SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 77 - SUDAH PINDAH


__ADS_3

Pagi itu di dalam kamar mandi, Ayna menghembuskan nafas berkali-kali. Ia berusaha menetralkan degupan jantungnya, yang sudah berdetak kencang.


Perasaan Ayna campur aduk sekarang.


'Semoga semoga semoga.' Harapnya memegang sebuah benda pipih.


Wanita itu memejamkan mata sejenak, lalu membuka secara perlahan. Ia melihat benda pipih itu. Air mata mulai berlinang di pipi putih Ayna melihat benda tersebut.


Sementara Alex yang sedang berpakaian melihat ke arah pintu kamar mandi. Ia baru menyadari jika istrinya sudah terlalu lama di dalam. Dari tadi Ayna belum keluar-keluar. Apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi? Apa jangan-jangan Ayna pingsan?


"Sayang. Ayna sayang..." Panggil Alex seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Pria itu tampak sangat khawatir memanggil-manggil sang istri.


Tidak ada sahutan ataupun suara gemericik air. Alex jadi kalut.


"Sayang, sayang..." Alex memanggil, sambil tangannya tetap mengetok pintu.


Namun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Hampir saja tangan Alex yang mengetok pintu itu, mengetok jidat Ayna. Untung Alex segera menahan tangannya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Alex khawatir dan bingung. Wajah Ayna kini sudah berlinang air mata.


Ayna menggelengkan kepala, ia lalu melangkah lemah menuju tempat tidur.


Melihat Ayna seperti itu, Alex jadi penasaran. Apa yang terjadi pada sang istri.


Alex memilih masuk ke dalam kamar mandi. Saat masuk ia melihat sebuah benda pipih. Benda pipih itu pasti yang membuat Ayna jadi bersedih.


Ayna pasti sangat berharap testpack itu menunjukkan garis dua, tapi ternyata hanya ada satu garis di sana.


Alex menghembuskan nafas sebentar, lalu ia segera melangkah untuk menghampiri Ayna.


"Sayang..." Alex melihat Ayna menutup seluruh tubuh dengan selimut.


"Sayang..." Perlahan Alex membuka selimut itu. Wajah Ayna sangat sedih saat ini.


"Sudahlah... Sayang." Alex ikut berbaring di atas tempat tidur.


"Mas Alex, maaf." Ayna pun memeluk tubuh kekar sang suami.


"Tolong maafkan aku, Mas." Ayna menangis senggugukan dalam pelukan Alex.


Ayna masih menyembunyikan wajah di dada suaminya. Alex makin erat memeluk tubuh sang istri.


"Sudah, kamu jangan nangis lagi, sayang." Alex menepuk-nepuk pundak Ayna pelan.


"Aku sedih, Mas." Ucap Ayna pelan, ia masih senggugukan.


"Belum rejeki kita punya anak. Kita harus sabar, sayang." Alex menenangkan perasaan sang istri.

__ADS_1


Hal wajar bagi seorang wanita yang sudah menikah, ingin segera memiliki buah hati.


"A-apa a-aku mandul, Mas?"


Alex melonggarkan pelukannya dan menatap tajam mata sendu Ayna.


"Coba ulangi lagi, tadi kamu bicara apa?" Pinta Alex dengan nada dingin, ia ingin melihat Ayna mengatakan itu langsung di depannya.


Ayna menundukkan kepala, ia tiba-tiba merasa merinding dengan aura yang seakan mencekamnya saat ini.


"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Alex sambil menyentil kening Ayna.


Ayna menggeleng sambil memegang keningnya. "Nggak ada, Mas." Jawab Ayna cepat.


"Jangan bohong, katakan kamu bicara apa tadi? Aku mau dengar!" Alex akan menyentil kening Ayna kembali.


"Ma-maaf, Mas. A-a-aku cuma takut jika aku seperti itu." Wajah Ayna mulai mewek kembali.


Alex menghela nafas. "Sayang dengar. Sebaiknya kamu jangan terlalu berpikir jauh. Lebih baik kepala kamu ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang diriku saja." Alex menatap mata sendu itu. Pikiran Ayna tah sudah ke mana-mana.


"Sudah, Mas. Karena kebanyakan mikirin Mas, aku jadi takut kehilanganmu. Aku takut kalau aku seperti itu, kamu akan mencari wanita lain dan meninggalkanku..." Jawab jujur Ayna.


Ayna begitu karena terlalu memikirkan Alex. Sehingga pikiran-pikiran takut kehilangan pria itu mulai menghampirinya.


Alex diam, bingung mau menjawab apa. Jika ia menyarankan untuk tidak memikirkannya, Alex sangat tidak rela. Masa ada orang lain di pikiran sang istri.


"Sayang, kamu dan aku hanya boleh bahagia. Hari ini apa kamu bahagia bersamaku?" Tanya Alex dengan wajah serius.


Ayna mengangguk. "Iya, Mas. Aku bahagia."


"Jika kamu bahagia bersamaku, jangan kamu memikirkan hal yang membuat rasa bahagia kamu seakan hilang."


"Ma-maaf, Mas Alex." Ayna kembali memeluk Alex erat.


Benar kata suaminya, ia hanya terlalu berpikiran jauh lalu terbawa suasana. Pada pemikiran yang tidak seharusnya.


Jika ia terus seperti itu, saat bahagia bersama orang tercinta akan tenggelam. Lalu hanya ada air mata yang akan ia tunjukkan pada Alex.


Ayna menggelengkan kepala. Ia tak boleh seperti itu lagi. Mungkin memang belum sekarang saatnya, mereka memiliki seorang buah hati. Pasti nanti ada masanya.


"Sudahlah... Ayo kita sarapan." Ajak Alex memberikan senyuman manisnya.


"Ayo, Mas. Cacingku juga sudah kelaparan." Akhirnya Ayna jadi tertawa memegangi perutnya.


###


Arga keluar dari unit apartemennya. Ia akan kembali memantau pergerakan pria penikung tersebut.

__ADS_1


Semalam setelah pulang dari kantor, ia tak melihat Alex di parkiran.


Pria itu sudah berasumsi, mungkin suami dadakan Ayna sedang tugas luar kota.


Arga akan tetap terus memantau, karena yakin cepat atau lambat, ia akan menemukan di mana keberadaan Ayna dan menjadikan miliknya seutuhnya.


"Ternyata sudah ada yang menempati, ya." Ucap seorang pria tetangga sebelah.


Arga menundukkan kepala dan tersenyum sejenak pada tetangganya.


"Benar, Pak. Saya baru pindah beberapa hari yang lalu." Ucap Arga sopan.


"Apa anda tahu siapa yang tinggal di sini dulu?" Tanya pria itu.


Arga menggeleng, bagaimana ia bisa tahu. Ia saja penghuni baru di sini.


"Itu... Alex Putra Wijaya. Tapi setelah menikah, dia memutuskan untuk pindah dan menjual tempat ini." Pria itu memberitahu.


Arga berpikir sejenak. Alex Putra Wijaya, nama itu seperti tidak asing baginya.


"Anda tidak tahu siapa dia? Itu CEO di Wijaya Grup. Perusahaan-"


"Saya permisi." Arga memotong ucapan pria itu dan segera berlalu.


'Apa-apaan ini?! sudah pindah? dan yang sekarang aku tempati ?' Arga jadi geram.


Percuma saja ia memantau selama ini, jika target sudah tidak berada di sana. Dan juga sudah sia-sia ia menyewa tempat mahal itu.


Arga sekarang tak tahu di mana keberadaan Ayna. Alex pasti menyembunyikan mantannya di suatu tempat. Pria penikung itu mempunyai segalanya, tak akan sulit baginya untuk menjauhkan dirinya dengan Ayna.


Arga masuk ke dalam mobil. Ia pun melaju menuju kantor. Bagaimana pun ia harus tetap bekerja. Walau ia kecewa dengan kenyataan ini.


'Kenapa ini jadi semakin sulit, Ay? harus bagaimana aku sekarang?'


'Ayna... Apa kamu bahagia bersamanya?'


'Apa aku harus merelakanmu bersamanya?'


'Kenapa kita harus seperti ini?'


'Kenapa Ay? Kenapa Ay?'


Sepanjang perjalanan Arga bermonolog dengan pikirannya sendiri, seolah sedang berbicara dengan Ayna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2