
Kini, Mila sudah tiba di rumah setelah beberapa saat mengendarai mobilnya. Dia pun menghempaskan bokong ke atas sofa ketika sudah berada di dalam rumah. Dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal, dia meminta bibi yang bekerja di rumahnya membuatkan segelas jus.
Emily yang kebetulan ada di rumah, langsung menghampiri Mila ketika dia melihat keberadaan putrinya di ruang tamu rumah mereka. Dengan wajah penuh rasa penasaran, Emily duduk di samping Mila.
"Bagaimana, Mil? Apa semua berjalan lancar?"
Pertanyaan itu langsung membuat Mila melirik mamanya. Dengan wajah yang kesal, dia tatap sang mama sesaat.
"Lancar? Lancar apanya, Ma? Yang ada aku malah mendapat kesialan yang sangat besar di sana."
"Mama tahu? Jesika sialan itu sepertinya bukan Jesika yang dulu lagi. Yang bisanya hanya diam dan menerima semua perlakuan buruk dari kita."
Ucapan Mila langsung membuat Emily mengangkat satu alisnya. Apa yang Mila katakan tentu sangat menyita rasa penasaran dari hati Emily sekarang.
"Apa maksud kamu, Mil? Coba jelaskan pada mama apa yang sebenarnya telah terjadi di sana."
__ADS_1
Mila yang kesal, langsung menceritakan semua yang telah terjadi pada mamanya. Segala yang telah dia lalui, tidak ada satupun yang terlewatkan. Semuanya ia ceritakan pada Emily. Sedangkan Emily, dia memberikan ekspresi yang tidak senang saat tahu bagaimana perubahan Jesi dari cerita Mila barusan.
"Sialan! Aku menyesal telah menikahkan Jesi dengan Jonathan. Sekarang, dia sudah berlagak karena punya tempat baru yang lebih tinggi dari kita."
Emily langsung memberikan tatapan tajam ke arah Mila.
"Ini semua juga salah kamu, Mila." Emily berucap dengan nada kesal yang penuh dengan penekanan. Membuat Mila jadi agak takut.
"Kok ... mama malah nyalahin aku sih? Ini semua gak ada hubungan dengan aku, tahu gak?"
"Enteng banget kamu ngomong gitu ya, Mil. Ini semua karena kamu. Jika saja kamu tidak menolak lamaran itu, maka Jesi tidak akan menikah dengan Jonathan. Apa kamu tidak sadar juga, kalau semua ini akibat ulah kamu yang terlalu bodoh."
"Iy-- iya ... mana ... aku tahu, Ma. Awaknya kan, Jonathan itu sakit mental. Ya jelas aku gak sudi dong nikah dengan pria sakit mental. Mana dia sering ngamuk gak jelas lagi."
"Sekarang, kamu lihat kan dia baik-baik aja! Dasar gak berguna kamu, Mila. Udah susah payah mama besarkan dari kecil. Mama berikan semua yang kamu inginkan. Harusnya, kamu bisa bahagiain mama. Bukan malah bikin mama kecewa."
__ADS_1
"Ma! Ini bukan salah aku. Siapa suruh Jonathan itu mengalami sakit mental. Jika dia sembuh seperti sekarang, aku juga akan setuju dengan lamaran yang waktu itu. Jelas saja aku tidak akan menolaknya. Karena selain tampan, dia juga kaya kan?"
"Sudah! Jangan cari-cari alasan kamu untuk membela diri. Jika salah, tetap saja salah. Sekarang, mama gak mau tau. Bagaimanapun caranya, kamu harus bisa ambil posisi Jesika. Gantikan dia secepatnya. Karena posisi itu seharusnya milik kamu, bukan Jesi."
"Aku tahu, Ma. Tapi, mama juga harus bantuin aku juga dong. Jangan biarkan Jesi bahagia terlalu lama. Karena dia, anak-anak mama kekurangan kasih sayang dari papa. Karena dia juga, kita banyak mengalami kesulitan akibat papa yang selalu membela dia, Ma."
"Sekarang, dia malah bahagia tanpa bisa menolong kita. Aku yakin, semakin lama dia berada di sisi Jonathan, maka akan semakin berkuasa pula dia nantinya. Bisa-bisa, kita dapat imbas yang luar biasa akibat ulah Jesi kelak."
"Seperti aku hari ini, yang dia permalukan habis-habisan di depan semua orang. Hal ini mungkin akan berlanjut ke mama, atau bahkan kak Jaka. Jesi mungkin bisa membalas dendam dengan mengambil semua harta milik kita, Ma. Karena dia selalu kita perlakukan tidak baik di rumah ini dulunya. Iya, kan?"
Mila terus saja berucap panjang lebar. Dia berusaha keras untuk membakar semangat mamanya agar mau membantu merebut Jonathan dari Jesika. Sedangkan Emily, dia merasa semakin kesal dengan apa yang Mila katakan.
"Ah ... sudah-sudah. Ngomong aja terus kamu sejak tadi. Bikin mama semakin kesal saja."
"Kamu tenang aja. Mama pasti akan bantuin kamu untuk menyingkirkan Jesika dari Jonathan. Kalo perlu, menyingkirkan Jesi dari kota ini untuk selama-lamanya."
__ADS_1
Mila tentu saja sangat bahagia dengan apa yang mamanya katakan. Tapi, kebahagiaan itu masih ada yang mengganjal buat Mila. Dengan tatapan serius, dia tatap wajah mamanya.
"Kenapa tidak singkirkan dia buat selama-lamanya aja, Ma. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang namanya Jesika anak angkat dari papa dan mama."