Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 100


__ADS_3

Tentu saja Jona kaget karena kedatangan Marisa. Tapi, dia bisa menguasai dirinya. Karena memang, perasaan yang dia punya sudah benar-benar lenyap. Bahkan, dia tidak pernah merasa dekat sedikitpun dengan perempuan yang ada di dekatnya saat ini.


"Marisa? Ada apa? Kenapa datang ke Wijaya grup?" Jona berucap dengan nada tenang.


"Nathan. Bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku bahas dengan kamu. Mm ... sekaligus, aku ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi diantara kita sebelumnya. Aku ... aku sungguh sangat menyesal."


Jona tersenyum kecil. "Apa yang sudah terjadi, tidak akan pernah bisa berubah. Untuk itu, biarkan saja waktu yang membawanya pergi. Tidak perlu diingat, dan tidak perlu dibahas lagi."


"Apa sudah tidak ada kesempatan kedua untuk kita bersama lagi? Mm ... maksudku, tidakkah ada kesempatan kedua untuk kita seperti dulu, Nathan?"


"Risa, aku sudah bilang padamu sebelumnya, bukan? Yang sudah berlalu, tidak perlu dibahas lagi. Jadi, bagi aku, tidak akan ada kesempatan kedua dalam hidup. Karena waktu tidak akan pernah bisa diulang, jadi kesempatan kedua juga tidak akan pernah ada."


"Apakah segitunya kamu benci aku, Than? Apakah kata maaf tidak ada lagi buat aku sekarang?"


"Aku tidak pernah membenci kamu dan Sean. Jadi, untuk apa kata maaf aku berikan? Karena bagiku, kalian tidak bersalah. Atau, jika kalian memang benar bersalah, aku sudah memaafkan kalian. Kamu tidak perlu merasa sedih seperti itu," ucap Jona sambil tersenyum tipis lagi.

__ADS_1


Seperti yang Marisa rasakan sebelumnya, Jona masih sama. Masih dingin seperti dulu, tapi tatapan matanya terasa hangat. Masih bisa menghangatkan hati Marisa yang telah beku karena ulah Sean yang jauh dari kata sempurna untuk ia jadikan suami.


Marisa terus menatap lekat wajah Jona. Sementara Jona, dia sepertinya tidak ingin berlama-lama bersama Marisa. Terbukti saat Marisa menatapnya, dia langsung membuang muka. Lalu, memilih untuk pergi.


"Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, aku permisi sekarang. Istriku ingin aku makan siang bersama di rumah," ucap Jona sambil beranjak.


Namun, dengan cepat Marisa menahan tangan Jona. Seketika, langkah Jona tertahankan. Tapi, dengan cepat pula Jona menyingkirkan tangan Marisa dari tangannya. Wajah risih pun ia perlihatkan.


"Maaf, tidak baik menyentuh tanganku secara langsung. Karena itu akan menimbulkan kesan buruk buat orang yang melihatnya. Kamu sudah punya suami, sementara aku sudah punya istri. Jadi, prasangka orang nanti akan tidak baik ketika kita saling bersentuhan satu sama lain."


Ingin rasanya dia mengeluarkan semua beban yang ada dalam dadanya. Tapi sayang, dia tidak bisa melakukan hal itu sekarang.


Marisa langsung menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat sedih.


"Kamu ... benar-benar sayang pada istrimu, Than. Aku ... jadi merasa menyesal karena telah memilih Sean dan bukannya kamu waktu itu. Karena ternyata, Sean tidak semanis kamu dalam memperlakukan istrinya."

__ADS_1


"Andai saja aku pilih kamu, hubungan kita juga tidak akan seburuk ini, bukan? Mungkin, kamu juga tidak akan merasakan sakit mental waktu itu. Iya kan, Nathan?"


Ucapan itu membuat Jona mengukir senyum tipis. Dia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan tangan yang dia pegang ke atas tulang hidung.


"Risa-Risa. Apa sih yang kamu pikirkan sebenarnya? Aku sakit mental bukan karena aku marah akibat kamu memilih Sean. Tapi, aku hanya merasa terlalu tersakiti akibat perlakuan kalian. Kita sudah berjanji untuk tidak saling mencintai satu sama lain. Tapi sayangnya, hati tidak bisa dipaksakan. Aku maklum akan hal itu karena aku juga mengalaminya."


"Namun, asal kamu tahu saja, aku sakit mental bukan karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, karena aku sangat merasa tersakiti akibat pengkhianatan kalian. Kalian meninggalkan aku dalam kesepian. Tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat kalian bersama. Kalian malah melupakan aku begitu saja. Tanpa kabar, atau sedikit saja kepedulian kalian. Kalian sungguh benar-benar melupakan aku begitu saja."


Sungguh hal yang sangat mengejutkan buat Marisa. Jona malah berucap kata-kata yang sama sekali tidak dia pikirkan sebelumnya. Ternyata, Jona tidak marah akibat dia yang memilih Sean. Tapi, merasa dikhianati akibat di tinggalkan sahabat.


"Untuk cinta ... yah, aku sangat mencintai istriku sekarang. Dia adalah hidupku, Risa. Aku harap, kamu juga sama seperti itu pada Sean. Karena walau bagaimanapun, dia adalah suami kamu saat ini, bukan?"


"Tapi .... "


"Marisa! Nathan!"

__ADS_1


Teriakan itu langsung menahan kata-kata Marisa. Dan, perhatian Jona juga Marisa langsung teralihkan dengan teriakan tersebut. Mereka kompak melihat ke arah asal suara itu secara bersamaan.


__ADS_2