
Mila pun tersambung dengan orang yang sudah dia siapkan sebelumnya. Itu adalah ketua geng hitam yang sebelumnya menjadi incaran polisi karena telah melakukan berbagai macam kasus kejahatan.
Untuk bisa bekerja sama dengan ketua geng tersebut, Mila tidak segan-segan mengorbankan apa yang paling berharga dalam hidupnya. Bagi Mila, yang paling penting itu adalah, dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tujuannya harus tercapai, tidak kira seperti apa cara agar bisa meraihnya. Karena cara tidak penting. Yang terpenting itu hanya hasilnya saja.
Jadi, saat pilihan mengorbankan diri ada di depan mata. Dia tanpa pikir panjang lagi langsung saja meraihnya. Tanpa dia pertimbangkan terlebih dahulu, baik atau buruknya.
Sementara ketua geng tersebut tidak lagi muda. Dia pria dewasa yang sudah berumur dan lebih mirip om-om yang mungkin sudah punya anak remaja atau bahkan, mungkin sudah punya cucu sekarang.
Tapi Mila tidak merasa keberatan menyerahkan dirinya dengan pria seperti itu. Dengan imbalan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, dia tidak merasa terbebani sedikitpun.
Dan, apa yang ketua geng itu janjikan memang benar. Sekarang, dia tanpa pertimbangan langsung menyanggupi apa yang Mila katakan. Setelah menanyakan plat mobil yang Jesi tumpangi, panggilan via telepon itupun langsung saja diakhiri.
"Semuanya sudah beres, tante. Sekarang, kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja." Mila berucap sambil tersenyum lebar.
Dia merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak? Setelah menanti sekian lama, akhirnya dia punya kesempatan bagus untuk menyingkirkan Jesika segera dari muka bumi ini.
'Tiba sudah waktumu untuk pergi, Jesika! Kakak ku tersayang. Semoga tidak ada kesempatan untuk kita bertemu lagi.' Mila berucap dalam hati.
__ADS_1
Sementara mama Jona yang mendengar ucapan dari Mila barusan juga merasa lega. Dia kini bisa bernapas dengan sedikit lega meskipun rencana itu belum ada kabar bahagianya sama sekali.
Di sisi lain, tepatnya di jalan pusat kota yang ramai. Di mana mobil yang Jesi tumpangi sedang melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba saja ada dua mobil yang menghampiri mobil mereka.
Kedua mobil itu berusaha terus membuat jalan mobil yang Jesi tumpangi jadi tidak karuan. Si sopir jadi serba salah akibat kedua mobil yang berada di sisi kanan dan kiri mobil mereka.
Hal tersebut membuat Jesi dari khawatir. Dia juga mendadak merasa tidak enak hati akan keberadaan mobil yang mereka anggap usil tersebut.
"Ada apa ini, pak? Kenapa mobil itu terus membuntuti mobil kita? Apa yang mereka inginkan?" tanya Jesi cemas.
"Menghindar lah dari mereka, pak. Saya tidak ingin mereka terus berada di sisi kita," ucap Jesi dengan nada yang masih sangat cemas.
"Maaf, nona. Sepertinya tidak bisa. Kita tidak punya celah untuk menghindar. Jika kita berhenti, mobil yang ada di belakang kita akan bertabrakan dengan mobil kita. Jika kita melaju, mereka yang usil ini akan mengejar kita dengan mudah. Lalu, untuk kedua sisi pula, ada mereka berdua. Bagaimana bisa kita menghindar sekarang? Mereka tidak membiarkan kita lolos sepertinya."
Ucapan pak sopir membuat Jesi semakin gelisah. Jesi terus memperhatikan sekeliling. Apa yang pak sopir katakan memang benar, tidak ada sedikitpun sisi yang bisa membuat mobil yang dia tumpangi lolos.
Beberapa saat berada di jalan dengan keadaan yang genting. Akhirnya, kedua mobil tersebut berhasil mengiring mobil yang Jesi tumpangi ke jalan yang terbilang cukup sepi.
__ADS_1
Tentu saja hal tersebut semakin membuat Jesika merasa cemas. Dalam keadaan genting itu, dia ingat untuk mengabari Jona. Tapi sayang, ponsel yang dia punya tiba-tiba tidak ada di dalam tasnya.
"Ya Tuhan, ke mana perginya ponselku?" Jesi berucap dengan nada panik sambil menggubrak-abrik isi dari tasnya.
Tapi, beberapa saat kemudian dia ingat kalau ponselnya dia tinggalkan di kamar. Dia lupa membawa benda penting itu karena terlalu bahagia dan tidak sabar untuk bertemu dengan Jona secepatnya.
"Ya ampun, bagaimana aku bisa teledor seperti ini," ucap Jesi lagi sambil memegang jidatnya.
"Ada apa, nona? Apa yang membuat nona begitu sibuk?" tanya pak sopir di sela-sela perhatiannya dengan jalan yang mereka lewati.
"Aku lupa membawa ponsel, pak. Aku harus segera menghubungi Jona. Aku akan bilang apa yang sedang kita hadapi pada Jona sekarang juga."
"Apa aku boleh pinjam ponsel bapak?" tanya Jesi dengan penuh semangat.
"Ya Tuhan, ponsel saya tidak ada baterainya, nona. Sementara charger nya saya tinggalkan di rumah. Saya lupa mengisi daya ponsel tadi malam."
Ucapan itu langsung membuat Jesi kehilangan semangatnya kembali. Pupus sudah harapan sekarang. Dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan jika mereka ada dalam masalah.
__ADS_1