Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 37


__ADS_3

Ucapan itu membuat Jesi terpaku. Ada dua rasa yang kini menguasai hatinya. Yang pertama, rasa sangat bahagia akan ajakan Jona barusan. Tapi, ada rasa lain yang langsung membuatnya merasa sedih. Itu adalah, perjanjian antara dia dengan mama Jona yang mau tidak mau harus dia tepati.


'Aku sangat ingin menerima ajakan kamu untuk tinggal di rumah lain, Jo. Tapi ... ada hal yang tidak kamu ketahui dari aku. Perjanjian antara aku dengan mama kamu tidak mungkin bisa aku lepaskan.'


'Aku berjanji untuk merawat kamu sampai sembuh. Aku membuat keputusan sendiri agar kamu bisa sembuh seperti sedia kala tanpa ada hambatan dari mama kamu. Aku bertindak sesuka hatiku karena aku kasihan padamu. Jadi kamu tidak mudah. Jika kamu tidak sembuh, maka kamu akan tetap berada dalam kesepian setiap saat. Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu. Pada orang baik seperti kamu.'


Jesi terus mematung karena apa yang dia pikirkan. Sedangkan Jona, dia langsung bangun dari baringnya akibat melihat reaksi Jesi yang tidak seperti yang dia harapkan.


"Ada apa, Je? Kenapa kamu membisu? Apa kamu tidak ingin meninggalkan rumah ini?"


"Tunggu! Apa kamu pikir aku tidak bisa membeli rumah untuk kamu? Meskipun aku sudah lama tidak bekerja, tapi aku masih punya uang, Jesika. Jika hanya untuk membeli satu rumah buat kamu. Aku masih sanggup kok."


"Ya ... meskipun tidak akan sebesar rumah yang kita tinggali ini. Tapi aku jamin, rumah yang akan aku beli buat kamu itu juga masih layak untuk disebut mewah."


Ucapan demi ucapan membuat Jesi tidak bisa membendung air mata lagi. Perlahan, air matanya mengalir dengan deras melintasi kedua pipi.


Tentu saja Jona langsung terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia langsung menyeka air mata itu dengan cepat.


"Ada apa, Jesi? Kenapa kamu malah menangis? Apa aku ada salah bicara tadi?" Jona berucap gugup dengan perasaan yang sangat bersalah.

__ADS_1


"Tidak, Jo. Kamu tidak salah. Ini bukan air mata sedih karena hati yang luka. Tapi, air mata haru karena hati yang bahagia."


"Kamu sangat perhatian padaku. Aku tidak tahu harus bilang apa padamu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Kita tidak bisa pergi dari rumah ini. Karena .... "


Jesi menggantung kalimatnya. Hal tersebut membuat Jona sangat penasaran.


"Karena apa?"


"Karena mama kamu pasti akan semakin membenci aku, Jo. Dia akan menuduh aku yang memisahkan anak dari ibunya."


"Jona. Mama kamu terlalu sayang padamu sampai tidak ingin kamu aku rebut. Dia merasa kamu lebih dekat denganku, maka dari itu dia selalu marah ke aku. Dia berpikir, aku telah merebut kamu."


"Tapi Je .... "


Ucapan itu langsung membuat Jona melemah. Dia pun kembali merebahkan tubuh ke pangkuan Jesika.


"Lalu ... bagaimana dengan kamu, Je? Bagaimana dengan perasaan kamu yang selalu tersakiti, hm?"


"Aku?"

__ADS_1


"Iya. Kamu."


"Siapa bilang aku selalu tersakiti? Aku ini wanita kuat, Jonathan Wijaya. Tidak gampang bisa merasa sedih atau tersakiti. Kamu tenang saja. Wanita mu ini adalah wanita tangguh."


Jesi berucap dengan nada yang penuh penekanan. Berharap, bisa membuat Jona merasa yakin dengan apa yang dia katakan.


Dan, harapan itupun terkabulkan. Jona terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Entah karena memang benar-benar yakin, atau hanya sedang berusaha yakin supaya Jesi senang saja. Yang jelas, kali ini, Jona tidak lagi memaksa Jesi untuk berterus terang padanya.


Beberapa saat lamanya, mereka saling diam. Hingga Jesi menyadari satu hal. Pria yang berada di atas pangkuannya, kini sudah terlelap dengan indah.


Saat melihat Jona tertidur di atas pangkuannya, Jesi tidak bisa menahan diri untuk tidak membelai Jona. Tangannya entah kenapa bisa sangat ringan, seolah-olah bertindak atas kemauan sendiri. Tangan itu langsung membelai rambut Jona dengan sendirinya.


"Andai aku bisa, Jo. Aku ingin tetap berada di samping kamu. Menemani kamu sebagai istrimu yang sesungguhnya. Hidup bahagia hingga sampai ke hari tua."


"Tapi ... aku tidak bisa sepertinya. Karena keadaan yang tidak menginginkan. Diantara kita ada jarak pemisah yang terlalu lebar sampai aku merasa sangat sulit untuk menghilangkan jarak itu, Jonathan Wijaya."


Jesika menyeka air matanya yang jatuh. Rasanya, itu sangat sakit. Memikirkan semua kenyataan, membuat Jesi merasa sangat rapuh.


Dia ingin tetap bertahan. Tapi ada orang yang tidak mengizinkan keinginannya itu. Dan jika dia paksakan, maka orang tersebut mungkin akan merusak harapan yang selama ini susah payah dia kejar.

__ADS_1


"Semoga Tuhan memahami dan memberikan kita jalan yang paling baik, Jona." Jesi berucap lagi dengan nada lirih sambil menutup mata.


Dia pun menyadarkan kepalanya di atas sandaran sofa empuk yang dia duduki. Lalu, mencoba memejamkan mata untuk menyusul Jona yang sudah terlelap beberapa saat sebelumnya.


__ADS_2