
"Sepertinya ... tidak ada, Nyonya. Semua pelayan sudah berada di kamar mereka masing-masing. Hanya saya yang berada di luar karena saya tugas menutup pintu malam ini," ucap pelayan itu dengan nada penuh keyakinan.
"Bagus kalau begitu." Mama Jona langsung bangun dari duduknya.
"Mm ... apa kamu mau uang yang banyak sekarang?" Mama Jona melontarkan pertanyaan kepada pelayan itu.
Tentu saja mata si pelayan jadi berbinar-binar akibat senang. Bagaimana tidak? Dia cukup paham dengan apa yang mama Jona tanyakan. Karena biasanya, jika pertanyaan itu mama Jona lempar, sudah pasti dia akan dapat pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dalam sekejap.
"Tentu saja saya sangat mau, Nyonya."
"Baiklah kalau gitu. Sekarang, kamu dengarkan apa yang aku katakan. Pergi ke kamar Jesika! Ambil semua barang yang dia punya. Jangan ada satupun barang yang kamu tinggalkan."
"Lalu, amankan barang itu ke tempat yang jauh. Tempat yang paling aman di mana tidak ada satu orang pun yang tahu, apa lagi bisa menemukannya. Apa kamu paham?"
Tentu saja pelayan itu langsung menatap mama Jona dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Meskipun dia sangat paham dengan perkataan majikannya, tapi ... apa yang majikannya katakan barusan itu sangat membuat dia merasa penasaran.
"Mm ... apa ... apa Nona Jesi tidak akan kembali lagi ke rumah ini, nyonya? Apa dia .... "
"Lakukan saja apa yang aku katakan jika kamu ingin uang. Jangan banyak tanya, karena itu tidak akan baik untuk kamu." Mama Jona berucap cepat memotong perkataan pelayan tersebut.
__ADS_1
"Dan ... ingat satu hal. Jika kamu berani mengatakan apa yang terjadi malam ini, maka bukan hanya kamu saja yang akan menerima akibatnya. Keluarga mu juga akan merasakan akibat dari apa yang kamu perbuat. Paham kamu?"
Ucapan bernada ancaman juga mama Jona layangkan pada pelayan tersebut. Si pelayan tentu saja langsung memasang wajah takut.
"Sa-- saya ... saya paham, Nyonya. Akan saya lakukan apa yang nyonya katakan dengan sangat baik. Dan, nyonya tenang saja. Rahasia nyonya akan aman bersama saya. Seperti hal yang telah lalu, Nyonya."
"Bagus. Aku percaya apa yang kamu katakan. Laksanakan sekarang juga apa yang aku katakan tadi."
"Baik, Nyonya."
Saat pelayan itu ingin beranjak meninggalkan Sesilia. Sesilia kembali menghentikan pelayan tersebut. Lalu, dia keluarkan uang yang ada di dalam lemari.
"Ini uang untukmu. Ingat! Lakukan dengan baik. Jangan sampai ada yang terlihat mencurigakan. Kamu paham apa yang aku maksudkan, bukan?"
"Hm."
Sesilia tersenyum lebar setelah kepergian pelayan tersebut. Dia terlihat sangat-sangat bahagia sekarang.
"Selamat jalan, Jesika. Jangan salahkan aku terlalu kejam padamu. Kamu yang memilih hal ini. Jadi, jangan salahkan aku."
__ADS_1
"Huh! Andai saja kamu bersedia pergi secara baik-baik. Maka hal buruk ini tidak akan terjadi padamu, perempuan bodoh. Dasar! Tidak mau meninggalkan kekayaan yang baru kamu nikmati. Maka bayarannya adalah nyawa kamu."
Sesilia begitu bahagia. Tapi dia belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak tahu, kalau Jesi tidak datang bukan karena tertangkap oleh orang yang mereka bayar. Tapi melainkan, jatuh ke selat.
Dan, malangnya, mama Jona ini juga tidak tahu, kalau ada sepasang telinga yang kini telah mendengarkan apa yang sudah dia katakan.
Si pemilik telinga kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya dia, sampai tidak bisa bergerak saat tahu kalau hal buruk telah terjadi pada Jesika.
Sekuat tenaga dia berusaha mengumpulkan kesadaran yang dia miliki. Dia tutup mulutnya dengan tangan agar tidak menimbulkan bunyi apapun. Karena apa yang dia dengar itu adalah hal paling berbahaya, maka nyawanya juga sedang dalam bahaya saat ini. Untuk itu, dia harus ekstra hati-hati mulai dari sekarang.
Sementara itu, Jona sudah tidak sabar lagi. Sudah hampir empat jam dia berada di restoran tersebut. Menunggu kedatangan sang pujaan hati. Tapi sedikitpun tidak memunculkan tanda-tanda keberadaannya.
"Di mana kamu, Je? Kenapa tidak datang juga? Haruskah aku tetap menunggu sekarang?"
"Ya Tuhan ... jika dia terjebak macet, tidak mungkin akan selama ini. Tapi .... " Tiba-tiba saja, pikiran buruk menyusup ke dalam benak Jona.
"Tidak. Jesi pasti baik-bain saja sekarang. Dia pasti baik-baik saja. Aku yakin itu," ucap Jona sambil menggelengkan kepala.
"Tapi .... Ah! Aku tidak bisa menebak terus seperti ini. Jika dia dalam bahaya bagaimana? Aku harus menemukan Jesi secepatnya."
__ADS_1
Jona memilih beranjak. Tapi, saat berada di depan restoran, dia mendadak merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin bicara juga tidak tahu harus bicara dengan siapa.
Karena setelah sembuh dari sakitnya, dia masih belum punya teman dekat selain Jesi. Dia hanya bicara banyak dengan Jesi satu orang saja. Sementara dengan yang lainnya, Jona masih tidak banyak bicara.