Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 63


__ADS_3

"Karena kamu adalah perempuan yang sungguh bukan seperti manusia. Kamu tidak pantas jadi mama untuk Jona."


"Apa yang kamu katakan, Pa?! Jona itu adalah anakku. Bagaimana bisa aku tidak pantas jadi mamanya?"


"Kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Kamu sudah menjadi perenggut kebahagiaan anakmu sendiri. Sekarang, nikmati hari-hari baikmu tinggal di rumah ini dengan damai. Jangan datang ke kamar anakku sekarang."


"Penjaga! Penjaga, cepat datang!" Papa Jona berteriak keras. Teriakan itu langsung membawa dua penjaga datang ke hadapannya.


"Ya, tuan besar."


"Bawa Nyonya ke kamarnya sekarang! Kurung dia di kamar itu. Jangan biarkan dia keluar dari kamar dengan alasan apapun. Tidak ada yang bisa menemui Nyonya tanpa izin dariku, paham?"


"Baik, Tuan besar."


Tentu saja Sesilia kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak? Suaminya sendiri meminta orang mengurung dia di kamar tanpa mengizinkan dia keluar sedikitpun. Bahkan, tidak mengizinkan dia melihat keadaan putranya terlebih dahulu.


"Pa! Jangan lakukan ini padaku, Pa! Aku tidak salah, Pa! Yang salah itu .... "


Tidak terdengar lagi apa yang Sesilia ucapkan. Karena dia sudah semakin menjauh dari hadapan papa Jona. Sedangkan papa Jona, setelah istrinya tak terlihat lagi, dia langsung memperlihatkan wajah sedih.


Dari arah belakang muncul Dana yang memberikan tatapan cemas juga prihatin pada papa Jona. "Om."

__ADS_1


"Ah, iya, Dana. Bagaimana keadaan Jona saat ini? Apa dia baik-baik saja?"


"Seperti yang sama-sama kita ketahui, Om. Sakit mentalnya kembali kambuh. Dia tidak butuh dokter seperti aku sebenarnya. Karena yang sakit itu bukan tubuhnya, tapi mental."


"Bagaimana? Apa kamu punya saran untuk, Om? Apakah om harus mendatangkan dokter jiwa ke rumah ini, Dan?"


"Aku rasa ... efeknya akan sama saja, Om. Seperti yang sebelumnya, itu tidak ada pengaruh buat Jona. Kalau bisa aku sarankan, cari saja Jesi sampai ketemu. Karena aku percaya, kalau Jesi mampu mengembalikan semuanya."


"Sudah om lakukan sekarang, Dan. Tapi hasilnya masih tidak ada. Om bahkan sudah mengerahkan banyak anak buah untuk mencari. Tapi tidak ada tanda-tanda akan keberadaan Jesi sama sekali."


"Jangan putus asa, Om. Aku yakin, usaha tidak akan mengkhianati hasilnya."


"Yah, semoga saja apa yang kamu katakan itu benar. Ah, om titip Jona ya. Ada hal yang harus om urus sebentar. Maaf jika om kembali merepotkan kamu lagi, Dan. Tapi, hanya kamu yang bisa om mintai pertolongan. Karena pelayan di sini tidak ada yang berani deketin Jona lagi soalnya."


"Terima kasih banyak, Dana. Om tinggal sekarang."


"Iya, om."


.....


"Di mana Jaka!? Tolong segera temukan Jaka! Aku tidak ingin anakku kenaoa-napa."

__ADS_1


Emily sedang frustasi saat ini. Jaka masih tidak diketahui di mana keberadaannya. Bahkan, pencarian yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Jaka ...! Di mana kamu, Nak?" Emily benar-benar di landa kesedihan. Dia berjalan mondar-mandir di sekitar tepian selat tempat di mana Jaka mengalami kecelakaan.


"Ayo kita pulang, Ma. Mama harus istirahat agar kondisi mama baik-baik saja, Ma." Mila berusaha menenangkan sang mama yang seperti bukan mamanya lagi.


"Kamu pulang saja duluan. Mama gak mau pulang. Mama ingin menemukan Jaka."


"Tapi, Ma."


"Mila! Pulang saja kamu sana. Aku ingin mencari anakku. Jika kamu tidak ingin ikut, maka pergilah." Untuk pertama kalinya, dia membentak Mila dengan keras di depan umum.


Hal itu tentu saja membuat wajah Mila terasa panas karena malu. Ingin rasanya dia balas bentakan sang mama dengan bentakan yang sama. Tapi ... oh, itu tidak bisa dia lakukan. Karena itu sama saja dengan dia yang akan menambah kecamanan publik akibat perlakuannya terhadap orang tua. Dia akan dicap sebagai anak durhaka oleh orang yang ada di sekita mereka.


Mila yang gusar terpaksa tetap mengikuti Emily. Meski itu bertolak belakang dengan apa yang hatinya inginkan. Tapi karena tidak punya pilihan, maka dia terpaksa tetap menjalankan.


Sementara itu, di seberang tepian selat, tepatnya, di bagian ujung selat tersebut, seseorang kemarin telah menemukan orang yang hanyut. Orang itu warga kampung selamatkan dengan membawa ke rumah tetua di kampung tersebut.


Saat ini, orang itu sedang di rawat dengan sangat baik oleh anak gadis dari tetua kampung yang cantik. Dan karena perawatan yang sangat baik itu, orang tersebut telah pun sadar dari pingsannya.


"Agh! Auh ... di mana aku ini?" Sambil menggerakkan tubuh yang terasa sakit-sakitan, Jaka berusaha memperhatikan keadaan sekeliling dengan perasaan cemas.

__ADS_1


Ya, dia adalah Jaka. Dia ditemukan oleh orang kampung yang ingin menangkap ikan di selat tersebut. Karena arus yang kuat, dia terseret jauh sampai ke kampung itu.


"Kamu ... sudah sadar?" tanya si gadis cantik dengan mata bening dan rambut hitam panjang bergelombang.


__ADS_2