SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 80 - KE KEBUN BINATANG


__ADS_3

Alex melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Tadi ia ingin pulang, tapi istrinya malah memilih menunggunya.


"Sayang... ayo, aku antar pulang." Alex melihat sang istri yang duduk di sofa sambil menguap panjang.


Ayna menggoyangkan tangan, isyarat menolak. "Mas, lanjutkan saja."


Alex mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Oh iya Mas... Apa Mas Alex tahu, kabarnya Aca dan Mona?" Ayna tiba-tiba penasaran. Sudah lama ia tak pernah mendengar kamar kedua wanita itu.


Alex menaikkan bahu tanda tak tahu. Ia akan merahasiakan kepergian kedua wanita itu dari Ayna.


"Apa mungkin mereka sudah mendapatkan pekerjaan baru?"


"Mungkin." Jawab Alex sekenanya.


Ayna mengangguk pelan.


"Selesai. Sayang... ayo kita pulang." Alex bangkit dan berjalan menghampiri Ayna.


"Mas, ini masih jam 2. Belum jam pulang."


"Semua sudah ku selesaikan."


"Mas Alex... jangan ngular deh."


Alex tersenyum mendengar ucapan Ayna. "Kamu mau lihat ular?"


Ayna menggeleng cepat. Melihat wajah mesum sang suami, sudah pasti yang dimaksud ular jadi-jadian.


"Mas, jangan mendekat." Ayna bangkit dan menjauh dari Alex.


"Ayo dong, ularnya jinak. Nggak akan matok kamu." Alex mendekati sang istri.


"Aku teriak nih." Ancam Ayna. Wajah Ayna kini sudah merah padam.


"Ayo, kita lihat ular." Dengan tertawa-tawa Alex menarik tangan Ayna. Ia menggandeng sang istri meninggalkan kantor.


Ayna menghembuskan nafas panjang, ia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan suaminya itu.


"Pak Jo, saya pulang awal. Karena saya ada urusan. Istri saya ingin melihat ular."


Ayna mendelik, bisanya Alex mengatakan hal seperti itu pada Jo. Walau Jo sudah memaklumi sifat Alex yang agak absurd, tapi kan dia yang malu.


Sementara Jo terbengong dan mengangguk pelan.


Alex melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia bersiul-siul sambil melirik Ayna. Istrinya itu sudah berwajah cemberut.


"Mas, ini bukan jalan pulanglah." Ayna bingung, jalan yang mereka lewati bukan jalan pulang.


"Memang." Jawab Alex santai.


"Kita mau ke mana, Mas?"


"Tapi kamu mau lihat ular katanya."


"Mas Alex!!!" Pekik Ayna mulai kesal. "Jangan bahas ular-ular saja dari tadi."


Alex mengelus kepala Ayna, istrinya walau sedang kesal tetap saja imut.


"Ayo turun." Ajak Alex setelah memarkirkan mobilnya.


"Ini..." Ayna melihat sekeliling.

__ADS_1


"Kita bisa melihat ular. Dan binatang-binatang lain pastinya."


Ayna mengalihkan pandangan ke mana pun, asal jangan melihat Alex. Ternyata Alex membawanya ke kebun binatang, ia meruntuki diri dengan pikiran yang berkelana.


"Kenapa wajahmu itu? Apa kamu kecewa karena akan melihat ular sungguhan dan bukannya ular-"


"Mas Alex..." Ayna menutup mulut sang suami dengan tangannya. Jika dibiarkan, bisa saja suaminya mengatakan hal-hal yang absurd.


"Ayo... turun."


Alex tertawa puas melihat Ayna keluar dari mobilnya. Istrinya sudah salah tingkah.


"Ayo..." Alex menggandeng Ayna masuk, setelah tadi membeli tiket masuk.


Suasana kebun binatang tidak terlalu ramai, karena bukan weekend.


Alex dan Ayna berjalan mengelilingi kebun binatang. Melihat berbagai jenis hewan, penghuni kebun binatang.


Ayna sangat senang, sepertinya ia sudah sangat lama tak pernah mengunjungi kebun binatang.


"Sudah banyak perubahan ya, Mas." Ayna mengingat terakhir kali datang bersama Ayah dan Bunda.


"Kapan kamu terakhir kali kemari?" Tanya Alex ingin tahu.


"Hmm... kapan ya? Sudah lama, Mas."


"Kapan?" Alex ingin tahu pastinya. Mungkin saat menjalin hubungan dengan si Arga itu.


"Terakhir sama Ayah dan Bunda. Kalau nggak salah aku masih SMP, Mas."


Alex mengangguk. Ayna tak pernah datang ke tempat ini dengan Arga.


"Ternyata sudah begitu lama, Mas." Ayna tersenyum melihat Alex.


"Untuk?" Alex bingung, kenapa Ayna malah berterima kasih.


"Aku kira, aku bakalan mendatangi tempat ini saat membawa anakku. Pacar-pacarku selalu menolak diajak kemari. Jadi kupikir aku akan kemari dengan alasan membawa anakku." Cerita Ayna singkat.


"Pacar-pacarku?" Alex mengulang ucapan Ayna. Pacar-pacarku seperti lebih dari satu orang.


"Mereka menolak jika kuajak kemari." Jelas Ayna kembali. Saat ini Ayna tidak menyadari jika tanduk Alex sudah tumbuh di atas kepala.


"Memang berapa banyak pacar-pacar kamu?" Tanya Alex dengan wajah kesal. Ia mengira kekasih Ayna hanya Arga, tapi ternyata ada yang lain juga.


"Nggak banyak sih, Mas." Ayna menggerakkan jarinya seolah sedang menghitung.


Mata Alex akan keluar melihat pergerakkan jari-jari istrinya. Sepertinya mantannya Ayna lebih dari 10 orang.


"Ti-tiga?" Tanya Alex melihat jari Ayna.


"Iya, Mas. Aku 3 kali pacaran."


Alex menghela nafas. Ia sudah hampir sesak nafas mengira mantan Ayna banyak.


"Tapi kita bisa menikah tanpa pacaran ya, Mas." Ayna jadi mengingat saat di mana Alex yang tiba-tiba menjadi suami dadakannya. Pria asing tah muncul dari mana.


"Seperti yang saat itu kamu katakan."


"Memang saat itu aku bilang apa?" Ayna jadi penasaran.


"Mungkin kita jodoh." Mata Alex menatap Ayna sedalam perasaannya saat ini.


Ayna mengingat, apa dia pernah mengatakan hal seperti itu. Mungkin saja, karena saat itu ia tak mau pernikahan batal dan membuat malu keluarga besar.

__ADS_1


"Apa karena itu Mas bersedia?"


Alex mengangguk. "Aku berpikir, mungkin memang seperti ini kita berjodoh."


"Saat itu Mas Alex tahu sendiri alasanku." Ayna menunduk. Suaminya berpikiran seperti itu, padahal saat itu ia dengan keegoisannya. Apalagi jika bukan untuk menyelamatkan diri.


"Tapi aku bersyukur, saat itu Jo sudah punya kekasih. Jika ia masih jomblo, mungkin saja kamu dan dia..." Bagaimanapun, Ayna saat itu sempat menunjuk Jo.


Ayna tertawa, saat itu Jo menolak dirinya. Kalau diingat-ingat lagi, itu adalah hal yang sangat memalukan.


"Sayang, aku beritahu kamu satu rahasia lagi." Ucap Alex pelan.


"Apa, Mas? Tentang Mas Alex yang nggak mandi saat kita menikah?"


"Bukan itu. Jadi gini..." Alex menceritakan panjang lebar cerita awal mulanya. Saat ia minta ikut pergi dengan undangan dengan Jo. Saat ia menolak ajakan Jo untuk menyalami pemilik hajatan. Dan akhirnya Alex tetap masuk juga ke rumah itu.


"Ja-jadi Mas, gara-gara pria gemulai itu." Ayna tertawa mendengar cerita Alex, ia sampai mengusap air mata. Cerita Alex membuat perutnya sakit.


"Kalau diingat-ingat lagi. Jika tak ada pria gemulai itu, mungkin kita tak akan pernah bertemu."


Alex kembali menatap Ayna. Begitupun Ayna ikut menatap Alex.


"Mas Alex... terima kasih."


Ayna memeluk tubuh Alex dengan erat. "Mas, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku ya."


Alex mengangguk. "Jangan khawatir. Aku ini milikmu. Dari atas sampai bawah, dari luar maupun dari dalam."


Alex memeluk Ayna. Tak peduli pada sekitar yang melihat.


Mereka kembali berjalan lagi. Kali ini melihat ular. Ayna menggenggam tangan Alex kuat, ia takut melihat ular-ular itu.


"Sayang, kamu mau foto sama ular?" Alex menunjuk jasa foto tak jauh dari mereka.


Ayna menggeleng. Ia melihat beberapa orang berfoto sambil memegang ular yang besar. Bahkan sampai dililit ular.


"Kalau kamu nggak mau, aku saja. Kamu tunggu sini." Alex akan melangkah, tapi langkahnya terhenti.


"Nggak usah, Mas." Ayna menahan tangan suaminya. Ia takut jika ular itu mematok suaminya.


"Aku nggak mau jadi janda."


Alex tak bisa bicara, ia terbengong sesaat. "Sayang, ularnya sudah jinak dan aman lho. Ada pawangnya juga." Jelas Alex.


Ayna menggeleng, ia masih memegang tangan Alex.


"Baiklah-baiklah." Alex mengalah. Istrinya terlalu khawatir, padahal amannya itu.


Makin sore, udara sejuk dengan semilir angin berhembus sepoi-sepoi. Mereka duduk di bawah rimbunan pohon. Meminum es kepala yang sangat menyegarkan.


Ayna tak bisa menyembunyikan wajah tersenyum bahagianya. Ia sangat senang Alex membawanya ke tempat ini.


"Kamu mau kita ke mana lagi?"


"Aku mau..." Ayna menyuruh Alex mendekat. Ia membisikkan sesuatu.


"Ayo... kita pulang, sayang."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2