayang. Bahkan bersedia memberikan semua yang dia punya.
Ayna menatap kedua wajah yang sama persis sedang terpejam itu.
"Semoga keluarga kecilku selalu bahagia." Ayna menkecup pipi Alex dan sang anak bergantian.
Ayna berharap keluarga kecil mereka selalu bahagia selamanya.
**Tamat**
.
.
.
Akhirnya selesai juga kisah cinta Alex dan Ayna. Semoga para readers terhibur.
Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua dukungannya.
Mohon maaf juga untuk segala kekurangan di novel ini 🙏
Terima kasih semuanya
I lop yu ful🥰🥰🥰
__ADS_1
Fulteng😉