
"Pak Alex bangun pak. Pak Alex." Ucap Jo membangunkan seorang pria yang meringkuk di atas tempat tidur.
"5 menit lagi Jo." Ucap pria bernama Alex itu yang makin bergumul dengan selimutnya. Ia sungguh enggan untuk meninggalkan tempat tidur empuk ini.
"Alex, ayo cepat bangun! Alex.. Alex..." Jo tampak kesal, ia pun menarik selimut yang membuat Alex jadi terpaksa membuka matanya malas. Alex melihat Jo dengan sinis, temannya ini pagi-pagi sudah membuat keributan. Mengganggu tidurnya saja.
"Tolong buatkan aku nasi goreng dan teh hangat, Jo." Pinta Alex sambil perlahan merenggangkan tangannya lalu menguap panjang.
"Bangunlah Lex. Kembalilah ke asalmu. Jangan menyuruhku." Ucap Jo kesal. Alex datang ke apartemennya saat tengah malam dan memaksa menginap. Pria itu lalu menguasai area kamarnya, hingga membuat dirinya harus rela tidur di sofa ruang tamu.
"Aku tak akan mengeluarkan bonusmu." Ancam Alex santai.
"Kita sekarang tidak sedang berada di kantor, Lex. Ayo cepat bangun. Bangunlah Alex!" Jo menarik paksa Alex. Dengan terpaksa Alex pun bangkit dari tempat tidur empuk itu.
"Lihat saja saat berada di kantor, aku akan melakukan itu bahkan akan memotong gajimu hingga tak ada yang tersisa." Alex menunjukkan senyum sinis.
Jo menghembus nafas kasar. "Kenapa aku punya teman sepertimu. Salah, kenapa aku mau berteman denganmu?"
Alex pun terkekeh mendengar dumelan sahabatnya itu. Walau sering mengancam Jo, tapi Alex tak pernah serius dengan ucapannya.
Beberapa saat pun berlalu, Alex menghirup aroma secangkir teh yang dihidangkan Jo. Lalu meminumnya perlahan. Rasa hangat dan manis terasa di tenggorokannya. Ia pun memakan nasi goreng buatan Jo. Walaupun rasanya biasa saja, tapi jadilah untuk menganjal perutnya.
"Kurang garam ini Jo. Nasi goreng ini akan bertambah enak jika kau tambahkan potongan sosis, ayam-"
"Tak usah kau makan." Potong Jo cepat.
"Aku akan memakannya. Aku menghargaimu, kau sudah bersusah payah memasakkan untukku." Ledek Alex tersenyum setengah mengejek.
Jo menarik nafas berat, Alex benar-benar membuat kesal. Ia harus selalu sabar dan bersabar.
Mata Jo masih menatap teman yang merangkap atasannya itu. Jika ada masalah Alex pasti menginap di apartemennya.
"Mona lagi?" Tanya Jo memastikan, ia akan mengalihkan topik dari nasi goreng itu.
Alex tak menjawab, ia masih melahap sarapannya.
Melihat Alex hanya diam, Jo tak membahas lagi. Jika Alex akan bercerita ia pasti akan mendengarkannya, tapi jika tidak Alex tak mau, Jo juga tidak akan memaksa.
"Aku harus melupakan Mona, Jo." Ucap Alex tiba-tiba.
__ADS_1
Jo yang akan menyendokkan nasi goreng ke mulutnya melirik Alex.
"Ada apa?" Tanya Jo yang jadi penasaran.
Alex sudah lama menyukai wanita yang bernama Mona. Alex sudah sering mengungkapkan perasaannya, tapi selalu penolakan yang diterima dari wanita itu. Sekarang Alex ingin melupakan Mona, apa Alex sudah lelah hingga memilih mundur saja.
"Jo, kenali wanita padaku. Yang cantik dan bisa menerima aku." Ucap Alex sambil tertawa sumbang.
"Kau hanya perlu menunjuk saja mana yang kau mau. Mereka tidak akan menolakmu." Ucap Jo yang tahu, jika tak mungkin ada wanita yang menolak pesona seorang Alex.
"Aku sudah ditolak." Sanggah Alex cepat.
Setelah sarapan Alex duduk di sofa sambil menonton tv. Ia menonton kartun kucing dan tikus yang selalu bertengkar dan kejar-kejaran. Jo yang baru keluar dari kamarnya menggelengkan kepala melihat apa yang ditonton pria itu. Alex masih suka menonton tontonan bocah.
"Mau kemana kau Jo?" Tanya Alex yang melihat Jo sudah rapi dan wangi. Temannya itu seperti akan pergi ke acara resmi.
"Aku mau undangan. Guru SMAku mengundangku, hari ini pernikahan putrinya." Jelas Jo sambil merapikan penampilannya.
"Kau pergi sama siapa? Rani?" Tanya Alex memastikan, apa Jo akan pergi dengan kekasihnya.
"Aku pergi sendiri. Rani sedang di rumah neneknya." Jo memakai sepatu yang sudah disemirnya hingga kinclong.
Senyum di wajah Alex pun terbit. " Aku ikut undangan denganmu ya Jo."
"Ayolah Jo. Aku ikut." Paksa Alex. Ia tak tahu mau pergi kemana hari ini. Mau kembali ke apartemennya, sudah pasti ia hanya akan rebahan seharian.
"Ngapain kau ikut? kau juga nggak kenal lho Lex." Jo enggan membawa temannya itu.
"Kau kan kenal Jo. Ayolah Jo. Ajaklah temanmu yang tampan ini. Kau jangan pelit, mau makan enak nggak ngajak-ngajak aku. "Alex pun tetap memaksa. Ia ingin tetap ikut pergi undangan.
"Kalau mau makan enak, pergi sana ke restauran, alex." Ucap Jo penuh penekanan.
"Aku ikut Jo, apa kau tega meninggalkan temanmu seorang diri disini? Ajaklah aku Jo. Aku sedang galau." Alex makin memelas sambil mengkedipkan mata.
"Tidak Lex tidak. Pulanglah ke asalmu." Jo nggak akan mengajak Alex.
"Ayolah Jo." Alex tetap memaksa.
"Tidak Alex." Jo menggeleng cepat.
__ADS_1
"Mana tahu aku di sana ketemu jodohku." Alex sengaja menaik turunkan alisnya.
"Jodoh apa? ini undangan bukan cari jodoh." Jo segera menyanggah ucapan Alex. Cari jodoh apaan? ia saja hanya berniat datang sebentar lalu segera pulang. Ibarat hanya menyetor wajahnya saja. Menghargai undangan gurunya itu.
Alex tetaplah Alex. Pria tampan itu terus memaksa Jo untuk mengajaknya undangan. Hingga akhirnya Jo pun mengalah. Alex akan terus memaksa jika ia menginginkan sesuatu.
"Baiklah." Jo menghela nafasnya kasar.
"Ok, siap meluncur." Dengan semangat Alex pun segera berlari memasuki kamar Jo, ia akan memakai pakaian Jo saja. Ia tak sempat kembali ke apartemennya untuk mengambil pakaian. Jo bisa saja meninggalkannya.
Dan tak sampai 5 menit ia sudah keluar dari kamar itu.
"Ayo Bro... cabut!!! Aku sudah lapar."
"Apa kau tidak mandi?" Tanya Jo merasa aneh. Alex membenarkan kemejanya lalu menyemprot banyak parfum.
"Untuk apa aku mandi. Aku sudah tampan kok." Ucap Alex dengan pedenya.
"Alex.." Jo tak habis pikir Alex akan pergi undangan tanpa mandi terlebih dahulu.
"Kita mau pergi undangan. Mandilah dulu." Jo memaksa Alex untuk mandi.
"Tidak, saat aku mandi kau akan pergi undangan sendiri." Alex menolak untuk mandi.
"Tidak, aku akan menunggu. Kau mandi jangan lama-lama juga. Kalau pakai luluran segala aku tinggallah."
"Aku tak akan mandi. Kau lihat sendiri tak mandi saja aku sudah tampan, bagaimana aku mandi. Bisa-bisa para tamu undangan akan silau melihatku." Ucap Alex dengan pede tingkat dewanya.
"Astaga... terserahmulah." Jo pun melangkahkan kaki keluar apartemen.
"Maklum saja Jo, aku ini pria tampan dari dalam kandungan."
.
.
.
.
__ADS_1
.
.