
"Pa ... apa yang dokter kata itu ternyata benar. Dia tidak ingat dengan siapa dirinya sendiri. Bagaimana ini, Pa? Bagaimana kalau .... "
Diana tidak melanjutkan ucapannya lagi. Saat ini, wajah paniknya terlihat dengan jelas. Ada ketakutan yang sedang bersarang dalam benak Diana sekarang.
Menyadari apa yang istrinya sedang cemaskan. Indra langsung menggenggam erat kedua tangan sang istri dengan lembut. Tak lupa, senyum manis dia perlihatkan agar ketakutan juga kekhawatiran yang ada dalam hati sang istri segera mereda.
"Ma, dia anak kita. Apa mama tidak percaya dengan hasil dari tes DNA yang sudah kita dapatkan beberapa waktu yang lalu? Kita tidak hanya melakukan tes DNA di satu rumah sakit lho, Ma. Melainkan, hampir semua rumah sakit di kota ini kita lakukan uji coba agar hasilnya akurat."
Ya, Diana dan Indra sudah melakukan tes DNA untuk membuktikan firasat yang ada dalam hati mereka. Dan, tes DNA itu ternyata cocok sepenuhnya. Hal tersebut menunjukkan, kalau perempuan yang mereka temukan di selat waktu itu adalah benar anak mereka.
"Jadi ... jangan pikirkan soal yang lainnya lagi. Kita merawat anak kandung kita. Itu tidak akan ada salahnya. Siapa yang bisa melarang kita menggambil apa yang seharusnya kita punya, Ma." Indra berucap sambil merangkul lembut bahu Diana.
"Tapi, Pah. Dia tidak besar dengan kita. Sebagai orang tua, mama sangat paham apa yang orang tua lainnya rasakan. Kehilangan anak akan membuat hidup kita dalam kesedihan yang mendalam, bukan?"
"Iya kalau itu anak kandung kita, Ma. Bagaimana jika anak kita tinggal dalam keluarga yang tidak mengharapkan dia kembali? Mama juga harus ingat satu hal. Dia itu anak angkat bagi keluarga yang sudah membesarkannya. Bukan anak kandung yang akan membuat mereka sangat kehilangan.'
Ucapan itu sedikit membuat hati Diana tenang.
__ADS_1
"Namun, sebaiknya kita juga harus izin jika ingin mengambil anak kita, kan Pah?"
"Iya, papa tahu. Tapi, kita tidak bisa izin sekarang, kan Ma."
Belum sempat Diana menjawab apa yang suaminya katakan, Jesi yang sedari tadi kebingungan, tidak bisa menahan diri lagi. Diapun langsung berucap dengan mata yang menatap lekat ke arah kedua orang tuanya.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa terlihat seperti sedang mendebatkan sesuatu?"
Sontak saja, ucapan itu langsung membuat Indar dan Diana tersenyum ke arah Jesi yang bingung. Lalu, keduanya yang tadi masih berpelukan, tentu saja langsung melepas pelukan mereka dengan cepat.
"Untuk itu, kamu akan kami panggil dengan nada, Jesika." Diana berucap lagi sambil tersenyum.
Tentu saja nama itu membuat Indra langsung membulatkan mata. Karena sepertinya, dia sedang merasa sedikit bingung dengan nama yang istrinya berikan buat anak mereka yang baru mereka temui ini.
"Mama ... kenapa berikan dia nama itu?"
"Kenapa, Pah? Bukankah Jesika itu memang nama anak kita?"
__ADS_1
"Ya emang nama putri kita Jesika, Ma. Tapi .... " Indra tidak melanjutkan ucapannya. Hal itu membuat Diana menatap kesal ke arah suaminya.
"Tapi apa, Pa? Kenapa papa terlihat tidak setuju dengan nama yang mama berikan? Itu nama anak kita. Dan, dia anak kita. Apa ada yang salah dengan nama itu?"
"Tidak ada sebenarnya. Tapi, papa hanya takut kehilangan anak untuk yang kedua kalinya. Namun ... jika mama merasa tidak ada masalah, maka papa juga tidak akan mempermasalahkannya."
Diana terdiam. Dia memikirkan apa yang suaminya katakan. Benar memang, anak mereka bernama Jesika. Dan, papa angkat Jesi memberikan nama yang sama. Karena Jesi waktu dia temukan ada liontin hijau dengan nama Jesika di belakangnya.
Namun sayang, liontin itu direbut oleh Mila saat beberapa hari setelah kepergian papanya. Tapi ... karena Jesi tidak bersedia memberikan liontin itu, maka liontin tersebut terhempas ke batu dalam aksi perebutan keras yang mereka berdua lakukan saat itu.
Liontin tersebut pecah berserakan. Kalungnya putus sampai jadi tiga bagian. Jesi yang sangat sedih, tidak bisa berkata apa-apa selain menangis waktu itu. Bahkan, kesedihannya semakin bertambah besar saat Jaka putus asa untuk memperbaiki liontin kesayangannya.
Bukan Jaka tidak ingin, tapi memang liontin tersebut sudah tidak ada harapan untuk bisa diperbaiki. Karena itulah, Jesi hanya bisa menyimpan serpihan liontin tersebut dalam sebuah kotak kecil yang Jaka berikan.
Sekarang, Diana dan Indra sudah tahu kalau Jesi adalah anak mereka. Tapi, keberadaan liontin itu masih Diana pertanyakan. Meskipun dia tidak ingin memikirkan hal tersebut, tapi pikirannya yang tidak bisa dia cegah. Tetap saja terpikir.
Ingin bertanya, tapi tentu saja tidak akan dapat jawaban. Karena Jesi saat ini, tidak ingat dengan siapa dirinya.
__ADS_1