Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 94


__ADS_3

Hampir dua minggu Jesi tidak pulang ke kediaman Kusuma. Dia menetap di kediaman Wijaya untuk merawat Jona dengan sepenuh hati.


Namun, karena dia tidak pulang, kedua orang tuanya begitu antusias untuk menjenguk sang anak. Hampir setiap hari juga mereka datang untuk melihat keadaan Jesi di kediaman Wijaya. Dan, kedatangan mereka selalu di sambut hangat oleh si pemilik rumah.


Tapi kali ini, Sean dan Marisa juga ikut datang. Entah apa sebabnya, mereka tiba-tiba berinisiatif untuk ikut buat melihat keadaan Jona. Sahabat yang telah mereka lupakan begitu saja sampai membuat Jona jadi sakit mental karena ulah mereka.


Ketika pertama kali masuk ke dalam rumah, Sean dan Marisa tentu saja langsung mendapatkan sambutan yang kurang menyenangkan. Karena ada banyak mata yang menatap tajam ke arah mereka berdua.


Tapi, sepertinya Sean dan Marisa tidak ingin ambil pusing. Mereka malah mengabaikan saja tatapan tajam itu. Mereka terlihat santai seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.


Namun, ada salah satu pelayan langsung mendatangi kamar Jona untuk menyampaikan berita pada Jesika. Mereka tidak ingin hal buruk terjadi pada tuan muda mereka lagi. Mereka takut, jika pertemuan ini akan membuat guncangan untuk mental Jona. Guncangan yang mungkin akan membuat Jona jadi kambuh dan brutal kembali.


Tentu saja Jesi agak kaget. Karena apa yang pelayan itu pikirkan sama dengan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Apa!? Kenapa mereka bisa datang ke sini? Apa mereka sengaja ingin merusak keadaan?" Jesi berucap kesal. Tanpa dia sadari, kalau saat ini dia sedang bersama dengan Jona. Dan, otomatis Jona mendengar juga melihat dengan sangat baik ekspresi yang dia tunjukkan saat mengucapkan kalimat barusan.

__ADS_1


Karena ucapan itu, Jona pun langsung menutup buku yang awalnya dia baca.


"Ada apa, Je? Siapa yang datang? Kenapa ekspresi wajahmu terlihat sangat tidak enak, hm?"


Jesi yang baru sadar akan hal itu, langsung memasang wajah tenang. Dengan senyum manis yang terlihat sangat canggung, dia berharap bisa mengelabui Jona dan membuat Jona merasa tenang.


"Tidak ada, Jo. Tidak ada apa-apa. Hanya ... hanya seseorang yang tidak aku harapkan kedatangannya saja."


"Kamu yakin? Seseorang itu tidak ada hubungannya dengan aku?" tanya Jona sambil menatap Jesi dengan tatapan penuh selidik.


Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Tidak ada kata yang terucap selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Jona menarik tangan Jesi dan menggenggamnya dengan lembut.


"Katakan yang sejujurnya saja. Aku pasti bisa menerima apapun yang kamu katakan. Jujur, aku suka kejujuran diantara kita, Je. Meski pahit di awal, tapi tidak akan menyakitkan diakhir. Karena itu, kejujuran adalah hal yang paling berharga dalam hidup."


Jesi terus menatap manik mata Jona dengan penuh kelembutan. Sekarang, setelah mendengarkan apa yang Jona ucapkan barusan, maka dia sudah membulatkan tekat untuk selalu berkata jujur.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bicara dengan jujur. Tapi, kamu harus janji tidak akan membantah apa yang aku katakan. Bagaimana? Apa kamu setuju, Jonathan Wijaya?"


"Baiklah, nona Jesika. Aku setuju. Katakan saja dengan hati-hati supaya jantungku ini terap baik-baik saja." Jona berucap sambil tersenyum manis. Satu tangan dia letakkan di atas dadanya.


"Drama mu mas Jona. Tapi baiklah, aku akan katakan sekarang. Di bawah, ada tamu yang tidak kita undang datang. Dia ... dia adalah Sean dan Marisa. Orang yang .... "


"Untuk apa mereka datang?" tanya Jona langsung memotong perkataan Jesi dengan cepat. Mimik wajahnya juga berubah sekarang.


Karena perubahan itu, Jesi tiba-tiba merasa sangat cemas. Dia genggam erat kedua tangan Jona agar hal buruk tidak terulang kembali. Karena Jesi masih mengingat dengan baik bagaimana Jona mengamuk untuk yang pertama kalinya waktu mereka baru mengenal satu sama lain. Karena itu, perasaan takut akan hal itu masih sangat pekat.


"Jo, jangan kesal lagi. Aku mohon, jangan memikirkan soal mereka lagi. Kamu sudah berjanji untuk mendengarkan apa yang aku katakan, bukan? Jadi tolong, jangan kecewakan aku Jonathan Wijaya," ucap Jesi dengan nada penuh harap dan cemas.


Sontak, ucapan itu langsung membuat Jona menatap Jesi dengan penuh rasa bersalah. Dia pun dengan cepat membelai rambut Jesi.


"Hei ... apa yang kamu katakan, hm? Aku tidak kesal sekarang. Apalagi, kesal karena memikirkan mereka. Tidak akan lagi. Jadi, jangan takut dan jangan pernah berpikir akan hal itu, Jesi ku." Jona berucap sambil menyentuh hidung Jesi dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2