
Teriakan itu langsung menahan kata-kata Marisa. Dan, perhatian Jona juga Marisa langsung teralihkan dengan teriakan tersebut. Mereka kompak melihat ke arah asal suara itu secara bersamaan.
Dari arah belakang, datang Sean dengan wajah kesal. Dia menatap tajam Marisa yang ada di hadapannya saat ini.
"Ternyata kamu ke sini rupanya, Risa. Pantas saja aku cari di rumah tidak ada."
"Se-- Sean. Ke-- kenapa ... kamu ... nyari aku?" Marisa berucap dengan terbata-bata karena gugup.
"Ayah dan ibumu datang. Kau malah tidak ada di rumah. Mereka menginginkan kita menjemput di terminal, tapi kamu malah keluyuran." Sean berucap dengan nada agak tinggi. Dia tidak menghiraukan keberadaan Jona yang kini berada di sekitarnya.
Sementara Jona, dia tidak bergeming sedikitpun. Karena dia tahu, dia tidak ada sangkut pautnya dengan obrolan itu. Pembicaraan pasangan suami istri, maka dia tidak ada hak ikut campur. Jadi, dia langsung berniat untuk pergi meninggalkan Sean dan Marisa tanpa berucap terlebih dahulu.
Tapi, sekali lagi, langkah Jona tertahan dengan tangan. Namun kali ini, tangan dari orang yang berbeda. Yaitu, tangan Sean.
"Ada apa? Apa kamu juga ingin bicara padaku sekarang?" Jona berucap dengan nada datar.
__ADS_1
"Tapi maaf, aku sudah lama di sini. Aku ingin segera pulang karena istriku pasti sudah menunggu aku di rumah," kata Jona lagi.
"Tunggu sebentar! Hanya sebentar saja." Kali ini, entah kenapa, nada yang Sean gunakan terasa berbeda dengan yang ia gunakan buat berbicara dengan Marisa barusan. Karena nada ini, terdengar cukup lembut.
Lalu ... tiba-tiba saja, Sean langsung bersimpuh dihadapan Jona dengan tangan yang masih memegang tangan Jona. Sean pun langsung menundukkan wajah seketika.
"Nathan. Maafkan aku. Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu tidak marah padaku karena aku yang mencintai dan menikahi Marisa. Tapi, kau marah karena aku tinggalkan. Aku sebagai sahabat memang tidak berguna, Nathan." Sean bicara dengan nada penuh penyesalan. Dia juga berucap sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan tangan Jona ia letakkan di dahinya.
"Aku pantas kau benci, Than. Karena aku, kamu jadi sakit. Aku tidak layak kamu sebut sebagai sahabat. Benar-benar tidak layak, Nathan."
Jonathan yang tidak menyangkan akan hal itu, langsung berusaha menarik tangannya dari genggaman Sean. Tapi sayangnya, tidak bisa.
"Tidak akan. Aku tidak akan bangun. Sebelum kamu mengatakan kalau kamu tidak marah padaku, dan kamu sudah memaafkan aku, maka aku tidak akan bangun dari sini."
"Aku sudah tahu semuanya, Nathan. Aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan tadi. Karena sejak awal, aku sudah membuntuti Marisa dari rumah hingga dia tiba di sini. Jadi, semua pembicaraan kalian, aku dengar dengan sangat baik."
__ADS_1
"Apa!? Kamu buntuti aku, Mas? Apa kamu sudah kehilangan akal?" tanya Marisa dengan wajah yang sangat kaget.
Bagaimana tidak? Dia sudah bicara panjang lebar tadi. Dia sudah mengatakan hal yang tidak boleh Sean ketahui. Tapi sekarang, sayangnya hal itu sudah Sean ketahui semuanya. Dia tidak tahu bagaimana nasib dirinya sekarang. Sean pasti sedang marah besar saat ini.
Ucapan Marisa Sean abaikan begitu saja. Dia malah tetap fokus pada sahabat yang kini mungkin layaknya di sebut, mantan sahabat saja.
"Than, aku sungguh minta maaf. Aku pikir, kamu marah padaku karena aku yang menikah dengan dia," ucap Sean sambil menunjuk ke arah Marisa.
"Karena dia juga, yang membuat aku marah padamu waktu itu. Dia yang mengatakan, kalau kamu benci aku karena aku telah menang dalam perebutan hati. Dia tidak ingin kita bersama lagi. Karena dia akan merasa risih saat bersama kamu. Dia juga bilang, kalau kamu pasti tidak akan tinggal diam. Kamu akan memperebutkan dan merusak rumah tangga kami nantinya. Maka dari itu, aku memilih memutuskan hubungan kita."
Mata Jona membulat akibat penjelasan itu. Ternyata, biang masalah persahabatan mereka adalah Marisa. Sahabat mereka sendiri. Entah apa yang ada dalam pikiran Marisa waktu itu. Tapi yang jelas, ini terlalu kelewatan.
Sean menatap Marisa dengan sorotan dingin. Sementara Marisa, dia tentu saja memasang wajah kaget dengan mata yang melotot dan kepala yang dia geleng-gelengkan.
"Apa yang kamu katakan, Mas Sean? Jangan banyak bicara yang tidak-tidak. Jangan banyak membual kamu," ucap Marisa berusaha menyangkal.
__ADS_1
"Nathan. Tolong jangan percaya apa yang dia katakan. Aku ... tidak, aku tidak mengatakan hal itu."
"Kau ingin menyangkalnya, Marisa? Jika iya, silahkan saja. Aku juga tidak akan melarang kamu menyangkal apa yang aku katakan. Karena aku sudah tidak peduli dengan semua ini lagi. Bagiku, cukup aku yang bicara jujur, itu sudah selesai. Terserah mau memberikan tanggapan apa orang yang mendengarkannya. Karena aku tahu, kejujuran itu pasti akan terbukti mau kamu menyangkalnya seperti apapun."