SUAMI RANDOM

SUAMI RANDOM
BAB 96 -SELAMAT DATANG


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Ayna? Apa dia sudah melahirkan, Bu?" Tanya Bunda yang segera menghampiri besannya.


Mendengar kabar sang putri akan segera melahirkan, Bunda dan Ayah pun meluncur ke rumah sakit.


"Belum Bu. Mungkin sebentar lagi." Jawab Mama yang menunggu di depan ruang bersalin. "Alex sedang menemani Ayna di dalam."


"Ayah, Ayna kita..." Perasaan Bunda campur aduk. Ia senang karena akan memiliki seorang cucu. Tapi... juga khawatir dan cemas dengan putrinya. Mengingat ini kali pertama bagi Ayna melahirkan.


"Bun tenanglah. Kita tunggu saja. Ayna dan cucu kita akan baik-baik saja." Ayah menenangkan kegelisahan istrinya. Mereka memilih duduk menunggu.


"Cucu kita laki-laki. Kita harus berikan nama yang cocok untuknya. Menurut Pak Jaka nama apa yang bagus...?" Papa mengajak Ayah mengobrol menunggu waktu dan mengurangi kekhawatiran mereka menunggu Ayna.


Sementara di dalam ruang bersalin. Ayna mencekam tangan Alex, menahan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang membuatnya bercucuran keringat dan air mata pastinya.


"Sayang..." Ucap Alex bergetar. Melihat istrinya sampai menangis, ia tak kuasa menahan air matanya. Ia begitu sedih. Jika saja bisa ditukar, ia rela dirinya yang berada di posisi Ayna sekarang.


Hati Alex benar-benar tak sanggup melihat Ayna seperti ini. Wanita yang begitu sangat dicintainya, berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka.


Saat kehamilan, Ayna harus merasakan perutnya yang kian hari makin membesar. Itu pasti sangat tidak nyaman.


Dan sekarang untuk melahirkan anak mereka. Ayna harus berjuang sekuat tenaga. Bahkan Ayna masih bisa tersenyum di tengah kesakitannya. Sungguh... Pengorbanan yang tak akan bisa tergantikan dengan apapun.


Ayna mengikuti intruksi sang dokter. Menarik nafas lalu membuangnya, menarik nafas lagi lalu membuangnya.


"Mas Alex..." Ayna menatap sendu suaminya. Ia merengek menahankan sakit yang semakin menjadi.


"Dokter, berapa lama lagi ini?" Alex tak sanggup melihat istrinya seperti itu.


"Sebentar lagi. Ayo, Bu... Lakukan yang saya katakan, anak ibu sedikit lagi akan lahir.." Ucap Dokter.


"Sayang, tahan sebentar ya." Alex mengusap keringat yang bercucuran di kening sang istri.


Ayna mengangguk dan melakukan apa yang diintruksikan dokter. Ia juga menggenggam tangan Alex semakin kuat. Rasa sakit yang menjalar ini sungguh luar biasa.


"Ayo... Bu. Sedikit lagi... Bagus, Bu... Lakukan lagi..."


Dan... Suara tangisan bayi menggema di ruang itu.


"Mas A-A-Alex... I-i-i-itu..." Ucap Ayna bergetar, tiba-tiba mendengar suara tangisan bayinya. Rasa sakit yang tadi dirasakannya, seperti mendadak hilang.


"Iya, itu anak kita. Terima kasih, sayang. Kamu sangat luar biasa." Alex bernafas lega. Ia menkecupi seluruh wajah Ayna.


"Sayang..." Alex menatap Ayna dalam. Tanpa sadar air matanya berjatuhan.


Menyadari itu, Alex pun memeluk Ayna.


Tak berapa lama, Ayna sudah dipindahkan ke ruang pasien.


"Selamat datang anak Mama." Ucap Ayna begitu terharu menggendong buah hatinya yang masih memerah itu.

__ADS_1


Ayna menatap sejenak, lalu ia menkecup bayi mungil itu dengan sayang.


Alex mengelus kepala istrinya, ia lalu mengelus pelan kepala sang bayi. Pria itu belum berani menggendong putranya. Karena takut sangking senangnya, ia akan memeluk erat tubuh mungil itu tanpa sadar.


'Kok nggak ada miripnya sama aku??' Ayna menyadari wajah putranya terlalu didominasi wajah Alex.


Mama dan Bunda bergantian menggendong cucu mereka. Papa dan Ayah juga sama dengan Alex, takut menggendong anak bayi.


"Bu, lihatlah cucu kita mirip sekali dengan Alex. Matanya, hidungnya, bibirnya.." Mama menatap duplikat putranya yang pada sang cucu.


Ayna memajukan bibir mendengar perkataan wanita paruh baya itu.


"Benar, Bu. Seperti fotocopyan Alex, ya." Bunda juga ikut mengomentari.


Kini bibir Ayna makin maju, dengan wajah cemberut. Kok jadi kesal ya.


Alex menyadari ekspresi Ayna. Pasti istrinya sedang kesal. Bayi itu mengikuti ketampanan dirinya.


"Sayang..." Alex mengelus pundak Ayna pelan.


"Mas, 9 bulan aku mengandung. Masa mirip sama papanya doang. Nggak ada mirip-miripnya sama aku. Ini nggak adil..." Ayna pun jadi mewek.


"Sayang, kan bagus putra kita mirip sama Papanya."


"Bagus apa?" Tanya Ayna bingung.


"Itu artinya. Rasa cintaku sangat besar sama kamu." Jelas Alex.


"Aku." Jawab Alex dengan bangga.


Perut Alex pun kena japitan Ayna.


###


"Adik ipar... Kami datang." Ucap Dafa yang nyelonong masuk.


Alex menghembuskan nafas, melihat Dafa datang dengan Jo. Ada Rani juga bersama mereka.


Rani menggendong bayi itu hati-hati. Pasalnya ada mata tajam yang mengawasi.


"Halo... sayang." Sapa Rani sejenak.


"Hai..." Jo hanya mengelus wajah bayi mungil itu.


"Lihatlah... Kalian berdua cepat menikah, biar punya baby juga." Ledek Dafa melihat interaksi Rani dan Jo pada putranya Alex.


"Bang kecilkan suaramu. Kasihan bayinya kaget." Rani pun mengembalikan pada Ayna kembali.


Dafa mendengus kesal. Ia pun mendekati bayi yang digendong Ayna.

__ADS_1


"Halo... Kenali ini Om Dafa. Om kamu yang paling ganteng. Cepat besar ya, nanti Om kasih tahu tips mendekati wanita." Dafa menunjukkan senyum playboynya.


Alex yang kesal menarik Dafa menjauh dari Ayna dan anaknya.


"Jangan kau ajari anakku yang tidak-tidak."


"Itu hal wajar, Lex." Dafa membela diri.


"Wajar gundulmu."


Yang lain pada tertawa melihat mereka berdebat.


"Jadi itu akan-"


"Diam kau." Alex segera menutup mulut Dafa. Putranya tidak boleh mendengar perkataan tak berfaedah Dafa.


Dafa pun memilih diam sebentar. Ia mendengarkan obrolan Ayna dan Rani tentang kehamilan, hingga saat proses persalinan.


Bukan hanya Dafa yang mendengarkan, bahkan Jo dan Alex sendiri ikut mendengar.


Alex menatap Ayna penuh cinta. Wanita itu bercerita sambil tersenyum. Padahal ia menyaksikan sendiri bagaimana Ayna berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan putra mereka.


###


"Mama..." Alex tiba-tiba menghampiri Mama dan Papa yang sedang duduk di luar kamar. Ayna sedang di kamar pasien bersama kedua orang tuanya.


"Kenapa nih anak?" Tanya Mama bingung tiba-tiba Alex memeluknya.


"Maaf. Aku minta maaf, Ma. Selama ini banyak salah sama Mama. Aku sering melawan dan meledek Mama." Aku Alex sejujurnya.


Mama melirik Papa.


"Kesambet kali, Ma." Jawab Papa pelan.


"Iya, Iya Mama maafkan. Sudah jangan peluk-peluk lagi. Malu dong sudah punya anak, masih manja." Mama melepaskan pelukan itu.


"Ma, terima kasih telah melahirkanku. Aku janji nggak akan melawan atau meledek Mama lagi."


Melihat secara langsung bagaimana perjuangan Ayna melahirkan. Pasti seperti itu juga saat Mama melahirkannya. Penuh pengorbanan dan air mata.


"Aku sangat sayang sama Mama." Alex kembali memeluk sang Mama.


Wanita paruh baya itu menghapus air mata. Ia jadi terharu melihat tingkah Alex.


Walau Alex sering buat marah dan kesal. Mama akan selalu menyayangi putranya sampai kapanpun. Walaupun Alex sudah menikah, rasa sayang Mama tetap tak akan berubah.


"Kamu nggak sayang sama Papa, Lex?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2