
Ayna tersentak bangun. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Wanita itu segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Ia jadi kesiangan bangun, karena tadi malam video call dengan sang suami, hingga hampir pagi.
Padahal seharusnya sampai jam 11. Tapi rasa tidak rela memutus panggilan, membuat obrolan keduanya berlanjut hingga menjelang pagi.
'Kasihan, Mas Alex.' Ayna jadi merasa bersalah. Suaminya pasti mengantuk saat bekerja.
Selang beberapa lama, Ayna sudah berpakaian rapi. Tadi malam ia sudah izin dari Alex, untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dan Alex sudah mengizinkannya.
Setelah berpamitan pada Mama, Ayna akan berangkat dengan diantar supir.
"Kenapa anda disini?" Tanya Ayna setelah ia masuk ke dalam mobil. Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap juga ikut masuk dan duduk di samping pengemudi.
"Maaf Nona. Saya yang akan mengawal anda." Jawab pria yang biasa menjadi security di rumah itu.
"Me-mengawal? Untuk apa?" Ayna merasa tak nyaman. Kenapa ia diberi pengawal. Biasanya saja ia pergi hanya diantar supir.
"Ini perintah pak Alex, Nona." Jawab pria tegap itu.
"Saya nggak butuh pengawal. Apaan sih Mas Alex ini." Ayna mengambil ponsel yang berada di tas. Ia akan menelepon Alex, menolak untuk diberi pengawal.
Ayna mendengus, Alex tak menjawab panggilannya.
"Maaf sebelumnya. Saya akan pergi dengan pak supir saja." Ayna mencoba menolak.
"Maaf, Nona. Pak Alex memerintahkan saya untuk mengawal anda selama anda berada di luar rumah." Jelas pria itu.
"Tapi saya nggak butuh pengawal."
"Ini perintah pak Alex."
"Gini saja, anda tetap di sini saja. Nggak usah mengawal saya. Nanti jika pak Alex menelepon, akan saya katakan jika anda mengawal saya." Ayna bernegoisasi.
"Maaf, Nona. Tolong jangan mempersulit saya."
"Mem-mempersulit? Aku mempersulitmu?" Tanya Ayna kembali.
"Pak Alex sudah mempercayakan saya untuk mengawal anda. Jika terjadi sesuatu kepada anda, maka saya yang akan menanggungnya. Saya punya 2 orang anak yang masih sangat kecil. Jika saya bermasalah, siapa yang akan menanggung kehidupan mereka nantinya."
Lah, pria itu malah curhat.
"Baiklah-baiklah. Pak Supir, ayo jalan." Ayna pun mengalah. Walau bagaimana pun, pria itu hanya menjalankan tugasnya. Ini semua perintah Alex.
__ADS_1
Sekitar 30 menit, sampailah Ayna di rumah orang tuanya. Ia menyuruh pak Supir dan pengawal itu untuk pulang saja. Ia berencana akan sampai malam atau mungkin menginap di rumah orang tuanya.
Pak supir mengangguk. Berbeda dengan pengawal. Pria itu malah memilih akan tetap tinggal.
"Saya nggak perlu pengawal. Saya aman di rumah orang tua saya."
"Maaf, Nona. Selama anda di luar rumah, anda masih tanggung jawab saya. Jadi tolong-"
"Terserahlah." Ayna memilih masuk rumah. Pengawal itu sangat keras kepala. Padahal ia menawarkan negoisasi gaji buta, tapi pria itu malah menolak.
"Bunda..." Panggil Ayna sambil mengetok pintu rumah.
Bunda membuka pintu dan kaget melihat sang putri datang. Wanita paruh baya itu segera memeluk anaknya tersebut.
Lalu Bunda bingung, melihat pria yang berada di belakang Ayna. Pria itu bukan Alex. Bunda jadi bertanya-tanya ada apa dengan putrinya. Kenapa malah membawa pria lain? Apa Ayna sedang bertengkar dengan suaminya?
"Dia... Pengawal Bun. Mas Alex sedang tugas di luar, jadi Ayna dikawal dia." Jelas Ayna seperti membaca kebingungan Bunda.
"Oh... Bunda kira."
"Pak Alex memerintahkan saya untuk mengawal Nona Ayna." Jelas pengawal itu sambil menundukkan kepala.
"Silahkan masuk." Bunda mempersilahkan pria itu masuk.
Pria itu pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Mendengar itu Ayna jadi tertawa. Kenapa Bunda malah mengira ia mempunyai pacar baru. Ia kan sudah punya suami.
"Bunda sempat takut, kalau kamu ada masalah sama Alex." Bunda masih khawatir. Putrinya saat itu menikah dengan pria asing. Bisa saja Alex menyakiti putri semata wayangnya.
"Bunda, jangan khawatir. Ayna dan Mas Alex baik-baik saja. Mas Alex juga titip salam sama Ayah dan Bunda. Dia minta maaf karena sudah lama nggak kemari."
Bunda mengangguk lega. Pernikahan putrinya ternyata baik-baik saja. Melihat wajah bahagia Ayna, Alex pasti memperlakukan putrinya dengan baik.
"Ayah pulang." Ucap pria paruh baya memasuki rumah. Pria itu kaget melihat ada seorang pria asing di rumahnya.
"Ayah sudah pulang." Mendengar suara sang Ayah, Ayna segera berlari menghampiri. Ia memeluk Ayahnya erat.
"Nak, itu siapa?" Tanya Ayah. Sama seperti Bunda, Ayah merasa tak enak melihat pria berbadan tinggi dan tegap itu.
"Itu... Pengawal, Yah." Bisik Ayna.
"Pengawal?" Tanya Ayah bingung.
__ADS_1
Ayna pun menjelaskan bahwa pria itu diperintahkan Alex untuk mengawal dirinya selama di luar rumah.
Ayah pun jadi mengerti, meski tadi sempat berpikiran jika pria itu punya hubungan dengan sang putri.
Ayna menghabiskan waktu bersama Ayah dan Bundanya. Semenjak menikah, ia jadi jarang bertemu kedua orang tuanya.
"Iya, Nak. Sepertinya besok Papa akan pulang. Nanti Papa akan belikan kamu banyak mainan. Ini Papa kerja dulu ya, cari uang..."
Ayna tak sengaja mendengar obrolan pengawal itu. Sepertinya sedang berbicara dengan anaknya.
Wanita itu jadi merasa tak enak hati. Ia tadi mengatakan malam ini akan menginap di sini dan pengawal itu malah akan menginap juga. Alasannya demi menjaga keamanannya. Padahal ada anak-anaknya yang sedang menunggu di rumah.
Ayna pun membatalkan niatnya. Ia tak jadi menginap dan akan menginap saat Alex sudah pulang saja.
Meski Ayah dan Bunda sempat kecewa. Tapi mereka mengerti alasan Ayna. Dan Alex melakukan itu juga karena ingin melindungi sang istri.
"Ayo, kita pulang." Ajak Ayna pada sang pengawal. Ayna sudah memesan taksi, ia juga tak mau pak supir menjemput.
Pengawal bingung, padahal tadi Ayna bilang akan menginap. Tapi kenapa sekarang mereka jadi pulang.
Setelah sampai rumah, Ayna menyuruh pengawal itu pergi. Karena sudah sampai rumah, tugas pria itu sudah selesai.
'Mas Alex... Angkat dong.' Ayna mencoba menelepon suaminya. Ia tak mau diawasi pengawal. Sangat tidak nyaman dan tidak bisa bebas. Ia aman-aman saja tanpa pengawal. Tapi Alex malah memberinya pengawal. Apa yang ditakutkan suaminya itu?
"Halo... Mas Alex." Ucap Ayna begitu panggilannya tersambung.
"Sayang, aku minta maaf. Aku sedang sibuk."
"Maaf, Mas. Aku cuma mau bilang, aku nggak mau ada pengawal."
"Nggak bisa." Tolak Alex cepat.
"Mas..."
"Nggak sayang. Selama aku di sini, pengawal itu yang akan menjaga kamu."
"Tapi, Mas..."
"Nggak ada tapi-tapi. Dia yang akan menjaga kamu. Sayang, aku tutup ya. Nanti malam aku telepon kamu lagi. Love you sayangku. Muach muach muach..."
Ayna tak sempat menjawab, Alex sudah mengakhiri panggilannya. Pria itu benar-benar sibuk sekali.
.
__ADS_1
.
.