
"Panggil Imah kemari sekarang juga."
"Ingat, Ma! Jika mama berbohong sekarang, maka papa tidak akan memaafkan mama sekalipun." Papa Jona berucap dengan nada penuh ancaman.
"Tidak perlu memanggilnya. Karena Imah sudah ada di sini sejak tadi. Dia aku bawa karena aku tahu, papa pasti tidak akan percaya dengan apa yang mama katakan. Maklum, di rumah ini, mama sudah tidak ada artinya lagi."
"Bukan kamu yang tidak ada artinya, Ma. Tapi kamu sendiri yang tidak ingin menjadikan dirimu berarti."
"Sudahlah. Jangan banyak bicara. Mari selesaikan masalah yang ada dengan cepat."
"Imah! Ke sini kamu!"
Pelayan pribadi itu langsung datang untuk memperlihatkan batang hidungnya. Dengan wajah yang sedikit pucat, dia menghampiri kedua majikannya yang kini dalam keadaan sama-sama emosi.
"Perlihatkan padaku, Imah! Apa bukti yang majikan mu katakan sebelumnya. Aku ingin tahu secepatnya sekarang juga."
__ADS_1
Imah tidak langsung menjawab. Dia malahan kini langsung menundukkan kepala dengan ponsel yang ia genggam erat di kedua tangannya.
Hal tersebut tentu membuat papa Jona agak kesal. Dia ulangi apa yang dia katakan sebelumnya dengan nada yang lebih tinggi lagi. Sedangkan mama Jona hanya diam saja. Dia pikir, ini adalah permainan Imah yang sekarang sudah cukup pintar dan mengerti dengan baik apa yang dia katakan.
'Cukup baik, Imah. Kamu layak jadi pelayan pribadiku sebenarnya. Melihat apa yang kamu lakukan saat ini, aku jadi akan semakin mempertimbangkan lagi niat untuk membuang dan menggantikan mu dengan pelayan yang lain,' kata mama Jona dalam hati sambil mempertahankan senyum agar tidak keluar dari bibirnya.
"Imah! Katakan!" Papa Jona kembali membentak. Imah yang gugup terlihat semakin gugup.
"Tu-- tuan besar. Maafkan saya. Sebenarnya ... ada hal besar yang tuan tidak ketahui selama ini. Ini ... tentang nyonya dan nona Jesi."
Imah tidak melanjutkan apa yang dia katakan. Hal itu membuat Sesilia sedikit kesal akan apa yang Imah perlihatkan.
'Dasar Imah bodoh. Sandiwara sih sandiwara. Tapi gak gini juga kali jalannya. Semakin lama menjalankan sandiwara akan terlihat kalau dia itu gugup. Aku tidak ingin bukti yang aku berikan diketahui palsu oleh papa. Dasar bodoh kamu Imah!' Sesilia mengutuk Imah dalam hati.
Jika saja tidak sedang bermain sandiwara saat ini. Mungkin dia sudah memarahi Imah sekeras mungkin karena terlalu lamban dan membuat hatinya merasa sangat kesal.
__ADS_1
Sementara itu, Imah yang gugup menoleh sebentar ke arah Sesilia. Lalu, dia menarik napas pelan untuk mengusir perasaan takut yang ada dalam hatinya saat ini.
"Tuan besar, semua ini hanya sandiwara Nyonya saja. Aku tahu semua kebenarannya. Meski apa yang aku katakan tidak ada bukti yang jelas. Tapi aku berani bersumpah, kalau nona Jesi adalah perempuan baik. Nyonya memaksakan kehendaknya pada nona Jesi. Dan .... "
Sesilia yang mendengarkan apa yang pelayan pribadinya katakan, langsung melebarkan mata. Dia sungguh sangat-sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Bukannya memperlihatkan bukti yang dia maksud, si pelayan malah berkhianat darinya. Si pelayan malah mengatakan hal yang berbanding terbalik dari apa yang dia harapkan.
Untuk itu, Sesilia langsung memotong ucapan Imah dengan cepat.
"Biadab! Apa yang kamu katakan tentangku, Imah!? Kamu itu adalah pelayan pribadiku. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal yang tidak benar untuk majikan mu sendiri."
"Maafkan saya, Nyonya. Kejahatan Nyonya pada nona Jesi sudah sangat besar. Perasaan sebagai sesama manusia tidak bisa saya hindari, Nyonya. Semakin hari, saya merasa semakin bersalah saja. Saya tahu apa yang Nyonya lakukan. Tapi saya hanya diam saja. Hal itu .... "
"Lancang! Kamu tidak tahu apa-apa, Imah. Jangan banyak mengarang kamu ya. Aku bisa menjobloskan kamu ke dalam penjara atas tuduhan pencemaran nama baik yang sudah kamu lakukan terhadap majikan sendiri."
"Imah. Aku tahu kamu kesal karena aku tidak memberikan kamu pinjaman uang. Tapi aku bukan tidak ingin memberikannya padamu. Kamu tahu kalau Jesi selalu meminta uang padaku, bukan?" Seketika, Sesilia langsung bicara hal yang tidak-tidak untuk membuat suaminya bingung.
__ADS_1
Tentu saja hal itu langsung dia pikirkan saat sadar akan keadaan yang sangat tidak menguntungkan buatnya. Sebisa mungkin, dia yang pintar membalikkan keadaan langsung ingin mengalihkan perhatian. Seperti yang dia lakukan sebelumnya ketika ada masalah dengan para pelayan yang bekerja di rumahnya dahulu.
Hal itu berhasil. Terlihat wajah kesal dan bingung yang papa Jona perlihatkan saat ini begitu jelas. Papa Jona benar-benar berada dalam dilema. Antara kebohongan juga kebenaran, dia merasa tidak tahu ingin percaya pada siapa.