Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 78


__ADS_3

Untuk beberapa saat, Jaka mendadak dikerumuni oleh orang-orang komplek dan para tetangga yang ada di sekitar rumahnya. Mereka sibuk menanyakan keadaan Jaka. Kenapa lama menghilang, dan sebagainya seputar tentang Jaka yang lenyap mendadak waktu itu.


Karena pertanyaan itu, Jaka sampai tidak bisa memberikan pertanyaan prihal orang rumahnya yang masih tidak menampakkan batang hidung satupun. Orang-orang komplek pada sibuk, tidak mungkin orang rumahnya tidak tahu kalau dia pulang.


"Maaf semuanya, di mana keluargaku? Kenapa mereka tidak keluar juga saat aku pulang?" Jaka kini mulai cemas. Wajah paniknya terlihat dengan jelas saat ini.


Seketika, pertanyaan itu membuat semua yang ada di sana terdiam semua. Bak waktu terhenti, mereka juga terdiam sampai tidak terdengar satupun yang bicara.


"Ke-- kenapa kalian diam semua? Apa yang telah terjadi setelah aku pergi? Apa ... apa ada yang bisa mengatakannya padaku?" Jaka kini semakin dibuat panik saja.


"Mas Jaka, kamu yang sabar yah. Keluargamu .... "


Bu Sari lalu menceritakan semuanya dengan lengkap. Mulai dari ulah Mila yang tersebar luar melalui vidio buruk sampai Mila yang di tangkap polisi karena dia adalah dalang dari menghilangnya Jesika, kakak angkatnya sendiri.


Selanjutnya, bu Sari mengatakan kalau ... mama Jaka saat ini sedang berada di rumah sakit jiwa. Karena gangguan jiwa yang dia alami, maka dia terpaksa di masukkan ke rumah sakit jiwa oleh pihak yang berwajib.

__ADS_1


Saat mendengar semua yang bu Sari katakan, tubuh Jaka langsung lunglai, lemah seperti orang yang kehilangan tenaganya. Ternyata, begitu banyak kejadian yang dia lewatkan ketika dia tidak ada di rumahnya.


"Yang sabar, Mas Jaka. Mungkin, semua yang terjadi ini adalah karma untuk adik juga mama mas Jaka. Karena mereka sangat jahat pada mbak Jesika." Salah satu ibu-ibu malah bicara seperti itu.


"Hush! Jangan bicara hal yang tidak pantas di saat keadaan tidak baik seperti ini. Kamu gak tahu bukan? Bagaimana nasibmu selanjutnya?" kata bu Sari dengan kesal.


"Ya emang ini karma, kan Bu? Bu Emily dan mbak Mila itukan sangat kejam pada mbak Jesi dulu. Apalagi setelah .... "


"Ah, sudah-sudah. Jangan bicara lagi kamu. Jangan menambah buruk suasana yang sudah buruk," kata bu Sari langsung memotong ucapan dari si ibu-ibu yang punya bibir julid.


"Mas Jaka, biar Meta yang pergi mengantarkan mas ke rumah sakit tempat ibu Emily di rawat. Soalnya, Meta tahu di mana rumah sakitnya. Lagipula, mas Jaka juga tidak ada kendaraan kan sekarang? Jadi, pergi dengan Meta agar bisa lebih cepat dan lebih mudah."


Meta, dia adalah anak satu-satunya Bu Sari, tetangga sebelah rumah Jaka. Sejak dulu, gadis itu terkesan sangat baik. Entah karena dia memang baik, atau mungkin mengikuti cara kedua orang tuanya bersikap baik pada tetangga. Yang jelas, gadis itu selalu tersenyum saat melihat Jaka.


Namun, beberapa tahun terakhir, si gadis tidak pernah terlihat lagi. Kata bu Sari, anaknya kuliah ke kota sebelah sambil menjalankan bisnis keluarga. Itu Jaka dengar dari obrolan para ibu-ibu saat mereka ngumpul.

__ADS_1


Tapi, Jaka tidak pernah ingin ambil pusing dengan keberadaan si gadis. Mau dia ada, atau tidak, bagi Jaka, itu tidak penting. Karena yang dia pentingkan hanya Jesika. Dunianya sudah dipenuhi dengan Jesika. Maka tidak ada kesempatan untuk orang lain lagi.


Dan sekarang, gadis itu malah semakin cantik dari sebelumnya. Tapi tetap saja, dia yang sedang panik akan keadaan keluarganya, mana bisa memperhatikan hal seperti itu.


Saat Meta menyapa, dia juga hanya melirik sekilas saja. Lalu, ketika diajak masuk mobil, Jaka juga hanya memperlihatkan wajah datar sambil mengikuti apa yang Meta katakan.


Dalam perjalanan pun, Jaka tidak menjawab apa yang Meta tanyakan. Tapi, Meta tak ingin ambil hati. Karena dia paham bagaimana perasaan Jaka saat ini. Siapapun pasti akan merasa sangat syok dengan kejadian keluarga yang di dengar dengan tiba-tiba seperti yang Jaka alami. Untuk itu, Meta ingin tetap menghibur Jaka meski tidak dianggap ada oleh Jaka.


"Kak Jaka sabar yah. Ini adalah cobaan buat kak Jaka juga keluarga kakak. Dibalik semua ini, pasti ada hikmahnya kok, Kak."


"Oh iya, soal kak Jesi .... "


Sontak, Jaka langsung membenarkan duduknya ketika Meta bicara soal Jesika.


"Bagaimana dengan Jesika, Met? Apa dia sudah kembali sekarang?"

__ADS_1


Ternyata, Jaka langsung bisa merespon ketika nama Jesi Meta sebut. Meta pun langsung melirik Jaka sesaat.


"Kak Jesi ... masih belum di temukan, Kak. Dari kabar yang aku dengar sih, gak ada tanda-tanda keberadaan dia sedikitpun. Semua orang juga tidak tahu harus mencarinya ke mana. Karena preman yang tertangkap itu juga tidak tahu di mana kak Jesi berada."


__ADS_2