
Selanjutnya, papa Jona menjelaskan lagi prihal vidio tersebut. Yang ternyata, vidio itu dia dapatkan dari rekaman mobil yang Jona tugaskan untuk menjemput Jesika malam itu.
Dia berhasil melacak keberadaan mobil dan si sopir. Malangnya, si sopir terluka parah dan tidak bisa diselamatkan lagi. Hal tersebut membuat mereka kehilangan saksi kunci untuk memberatkan para preman itu.
Tapi untungnya, rekaman tersebut sudah dianggap cukup oleh pihak kepolisian kemarin. Jadi, kasus kehilangan Jesika bisa dianggap sebagai pembunuhan berencana yang didalangi oleh Mila dan Sesilia.
Penangkapan Mila hanya menunggu kesaksian dari preman itu saja. Jadi, sebelum ada kabar dari pihak kepolisian, papa Jona bergerak terlebih dahulu. Karena dia sungguh tidak sabar lagi. Dia ingin segera tahu di mana Jesi.
Sementara itu, Mila yang sedang merasa sangat cemas tidak tahu harus bicara apa. Dia hanya diam mematung dengan tubuh yang menegang karena takut.
'Tidak! Ini tidak benar. Kalau begini ceritanya, mama juga tidak akan berada di pihak ku. Mama yang sedang kesal akan kecelakaan kak Jaka, pasti juga ikut memarahi aku karena hal ini. Aku bisa tamat jika begini caranya.'
Mila sibuk berpikir sendiri. Dia berusaha menemukan cara yang tepat untuk kabur sekarang. Karena membela diri tidak akan berhasil, maka jalan satu-satunya yang harus dia tempuh adalah kabur agar bisa menyelamatkan diri.
'Tapi ... bagaimana caranya aku bisa kabur sekarang? Di sini sangat banyak penjaga. Belum juga aku lari, mereka pasti akan menangkap aku duluan. Lagian, kak Jaka dan tante Sesilia juga sialan banget sih. Bisa-bisanya mereka jadi orang bego. Satu berkhianat, sedangkan yang satu lagi malah berani ngorbanin hidup hanya demi orang lain. Benar-benar tidak berguna. Awas saja kalian jika aku bisa lolos dari sini.'
__ADS_1
Sementara Mila sibuk dengan apa yang dia pikirkan, papa Jona memberikan kode pada anak buahnya untuk menangkap Mila. Papa Jona tidak ingin kecolongan lagi sekarang. Jadi, dia yang bertindak duluan sebelum polisi datang.
Tentu saja Mila kaget dengan apa yang anak buah itu lakukan. Tapi sayangnya, kesempatan untuk lari tentu sudah tidak ada lagi. Meski dia berusaha keras melawan, anak buah yang sedang menangkapnya itu mungkin sepuluh kali lebih kuat dari pada dia.
"Tidak, Om! Jangan lakukan ini, Om Wijaya. Aku tidak salah, kenapa om malah bertindak sesuka hati? Kalian tidak tahu peraturan hukum ya? Kalian bisa aku tuntut dengan tindakan kekerasan. Kalian paham!?"
"Lakukan saja jika kamu bisa," ucap papa Jona santai. "Cepat seret dia ke kantor polisi sekarang juga!" kata papa Jona dengan nada tegas pada anak buahnya.
Mendengar hal itu, Mila langsung berteriak.
Namun sayangnya, Emily yang patah hati tentu saja tidak berkutik. Tubuhnya terasa membeku saat ini. Kenyataan pahit yang ada di hadapan, membuat Emily tiba-tiba mati rasa. Yang ada dalam pikiran Emily saat ini hanyalah, anaknya membunuh anaknya. Itu saja. Yang lain tidak bisa ia ingat lagi.
Jalan hidup memang tidak ada yang tahu. Sedangkan yang namanya karma itu nyata. Manusia pasti akan menerima balasan dari apa yang dia lakukan. Bak kata pepatah, *apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.*
Sekarang, Mila berada di kantor polisi. Dia di tahan sebagai tersangka. Sedangkan mama Jona, dia masih bebas karena beberapa alasan. Namun, status bebasnya itu tidaklah bisa membuat hatinya tenang. Karena selain bebas dengan syarat dalam pengawasan, dia juga bisa sewaktu-waktu berubah menjadi tersangka. Sama dengan yang Mila alami saat ini.
__ADS_1
Terlepas dari semua itu, yang jelas, mama Jona yang egois itupun saat ini sedang tersiksa. Dia diabaikan oleh suaminya. Masih tinggal di kamar karena dikurung oleh papa Jona. Tidak diizinkan melihat Jona yang kini telah kembali pada keadaan sebelumnya.
Setiap hari, Sesilia hanya bisa bicara dengan pak Dimas. Itupun saat pak Dimas mengantarkan makanan saja. Komunikasi dengan suaminya juga dengan pak Dimas.
Karena setelah dikurung, papa Jona tidak sekalipun datang untuk melihat Sesilia. Dia yang patah hati akan kelakuan Sesilia itu benar-benar tidak ingin memaafkan istrinya.
"Apa yang mas Wijaya katakan untuk aku, pak Dimas?" tanya Sesilia ketika pak Dimas masuk ke kamar tersebut.
"Tuan besar hanya bilang, tidak ada maaf untuk nyonya." Pak Dimas berucap dengan wajah yang tidak enak.
"Oh, hanya itu saja? Apakah dia sudah mempertimbangkan untuk mendatangkan gadis yang aku sarankan padanya kemarin?"
"Sepertinya ... sudah, Nyonya. Hanya saja .... " Pak Dimas tiba-tiba menghentikan kegiatannya yang menyiapkan makanan untuk Sesilia.
"Apa, pak Dimas?" tanya Sesilia tidak sabar lagi.
__ADS_1
"Tuan muda ngamuk, Nyonya."