
Awalnya, mereka berdua langsung saling tatap. Sama-sama kaget dengan apa yang mereka lihat. Mila terkejut, tapi sekaligus bahagia. Karena akhirnya, mama Jona yang sudah bekerja sama dengan dia, kini ikut masuk ke dalam penjara. Sedangkan mama Jona, dia kaget karena melihat Mila yang sangat-sangat jauh berbeda dari yang dia kenal sebelumnya.
"Heh ... ternyata, hukum di dunia ini masih berjalan rupanya," ucap Mila sambil menatap lurus ke depan dengan posisi yang duduk dengan lutut di depan dada.
"Akhirnya, orang jahat masuk penjara juga," ucap Mila lagi sambil melirik mama Jona.
Mama Jona tidak menjawab. Dia langsung mengabaikan Mila. Hal itu tentu sangat membuat hati Mila tidak senang.
Mila langsung bangun dari duduknya. Dia tahan tangan mama Jona yang ingin meninggalkan dia.
"Tante dengar aku, bukan? Akhirnya, orang jahat kek tante datang juga ke sini. Gimana rasanya? Enak, kah?"
"Lepaskan tanganku! Jangan banyak bicara hal yang tidak penting, Mila. Karena semakin banyak kamu bicara, itu semakin tidak baik."
Mama Jona berucap sambil menepis tangan Mila.
Ucapan itu membuat Mila tertawa lepas. Tubuhnya yang kurus, seperti ingin terangkat akibat tertawa keras.
"Mau aku banyak bicara, ataupun tidak bicara sama sekali, itu akan sama saja, Tante. Kita di sini, akan tetap jadi tahanan. Apa tante tidak paham akan hal itu?"
Kini, nada bicara Mila terdengar sangat sedih. Hal tersebut cukup membuat mama Jona terdiam membatu tanpa tahu harus bicara apa. Selanjutnya, Mila tiba-tiba menjatuhkan air mata dari sudut matanya.
__ADS_1
"Semuanya telah terjadi sekarang. Tidak akan bisa berubah lagi," ucap Mila dengan nada lirih yang terdengar sangat pelan.
Ada luka dan penyesalan di sana. Hal tersebut terlihat dengan jelas. Mila menyeka air matanya dengan cepat. Diapun lalu menatap tajam mama Jona.
"Semua itu karena, tante. Tante yang tidak bisa menjaga rahasia sampai aku harus mendekam di sini. Tante munafik! Jahat! Aku benci tante!"
Tiba-tiba, Mila berteriak keras sambil ingin mencekik mama Jona.
Untungnya, polisi penjaga masih ada di sana. Dia dengan cepat menghalangi Mila. Ulah Mila tentu saja langsung gagal. Dan Mila pun segera di keluarkan dari sel tersebut.
Entah dipindahkan ke mana. Yang jelas, mereka tidak di tempatkan satu sel lagi. Hukuman yang Mila terima memang sebanding dengan apa yang dia perbuat. Dia dikenakan hukuman penjara seumur hidup. Sementara mama Jona hanya mendapat hukuman lima belas tahun penjara saja.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Kusuma. Tepatnya, di kamar si perempuan yang kini telah dianggap anak oleh keluarga tersebut, sedang sangat ricuh.
Kericuhan itu karena perempuan yang mereka tolong telah sadarkan diri. Setelah koma selama lebih dari satu bulan, akhirnya, perempuan itu sadar juga. Kebahagiaan pun terlihat dengan sangat jelas di antara wajah-wajah yang ada di ruangan tersebut.
"Sayang. Akhirnya, Nak. Kamu sadar juga," ucap Diana dengan perasaan sangat bahagia. Sangking bahagianya dia, matanya tidak kuat menahan air mata karena terlalu bahagia dengan sadarnya perempuan yang mereka anggap anak.
"A-- aku ... di mana aku ini?" tanya perempuan tersebut dengan wajah yang sangat bingung. Matanya menyapu sekeliling kamar yang kini sangat asing baginya.
"Kamu .... " Indra tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dia melirik sang istri untuk meminta bantuan menjelaskan.
__ADS_1
Seakan paham dengan apa yang suaminya maksudkan. Dia pun langsung ambil alih bicara. "Kamu di rumah, sayang. Apa kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai jatuh ke selat?"
Mata perempuan tersebut langsung menatap lekat wajah Diana. "Aku ... jatuh ke Selat? Ba-- bagaimana bisa?" tanya perempuan itu malah memperlihatkan wajah yang semakin kebingungan.
Ekspresi terkejut yang terlihat sangat polos itu membuat Diana dan Indra menjadi ikut merasa bingung. Keduanya pun saling bertukar pandang seketika.
"Pa .... "
"Tunggu, Ma. Biar papa yang bicara dengan dia."
"Yah."
"Mm ... apa kamu tahu siapa namamu?"
"Namaku .... " Seketika, mata polos itu lagi-lagi memberikan tatapan bingung pada Indra dan Diana. Kali ini, si perempuan menyertai tatapan itu dengan gelengan.
"Aku tidak tahu siapa namaku. Aku lupa dengan namaku sendiri sekarang." Jesika berucap sambil menatap kosong ke depan.
Yah, dia adalah Jesika. Karena terlalu lama berada di dalam air, dan juga mengalami benturan saat jatuh, dia jadi lupa akan siapa dirinya saat ini.
Diana dan Indra sebelumnya sudah dikatakan oleh dokter yang mereka tugaskan untuk merawat Jesi. Kalau Jesi akan mengalami amnesia untuk beberapa waktu. Tapi, itu tidak akan lama. Karena dokter bilang, jika pemulihannya baik, maka akan semakin cepat pula untuk Jesi mendapatkan kembali ingatannya.
__ADS_1