
Namun, sekali lagi, jawaban Jona bikin Jesi melongo akibat tak percaya. Karena Jona sama sekali tidak bertingkah aneh seperti yang Jesi bayangkan sebelumnya.
"Aku tidak marah pada kalian. Karena kalian adalah masa lalu, jadi aku tidak ingin mengingat kalian lagi. Masa lalu, sudah seharusnya aku lupakan. Karena aku harus menata masa depan dengan baik agar tidak rusak seperti yang telah aku terima di masa lalu."
"Untuk itu ... aku tidak ingin ada hubungannya lagi dengan kalian. Aku tidak marah pada kalian, tapi hanya ingin hidup bahagia tanpa ada kalian sebagai masa lalu saja."
"Jo-- Jona .... " Jesi memanggil nama Jona dengan terbata-bata. Sungguh, dia sangat kaget dengan hal ini. Karena Jona benar-benar bisa bangkit dari keterpurukan masa lalu yang dulunya membuat hidup Jona hancur.
"Iya, Sayang. Ada apa?" Jona melihat Jesi dengan tatapan penuh kasih.
Hal itu seperti sebuah goresan untuk hati Marisa. Entah kenapa, dia tiba-tiba menyadari satu hal. Yaitu, sebuah penyesalan atas pilihan yang salah.
"Nggak. Ee ... maksudku, tidak ada apa-apa."
"Apa kalian bisa pergi sekarang? Suamiku ingin istirahat secepatnya," kata Jesi pada Sean dan Marisa. Dia berkata seperti itu karena merasa sudah sangat kesal dengan dua makhluk yang tidak punya muka. Tidak pergi-pergi juga, padahal sudah diusir sejal tadi.
"Oh, iya. Kami pergi sekarang."
"Ayo, Sha. Kita pergi dari sini." Sean berucap sambil menarik tangan Marisa.
__ADS_1
"Ta-- tapi .... " Namun, sepertinya Marisa masih enggan untuk pergi. Dia terlihat sangat tidak rela untuk meninggalkan kamar Jona saat ini.
"Marisa, apa kamu tidak dengar kalau mereka sudah mengusir kita dua kali? Kamu masih ingin tetap di sini itu untuk apa? Untuk bicara hal apa lagi? Apa masih ada yang ingin kamu katakan pada Nathan?"
"Ti-- tidak. Tidak ada. Ayo pergi!" ucap Marisa dengan nada yang agak berat. Namun, dia tetap melangkah mengikuti suaminya dari belakang.
Tapi, baru juga beberapa langkah Sean dan Marisa berjalan, Sean malah langsung menghentikan langkah kakinya. Dia langsung menoleh ke arah Jona dan Jesika kembali.
"Oh ya, adikku. Jika suamimu ini sudah sembuh, sebaiknya kamu ajak dia main ke rumah keluarga Kusuma. Karena kamu adalah pewaris sah satu-satunya keluarga Kusuma Diningrat. Jangan lupa akan hal itu ya," ucap Sean sambil tersenyum menyeringai.
Senyuman yang seolah-olah sedang merendahkan Jona. Karena sambil berucap, Sean terus memandang ke arah Jona. Bahkan, senyuman seringai itu juga ia berikan pada Jona.
"Kak Sean tenang saja. Aku pasti akan bawa suamiku pulang ke rumah orang tuaku. Tanpa harus kakak ingatkan, aku sudah ingat siapa aku. Jadi, kak Sean tidak perlu repot-repot untuk mengingatkan."
"Tapi sebaliknya, aku ingatkan pada kakak. Kalau kakak sekarang sudah punya keluarga. Jadi, sebaiknya kakak jaga saja keluarga kakak. Tidak perlu menjaga orang lain karena keluarga kakak saja tidak beres dalam penjagaan kakak."
Seketika, wajah Sean berubah jadi tidak enak. Dia langsung meninggalkan kamar itu dengan wajah kesal yang terlihat dengan sangat jelas.
Pintu kamar tertutup rapat kembali setelah kepergian Sean dan Marisa. Jesi yang awalnya terlihat sangat tegas saat bicara dengan Sean, kini langsung mengubah ekspresi wajahnya yang tegas menjadi cemas.
__ADS_1
Dia langsung melirik Jona yang sedari tadi terdiam tanpa kata. Genggaman tangan Jona pun kini langsung melemah setelah kepergian Sean dan Marisa.
Hal itu tentu saja membuat Jesi jadi cemas. Dia takut sekali, kalau-kalau, Jona tiba-tiba hilang kendali. Meskipun sebelumnya Jona terlihat baik-baik saja, tapi tidak menutup kemungkinan, hal buruk akan terjadi setelah ketenangan itu mulai hilang.
"Jona." Jesi memanggil nama Jona sambil menyentuh tangan Jona dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak perlu cemas dengan keadaanku saat ini. Karena aku ... sangat baik setelah bertemu dengan mereka," ucap Jona langsung dengan senyum tipis di bibirnya.
Dia pun menoleh sesaat untuk melihat Jesi. Tapi sedetik kemudian, dia kembali lagi menatap lurus ke depan.
"Kamu tahu, aku tidak percaya kalau aku bisa bicara seperti tadi pada mereka berdua. Ternyata, aku bisa menguasai diriku dengan baik berkat bantuan kamu, Je."
Jona kembali mengalihkan pandangannya ke arah Jesi. "Kamu tahu, kamu adalah obat terbaik untuk sakit mental ku ternyata. Terima kasih atas bantuan yang kamu berikan. Kehangatan yang kamu salurkan membuat aku bisa menguasai diri dengan baik. Terima kasih banyak, Sayang." Jona berucap sambil mengukir senyum manis di bibirnya lagi. Kali ini, dia juga meletakkan tangannya di atas tangan Jesi.
______________________________________________
Catatan.
"Maaf untuk komen yang belum sempat aku balas. Karena sekarang, aku cukup sibuk ya teman-teman. Tapi, setelah aku punya banyak waktu luang, aku akan balas komen kalian."
__ADS_1