
Wajah cemas dan wajah yang dipenuhi tanda tanya mengiringi pertanyaan Sean barusan. Sedangkan tanggapan Diana malah membuat Sean sedikit bingung. Karena mendapatkan pertanyaan cemas dari Sean, Diana malah tertawa kecil.
"Mama ... kok malah tertawa sih, Ma? Aku sedang khawatir lho ini," ucap Sean dengan nada kesal.
"Kamu khawatir? Apa sih yang kamu khawatirkan, Se? Mama sama papa gak papa. Baik-baik saja kok di sini. Rumah, juga baik-baik saja. Gak ada yang salah, dan gak ada yang berubah."
"Mama yakin?"
"Tentu saja. Kalau nggak, mana mungkin mama bisa tersenyum seperti ini, Se."
"Ya ... ya juga sih. Oh ya, di mana papa? Kok gak ada di sampung mama?"
"Papa kamu di ruang keluarga. Baru pulang kerja. Capek katanya."
"Oh. Mm ... mama kangen aku gak?" tanya Sean dengan manja.
"Ya kangen lah, Nak. Masa nggak? Secara, kamu udah gak pulang ke rumah hampir setengah tahun, kan Se? Betah banget kek nya kamu di luar negara. Gak ingat rumah lagi sekarang."
"Betah gak betah sih, Ma. Di sini, aku cuma ngikutin apa yang Marisa inginkan. Dia ingin tinggal di sini selama beberapa waktu. Ya aku ikuti aja apa yang dia mau. Selagi aku belum merasa kesal, maka aku akan lakukan."
__ADS_1
"Se, jangan terlalu galak jadi suami ya, Nak. Sebisa mungkin, kamu jaga keluargamu dengan baik. Jangan sampai kamu jadi pria yang terlalu keras yang pada akhirnya akan membuat istrimu terluka."
"Iya, Ma. Aku usahakan. Tapi terkadang, dia selalu bikin aku kesal, Ma. Dia yang super cemburuan itu, selalu bikin aku risih. Dia juga sangat egois, Ma. Selalu ingin di dengarkan, tapi tidak ingin mendengarkan apa yang aku katakan. Hal itu memancing emosi dalam hatiku, Ma."
"Sean Kusuma Diningrat. Perempuan itu pilihan kamu sendiri, kan? Jadi, mama yakin kalau kamu sudah memilih dengan baik. Jika dia egois, maka kamu harus membantu dia menurutkan egonya dengan sabar. Jika dia pencemburu, maka kamu harus pikirkan, apa kesalahan yang sudah kamu perbuat sampai dia bisa merasa cemburu padamu."
"Ingat, jangan terlalu dekat dengan wanita lain, Se. Karena itu sama saja dengan kamu yang memancing rasa cemburu dari hati istrimu. Bukan dia yang sengaja ingin cemburu, tapi kamu yang memang pantas dia cemburui. Kamu paham apa yang mama katakan, bukan Se?"
Sean hanya garuk-garuk kepala sambil tersenyum, nyengir kuda. Apa yang mamanya katakan, dia tidak akan membantah. Tapi, belum tentu dia ingat dengan baik. Itulah kekurangan Sean Kusuma Diningrat ini. Bisa menerima, tapi tidak menerapkan. Sungguh, sama saja dengan masuk dari kuping, tapi keluar lagi seolah memantul begitu saja.
"Jangan hanya nyengir aja, Se. Ingat dan lakukan apa yang mama katakan."
"Oh iya, Ma. Hampir lupa bilang sama mama satu hal penting. Ma, aku akan pulang ke kota kita lusa. Mama jemput aku yah."
Seketika, ucapan itu langsung membuat Diana kaget. Kaget sekaligus bahagia tentunya. Meski dia tidak terlalu merindui Sean, tapi tetap saja, kepulangan anak itu cukup membuat hatinya merasa senang.
"Kamu serius, Se? Ingin pulang ke rumah ini lusa?"
"Iya, dong Ma. Aku pulang lusa. Mama harus jemput aku di bandara."
__ADS_1
"Bagaimana kalo gak bisa?"
"Ya ... kalo gak bisa mau bagaimana lagi. Aku pulang sendirian aja ke rumah."
Inilah Sean. Dia yang tidak pernah memaksakan keinginannya. Selalu hangat saat bicara. Juga, selalu membuat keceriaan tetap terlihat di raut wajahnya. Karena ini, Marisa tertarik akan dirinya waktu itu.
Tapi, tanpa Marisa ketahui apa efek dari keceriaan, kehangatan, juga keromantisan yang selalu Sean perlihatkan. Ternyata, itu berlaku untuk semua orang. Bukan hanya untuk dirinya saja. Hal tersebut tentu akan menimbulkan rasa sakit dan perasaan cemburu buat Marisa.
Dan, Diana paling tahu siapa anaknya. Jadi, dia tentu tidak ingin ikut campur selama anaknya masih bersikap normal menurut dia. Meski dia juga merasa tidak nyaman dengan sikap sang anak yang sedikit keterlaluan.
Diana menarik napas panjang setelah panggilan antara dia dengan Sean berakhir.
"Semoga kamu tidak mengecewakan mama, Se."
Diana kembali ke ruang keluarga dengan tergesa-gesa. Dia merasa sangat tidak enak hati karena sudah meninggalkan putri kandungnya di ruang keluarga. Saat dia melihat suaminya tidak ada, rasa tidak enak hati itu semakin besar.
"Ya Tuhan, kamu sendirian di sini, Sayang? Di mana papa kamu? Kenapa dia juga ikut meninggalkan kamu sih?"
Jesi langsung menyuguhkan senyum termanis yang dia punya untuk meredakan apa yang mamanya sedang rasakan.
__ADS_1
"Papa ada keperluan, Ma. Jadi, dia pergi sebentar. Lagian, aku gak papa kok di sini sendirian. Orang aku juga sibuk soalnya dengan gawai ku ini," ucap Jesi sambil mengangkat ponsel yang sedari tadi dia mainkan.