Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 67


__ADS_3

"Tuan besar, maaf sebelumnya. Jika nyonya tidak bisa kita paksa untuk mengaku, maka kita harus menemukan orang lain yang bisa menjadi pembongkar semua kesalahan yang nyonya lakukan."


Tentu saja papa Jona masih bingung dengan apa yang Imah ucapkan. Dia langsung bangun untuk memperhatikan wajah Imah yang ada di hadapannya saat ini.


"Maksud kamu bagaimana, Imah? Maaf, saya masih tidak memahami apa yang kamu katakan."


"Begini, tuan besar .... "


Imah pun langsung mengatakan apa yang sedang ada dalam pikirannya. Papa Jona yang mendengar hal tersebut langsung memasang wajah kesal sekaligus penuh harap.


"Jadi, ini semua tidak Sesilia lakukan sendiri, Imah? Ada orang lain yang sudah membantu dia melakukan semua ini?"


Imah mengangguk pelan. Ya, Imah mengatakan kalau semua ini ada campur tangan Mila di dalamnya. Karena malam itu, dia juga mendengarkan percakapan antara Sesilia dengan Mila sebelum mereka berduaan di taman samping rumah untuk membicarakan prihal rencana yang mereka punya.


"Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu, Imah. Apa yang kamu katakan adalah bukti nyata bagi aku. Maka dari itu, aku akan cari Mila secepatnya. Akan aku buat dia bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada menantuku."


.....

__ADS_1


Di sisi lain, Mila sedang bersama ketua geng hitam. Dia datang ke tempat tersebut karena dia telah melihat rekaman cctv yang di dapatkan oleh pihak ke polisian dari jembatan gantung.


"Apa kalian sudah gila, hah! Kenapa kalian malah mencelakai kakakku? Dia itu adalah kakakku, bia_ dap!"


"Mila, mereka tidak akan melakukan semua itu jika tanpa sebab." Ketua geng tersebut bicara dengan lembut sambil membelai wajah Mila.


"Katakan padaku! Apa sebabnya, ha?"


"Ya Tuhan, Mila. Jangan galak-galak gitu dong. Kamu makin galak makin cantik tau ...?"


"Sudah aku duga, Mila. Kamu sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kakakmu. Tapi, aku hanya peduli dengan kegagalan rencana yang kamu buat. Hm ... sebenarnya, aku belum sempat mencicipi manisnya kakak angkat yang kamu janjikan padaku. Karena ulah anak buah yang bodoh ini, juga halangan dari kakak kandungmu yang sok jagoan itu." Ketua geng berucap dengan nada yang terdengar cukup kesal. Ketua itupun langsung duduk di atas sofa yang ada di sampingnya saat ini.


Sementara itu, Mila yang mendengarkan apa yang ketua itu ucapkan, sontak langsung memasang wajah kaget. Sungguh, sebelumnya dia tidak mengetahui jika kakak kandungnya masih saya ikut campur dalam urusan yang dia lakukan.


"Apa maksud kamu?" Mila berucap dengan wajah serius untuk memastikan kebenaran dari ucapan si ketua geng barusan.


"Ayo duduk sini dulu, Mila ku sayang. Nikmati waktu bersama terlebih dahulu jika kamu ingin tahu semua yang terjadi dengan kakak angkat kesayangan kamu itu. Setelah kamu puaskan aku, maka aku akan katakan apa yang ingin kamu ketahui. Bagaimana?"

__ADS_1


Mila memasang wajah kesal. Hati Mila sebenarnya merasa jijik dengan apa yang ketua geng itu katakan. Tapi, dia sepertinya tidak punya cara lain selain mengikuti apa yang ketua geng itu mau. Lagipula, dia hanya perlu melakukan ulang apa yang sebelumnya sudah dia lakukan beberapa waktu yang lalu.


'Baiklah. Ayo lakukan hal yang sama sebelum kamu hidup bahagia menjadi nyonya besar Jonathan Wijaya, Mila. Tidak perlu merasa tersiksa, karena ini adalah yang terakhir kalinya,' kata Mila dalam hati sambil mendengus pelan.


Selanjutnya, dia pun beranjak menghampiri ketua geng, yang kedatangannya langsung di sambut senyum manis oleh ketua geng tersebut. Tatapan tak sabar pun terlihat dari mata ketua geng itu. Yang membuat Mila sedikit merasa ngeri tentunya.


"Gadisku yang pintar," ucap ketua geng langsung menyambut kedatangan Mila dengan beringas.


"Jangan lakukan hal itu di sini. Aku tidak ingin melakukan di tempat terbuka seperti ini," ucap Mila berusaha menepis tangan nakal si ketua geng.


"Aku ingin mencoba hal baru denganmu, sayangku. Di tempat terbuka, akan lebih menyenangkan. Kamu coba saja kalau tidak percaya."


Ketua geng terus ingin menguasai tubuh Mila. Tapi, Mila menolak dengan keras. Selain tempat yang terbuka, di sini juga masih banyak anak buah yang berlalu lalang. Mereka akan menjadi tontonan para anak buah jika melakukan hal terlarang di tempat terbuka seperti ini.


"Lepaskan! Aku tidak ingin melakukan hal itu di sini. Apa kamu mengerti!?" Mila langsung membentak ketua geng.


Bentakan itu membuat ketua geng marah. Plak! Sebuah tamparan dia hadiahkan ke wajah Mila dengan keras. Sangking kerasnya, sudut bibir Mila langsung berdarah akibat tamparan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2