Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 61


__ADS_3

Terdengar nada kesal di setiap kata yang mama Jona ucapkan. Tapi, hal tersebut tidak membuat Dana merasa takut. Dia bahkan tidak melakukan apa yang mama Jona katakan.


Dana bahkan terus mempertahankan genggamannya dari tangan mama Jona. Sambil membalas tatapan kesal mama Jona, Dana tersenyum.


"Tante tidak sakit kepala sebelumnya bukan? Aku tahu kalau tante hanya pura-pura saja tadi. Jadi .... "


"Diam! Semua itu tidak ada urusannya dengan kamu. Kamu hanyalah dokter muda yang beruntung saja. Jika tidak, kamu tidak akan bisa bekerja di keluarga Wijaya yang terpandang ini. Jadi, jangan ikut campur apapun masalah yang terjadi di keluarga ini. Paham?"


Sekarang, Sesilia tidak bisa menahan diri lagi. Rasa panik, kini sudah berpadu dengan rasa kesal yang tiba-tiba membuat dia hilang kendali. Dengan sekuat tenaga, dia hempas kan tangan Dana yang masih melingkar di pergelangan tangannya.


"Jangan bicara hal yang tidak penting, Dana. Karena kamu akan tahu akibatnya. Seharusnya sekarang, kamu juga ikutan panik saat tahu bagaimana dengan keadaan Jona. Karena kamu adalah dokter yang merawat Jona selama ini. Tanggung jawab kesembuhan Jona ada di tangan kamu," ucap mama Jona dengan tangan yang menuding ke arah Dana.


Namun, ekspresi yang Dana berikan malah tidak sama dengan apa yang Sesilia harapkan. Dokter muda itu malah langsung tersenyum ketika kata-kata yang penuh penekanan itu dia dengar.

__ADS_1


"Tante .... Seharusnya tante tahu dengan sangat baik kalau bukan aku yang menjadi dokter yang membantu penyembuhan Jonathan. Melainkan, seorang perempuan yang kalian datangkan ke dalam hidup Jona."


"Tante tahu? Perempuan itu berperan sangat penting buat mental Jona. Sakit mental yang Jona alami bisa sembuh, itu karena kerja keras dari Jesika. Dia sudah susah payah memberikan kehangatan untuk Jona sehingga Jona bisa keluar dari masalah besar yang sebelumnya dia alami."


"Jadi ... jika Jona kambuh lagi sekarang, itu adalah hal yang wajar. Mengingat Jesi adalah obat buat Jona, jadi ketika Jesi tidak ada, maka Jona akan kembali kambuh ke perasaan sebelumnya. Apalagi Jona belum lama sembuh."


"Aku sudah bilang sebelumnya, bukan? Jona itu butuh waktu yang sangat lama untuk sembuh total. Dia bisa baik-baik saja itu masih berkat Jesika. Sayangnya, Jesi masalah menghilang sekarang."


"Jangan sok tahu kamu, Dana. Akan aku buktikan kalau bukan hanya Jesi yang bisa membantu Jona sembuh dari sakit mental yang dia alami. Ada banyak perempuan yang lebih baik dari Jesi di luar sana. Yang pastinya, salah satu dari mereka bisa memulihkan sakit mental yang anakku derita secara permanen. Bukan ketergantungan seperti saat ini."


"Baiklah kalau gitu, Tante Sesilia. Aku tunggu tante membuktikan apa yang tante katakan. Aku ingin lihat, siapa perempuan yang lebih baik itu secepatnya." Dana berucap dengan nada penuh tantangan.


Setelah selesai berucap, Dana pun langsung berpamitan untuk meninggalkan kamar tersebut duluan. Sementara Sesilia, seperti sedang tertimpa sebuah reruntuhan batu besar, dia tidak mampu menjawab apa yang Dana katakan lagi. Dia hanya mampu diam sambil menatap tajam ke arah punggung Dana yang pergi semakin menjauh darinya.

__ADS_1


"Akan aku buktikan. Kamu lihat saja nanti anak kecil banyak bicara. Dan pada saat itu juga, aku akan buat kamu membayar apa yang sudah kamu lakukan. Berani sekali kamu bicara banyak di depanku," kata Sesilia sambil menggenggam erat tangannya setelah Dana tidak terlihat lagi.


Sementara itu, papa Jona telah berhasil membuka pintu kamar anaknya. Alangkah kagetnya mereka ketika melihat pemandangan yang mengerikan itu. Dua pelayan perempuan yang ada di dalam kamar tersebut penuh luka-luka. Sementara satu dari mereka sedang berada dalam cengkraman Jona. Dan satu yang lainnya telah terbaring di atas lantai dengan mata yang tertutup rapat.


"Jona! Apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Apa semua ini, Jo? Kenapa bisa begini?"


"Mereka telah menjadi penghalang untuk aku bertemu Jesi. Maka dari aku, aku berusaha untuk melenyapkan mereka dengan tanganku sendiri secepatnya. Agar aku bisa bertemu Jesi tanpa ada penghalang lagi." Jona bicara dengan nada santai seperti tanpa beban.


Jangankan merasa bersalah, dia seperti tidak punya perasaan sedikitpun lagi sekarang. Yang dia ingat hanya Jesi, Jesi, dan Jesi lagi.


"Tol-- tolong sa-- ya ... tu-- tuan besar," ucap pelayan yang masih ada dalam cengkraman Jona saat ini.


"Ya Tuhan, Jo. Mereka tidak salah, Nak. Lepaskan mereka sekarang juga. Mereka bukan penghalang, Jonathan. Mereka hanya menjalankan tugas untuk menjaga kamu. Tidak ada sangkut pautnya dengan kamu untuk bertemu Jesi. Jadi, tolong lepaskan dia sekarang juga. Ayo bicara baik-baik dengan papa, Nak."

__ADS_1


__ADS_2